Bandung, OG Indonesia -- Institut Pemerintahan Dalam Negeri (IPDN) menyelenggarakan sesi pleno internasional bertajuk “Bandung di Usia 70: Membangun Dunia Kembali”, dalam rangka memperingati 70 tahun Konferensi Asia-Afrika 1955. Dengan menghadirkan para cendekiawan dan pakar terkemuka dari Asia, Afrika, Eropa, dan Amerika, acara ini mengobarkan kembali Semangat Bandung sebagai landasan untuk menata kembali kerja sama global di tengah krisis geopolitik saat ini.
Sidang pleno yang dipimpin oleh Prof. Darwis Khudori (Université Le Havre Normandie, Prancis) dan diketuai bersama oleh Prof. Nurliah Nurdin (IPDN, Indonesia) dan Dr. Baskara Wardaya (PRAKSIS, Indonesia) ini menghadirkan para pemikir berpengaruh seperti Manoranjan Mohanty (India), Connie Rahakundini Bakrie (Indonesia/Rusia), Qing Shi (Tiongkok), Fulufhelo Netswera (Afrika Selatan), Beatriz Bissio (Brasil/Uruguay), Olga Volosyuk (Rusia), dan Bruno Drweski (Polandia/Prancis).
Prof. Connie Rahakundini Bakrie menekankan bahwa warisan Bandung tetap vital dalam membentuk kembali tatanan dunia. “Visi Soekarno tentang Gerakan Non-Blok tetap kuat, sebuah semangat perubahan peradaban yang mendorong kita untuk membangun kesadaran kolektif di mana BRICS menjadi kekuatan dan ASEAN menjadi pemikiran," ucapnya.
Senada dengan itu, Prof. Mohanty dari India mendesak hubungan internasional yang berpusat pada rakyat, dengan menyatakan bahwa dunia harus, “Memperkuat PBB sebagai lembaga global yang demokratis dan mendukung BRICS serta inisiatif Selatan-Selatan.”
Dari perspektif Eurasia, Prof. Olga Volosyuk menarik garis sejarah langsung dari Konferensi Bandung ke aliansi BRICS, dengan mencatat bahwa moto kelompok tersebut, “Membangun Dunia yang Lebih Baik Bersama”, menggemakan impian Sukarno tentang keadilan dan kesetaraan antarbangsa.
Cendekiawan Amerika Latin Beatriz Bissio menggarisbawahi relevansi pesan anti-imperialis Bandung yang berkelanjutan, menyayangkan dampak Doktrin Monroe yang masih berlanjut di wilayahnya. "Bentuk internasionalisme baru yang berbasis pada rakyat, bukan negara,” tegasnya.
Mewakili Afrika, Prof. Fulufhelo Netswera menekankan urgensi untuk mengubah kata-kata menjadi tindakan. “Kita, masyarakat di belahan bumi selatan, harus memastikan hari esok adalah dunia yang lebih baik daripada yang kita warisi dari para pendahulu kita di Bandung 1955,” tuturnya.
Sementara itu, cendekiawan Tiongkok Qing Shi menyerukan front persatuan untuk kerja sama Selatan-Selatan dan mendesak dunia untuk keluar dari kerangka pengetahuan kolonial dan membangun kembali.
Dalam sambutan penutupnya, Prof. Darwis Khudori menegaskan kembali bahwa Semangat Bandung bukan sekadar kenangan sejarah, melainkan filosofi hidup untuk keadilan global. Dia mengatakan,70 tahun setelah Konferensi Asia–Afrika bersejarah tahun 1955, Semangat Bandung terus menerangi dialog global tentang keadilan, perdamaian, dan kerja sama.
"Apa yang bermula sebagai deklarasi kemerdekaan dan solidaritas bangsa-bangsa tertindas kini telah berevolusi menjadi kompas moral hidup bagi abad ke-21 — seruan untuk membangun kembali dunia yang lebih adil, aman, dan sadar," ujar Prof. Darwis Khudori.
Dia menambahkan, ketika UNESCO menetapkan arsip Konferensi Bandung (1955), Pidato Soekarno di PBB (1960), dan KTT Gerakan Non-Blok di Beograd (1961) ke dalam Memory of the World, ketiga tonggak ini bukan lagi sekadar sejarah — melainkan mandat untuk masa depan.
Konferensi ditutup dengan peluncuran buku simbolis, "Membangun Kembali Dunia dalam Perspektif Global," yang memperkuat komitmen IPDN untuk memupuk kolaborasi intelektual dan inovasi kebijakan di seluruh belahan bumi selatan.
Hakikat
Bandung: Prinsip, Semangat, dan Mimpi
Sepuluh
Prinsip Bandung (Dasasila Bandung) tetap menjadi landasan etika bagi hidup
berdampingan secara damai: saling menghormati, kesetaraan, tidak saling
mencampuri urusan dalam negeri, dan kerja sama.
Sementara itu, Semangat Bandung mencerminkan
lima cita-cita luhur — Perdamaian, Kemerdekaan, Kesetaraan, Solidaritas, dan
Emansipasi.
Dari nilai-nilai inilah lahir Mimpi Bandung —
sebuah visi tentang Kemakmuran Global Berkelanjutan yang berakar pada
Perdamaian, Keadilan, Kerja Sama, Solidaritas, dan Keberagaman.
Landasan moral ini membentuk Konstelasi Bandung yakni kumpulan negara-negara dan lembaga-lembaga yang mengacu kepada Semangat Bandung, seperti Gerakan Non-Blok (GNB), Uni Afrika (AU), UNCTAD, G77, ASEAN, FOCAC, TICAD, SCO, hingga BRICS+, yang bersama-sama meneruskan warisan Bandung ke dalam tatanan dunia multipolar yang tengah berkembang.
Tantangan dan Peluang Baru di Dunia yang
Terfragmentasi
Tujuh puluh tahun setelah Bandung, dunia kembali berada di persimpangan kritis.Perang, krisis iklim, hegemoni digital, dan ketimpangan ekonomi kini menguji idealisme para pendiri Bandung.
Bangsa-bangsa dalam “Konstelasi Bandung” —
para pewaris moral tahun 1955 — kini menghadapi lima instrumen dominasi modern:
1. Penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi
2.
Penguasaan informasi dan media
3.
Penguasaan sistem keuangan global
4.
Penguasaan teknologi militer dan senjata pemusnah massal
5. Penguasaan
sumber daya alam
Namun di balik tantangan tersebut, tersimpan peluang besar: Kebangkitan Asia.
Kebangkitan
Asia: Dari Pinggiran Menjadi Pusat Kekuatan
Pada tahun
1970, Asia adalah benua termiskin di dunia. Namun pada 2016, kontribusinya
terhadap PDB global meningkat dari kurang dari 10% menjadi 30%, dan pendapatan
per kapitanya mulai mendekati rata-rata dunia.
Menurut
proyeksi PwC, pada tahun 2050 tujuh dari sepuluh ekonomi terbesar dunia akan
berasal dari negara-negara yang berhaluan Semangat Bandung — Tiongkok, India,
Indonesia, Jepang, Brasil, Rusia, dan Meksiko.
Kebangkitan
Asia bukan hanya ekonomi, tetapi juga ilmiah, teknologi, dan geopolitik.
Negara-negara Asia telah maju dalam bidang AI, energi terbarukan, antariksa,
dan inovasi pertahanan.
Ekonomi BRICS kini secara kolektif melampaui G7, menandai berakhirnya dominasi unipolar dan lahirnya tatanan dunia polycentric (berpusat majemuk).
Bandung
ke-70: Konferensi dan Peringatan di Empat Kota
Untuk merefleksikan transformasi ini, Konferensi Peringatan 70 Tahun Konferensi Asia–Afrika (Bandung 1955) diselenggarakan dengan tema: “Bandung 70: Tantangan dan Peluang untuk Membangun Dunia Kembali.”
- Bandung/Jatinangor (28–29 Oktober 2025) — diselenggarakan oleh Institut Pemerintahan Dalam Negeri (IPDN)
- Surabaya (30–31 Oktober 2025) —
diselenggarakan oleh Sekolah Pascasarjana Universitas Airlangga
- Blitar (1 November 2025) — Ziarah
ke Makam Bung Karno dan Seminar “Warisan Global Soekarno”
- Yogyakarta (2–5 November 2025) — Festival Keberagaman Budaya, diselenggarakan bersama Institut Seni Indonesia Yogyakarta, merayakan keberagaman budaya bersemangat Bandung
Konferensi
ini akan menghadirkan lebih dari 50 cendekiawan dan pembuat kebijakan dari 32
negara di Afrika, Asia, Eropa, dan Amerika — merepresentasikan Konstelasi
Bandung yang diperbarui.
Mereka akan mendiskusikan apakah Kebangkitan Asia merupakan replikasi ekspansionisme Barat, atau kebangkitan kembali peradaban etis dan kooperatif. Sebuah peluang baru untuk “membangun dunia yang baru,” sebagaimana diimpikan Soekarno di PBB tahun 1960.
Pesan
Penutup
“Semangat Bandung bukanlah nostalgia; ia adalah kesadaran yang hidup. Ia mengingatkan umat manusia bahwa keadilan dan perdamaian tidak diwariskan — keduanya harus dibangun kembali dengan kebijaksanaan.” pungkas Prof. Connie Rahakundini Bakrie. RH



