Yogyakarta, OG Indonesia -- Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengembangkan inovasi pemanfaatan biomassa hutan sebagai sumber bahan bakar nabati (BBN) atau biofuel guna mengurangi ketergantungan terhadap impor bahan bakar minyak (BBM). Salah satu komoditas yang diteliti adalah jenis tanaman nyamplung (Calophyllum inophyllum) yang merupakan spesies asli Indonesia sebagai sumber bioenergi potensial dari hutan.
Riset yang telah dilakukan BRIN mencakup aspek perbenihan, teknik silvikultur intensif dan pemuliaan pohon untuk peningkatan produktivitas biji, serta peningkatan rendemen minyak dan teknologi pengolahan crude oil menjadi biofuel agar memenuhi standar teknis dan keekonomian sebagai alternatif BBM.
“Minyak nyamplung atau Tamanu crude Oil (TCO) berpotensi besar untuk diproses menjadi bahan baku biofuel atau bakar ramah lingkungan seperti biokerosin, biodiesel, dan bioavtur/sustainable aviation fuel (SAF),” kata Peneliti Pusat Riset Botani Terapan BRIN, Budi Leksono, Senin (16/2/2026).
Menurut Budi, pendekatan ini tidak dimaksudkan untuk mengeksploitasi hutan, melainkan mengoptimalkan biomassa dari sistem pengelolaan hutan berkelanjutan berbasis sains.
Selain berpotensi tinggi sebagai bahan baku biofuel non-pangan (non-edible oil) dan berbuah sepanjang tahun, limbah industri biofuel dari tanaman nyamplung, seperti cangkang buah, bungkil biji, resin/gum, gliserol, dll., dapat dimanfaatkan atau diolah menjadi produk bernilai ekonomi tinggi seperti arang aktif dan pelet dengan nilai kalor tinggi, pakan ternak dengan portein tinggi, biofarmaka (obat dan kosmetik herbal), sabun herbal, dll.
BRIN juga mendorong agar hasil riset tidak berhenti pada skala laboratorium, tetapi terhubung dengan kebijakan dan kebutuhan industri. “Teknologi konversi biomassa sudah banyak dikaji dan terbukti layak secara teknis. Tantangannya adalah bagaimana mempercepat hilirisasi dan memastikan dukungan kebijakan yang konsisten,” jelasnya.
Dalam konteks pengurangan impor BBM dan penguatan bauran energi nasional, Budi menyebut inovasi biomassa hutan dinilai strategis karena memanfaatkan sumber daya domestik yang melimpah, memberikan nilai tambah ekonomi di dalam negeri, mendukung pengurangan emisi karbon dan komitmen transisi energi bersih, serta memperkuat ketahanan energi berbasis sumber daya hayati menuju kemandirian energi nasional.
Budi menambahkan, Indonesia memiliki potensi energi terbarukan yang besar dari sumber daya hutan tropis. “Indonesia sebenarnya tidak kekurangan energi. Kita hanya belum optimal memanfaatkan potensi biomassa hutan sebagai sumber energi terbarukan,” tambahnya.
Menurutnya, pengembangan biomassa hutan menjadi biofuel merupakan bagian dari agenda riset dan inovasi (risnov) BRIN di bidang energi baru dan terbarukan. Melalui pendekatan multidisiplin, BRIN mengembangkan inovasi dari hulu hingga hilir, mulai dari aspek budi daya tanaman penghasil bioenergi, optimalisasi produktivitas, hingga rekayasa proses konversi menjadi bahan bakar cair yang efisien dan ramah lingkungan.
Momentum transisi energi nasional menjadi peluang penting untuk menempatkan BBN berbasis tanaman hutan sebagai bagian dari peta jalan energi Indonesia. Melalui risnov yang terintegrasi dan kolaborasi antara lembaga riset, pemerintah, serta industri, BRIN berupaya menghadirkan solusi energi yang berkelanjutan dan berbasis keunggulan hayati Indonesia.
"Kemandirian energi itu realistis dan merupakan suatu keniscayaan. Kita memiliki sumber daya dan kapasitas ilmiah yang memadai. Yang dibutuhkan adalah konsistensi riset, inovasi, dan sinergi kebijakan. Hal ini juga membuka peluang Indonesia untuk kembali menjadi negara produsen atau pengekspor minyak, kalau dulu eksportir BBM maka ke depan dalam bentuk BBN,” pungkas Budi. RH
Reviewed by Ridwan Harahap
on
Kamis, Februari 19, 2026
Rating:




