Banda Aceh, OG Indonesia -- Badan Pengelola Migas Aceh (BPMA) mengungkapkan bencana banjir yang melanda Aceh pada November 2025 lalu turut memengaruhi kegiatan produksi minyak dan gas bumi (migas) dari Bumi Rencong.
“Banyak jaringan pipa yang rusak dan bocor. Beberapa fasilitas di wilayah seperti Aceh Timur juga belum bisa dimasuki, sehingga pekerja tidak dapat beraktivitas,” kata Nasri, Kepala BPMA dalam acara Aceh Upstream Oil & Gas Supply Chain Management (SCM) Summit 2026 di Banda Aceh, Aceh, Senin (2/2/2026).
Kepala BPMA mencontohkan, salah satu fasilitas produksi yang terdampak adalah fasilitas PT Medco E&P Malaka di Aceh Timur. Di mana pipanya mengalami kebocoran dan saat ini dalam proses perbaikan.
Nasri menegaskan, saat ini pihaknya terus mengupayakan pemulihan jaringan produksi migas yang rusak akibat bencana hidrometeorologi tersebut. "Target kita paling lambat Maret. 1 Maret kita sudah bisa on-stream kembali," ucapnya.
Dia menambahkan, terhentinya produksi migas cukup berpengaruh langsung terhadap penerimaan negara, khususnya Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP), termasuk berdampak pada pendapatan Provinsi Aceh.
“Ketika tidak berproduksi, artinya tidak ada minyak dan gas yang dijual. Otomatis tidak ada penerimaan negara bukan pajak, dan itu berpengaruh pada pendapatan Aceh,” terangnya. RH
Reviewed by Ridwan Harahap
on
Senin, Februari 02, 2026
Rating:




