Dari Lahan Mati Jadi Apotek Hidup: Kisah Murni Menjaga Warisan Kesehatan Dunia di Duri

Murni (36), Ketua Kelompok Dasawisma Bumi Hijau RW 29 (kiri), menunjukkan hasil panen di kebun ketahanan pangan dan TOGA (Jahe Merah, Jahe Putih, Kunyit, dan Terong) yang dikelola.

Bengkalis, OG Indonesia --
Di sudut pekarangan rumah warga, aroma rimpang jahe yang baru dipangkas menyeruak di udara pagi yang lembap. Bagi banyak orang, ini hanyalah aroma bumbu dapur. Namun bagi Murni (37), Ketua Kelompok PKK setempat, aroma itu adalah wangi kemandirian. Baginya, tanaman liar yang sering disepelekan sejatinya adalah penjaga nyawa manusia.

Tepat hari ini, dunia merayakan Hari Kehidupan Liar Sedunia (World Wildlife Day) dengan tema "Tanaman Obat dan Aromatik: Melestarikan Kesehatan, Warisan, dan Mata Pencaharian." Tema global ini secara kebetulan memotret persis denyut nadi perjuangan Murni dan para ibu di Program Puteri Proklim Melayu Lestari.

Bagi masyarakat Melayu di Bengkalis, jahe merah, kunyit, dan rimpang lainnya adalah tabungan kesehatan warisan turun-temurun. Jahe dikenal membantu menghangatkan tubuh, meredakan gejala flu ringan, serta menjaga daya tahan saat cuaca tak menentu. 

Sementara kunyit kerap dimanfaatkan sebagai ramuan tradisional untuk membantu menjaga kesehatan pencernaan dan kebugaran tubuh. Namun, seiring modernisasi, pengetahuan tradisional ini perlahan memudar, tergerus oleh ketergantungan pada produk instan dan apotek kimia.

Peringatan World Wildlife Day mengingatkan kita bahwa 1 dari 4 obat-obatan modern bermula dari flora liar. Melalui inisiatif menanam kembali Jahe Putih, Jahe Merah, hingga Ompu Kunyit di lahan Fasilitas Umum (Fasum), Murni dan kelompoknya sebenarnya sedang melakukan aksi konservasi skala mikro. Mereka menyelamatkan ekosistem tanaman aromatik, sekaligus menyambung kembali rantai pengetahuan tradisional agar tidak putus di generasi mereka.

Perjalanan ini bermula dari keresahan. Lahan kosong di RW 29 Bumi Hijau, Kelurahan Air Jamban, dahulu hanya menjadi area tak bertuan yang ditumbuhi semak liar. Ada keinginan besar untuk memiliki kebun Tanaman Obat Keluarga (TOGA), namun keraguan selalu menang. Mereka cemas bibit dan tenaga akan mati sia-sia di atas tanah yang keras.

"Dulu lahan ini membisu melihat keraguan kami. Niat mandiri itu ada, tapi nyali kami ciut sebelum mencoba,” kenang Murni dengan senyum tipis.

Titik balik terjadi saat mereka mengikuti pelatihan dan pendampingan berkelanjutan dari PT Pertamina Hulu Rokan (PHR). Lewat sentuhan tangan para ibu ini, lahan yang semula mati kini "berbicara" lewat tunas-tunas hijau yang bermunculan. Murni dan kelompoknya mulai berani mengotori tangan. Mereka berjibaku dengan lumpur, belajar menyemai Jahe Putih, Jahe Merah, hingga Ompu Kunyit, serta merawat sayuran hortikultura dengan pupuk organik.

Hasilnya luar biasa. Secara kesehatan, warga kini memiliki akses cepat ke tanaman obat berkualitas tanpa harus pergi ke pasar. Secara ekonomi, pengeluaran rumah tangga berhasil ditekan, terutama saat harga rempah melambung tinggi. Lebih dari itu, anak-anak di lingkungan tersebut kembali mengenal wujud fisik tanaman obat yang dulu hanya mereka dengar dari cerita nenek moyang.

"Dulu lahan ini hanya tanah kosong yang kami lewati setiap hari, sekarang setiap tunas yang tumbuh di sini seperti mengingatkan bahwa kami juga bisa tumbuh dan berubah bersama," ujar Murni penuh haru.

Manager Community Involvement & Development (CID) PHR, Iwan Ridwan Faizal, mengaku tersentuh melihat ketangguhan para ibu di Bumi Hijau. Bagi Iwan, melihat Murni dan kawan-kawan berdaya adalah esensi pemberdayaan tertinggi: kemandirian pola pikir.

"Menyaksikan perjuangan Ibu Murni dan kawan-kawan adalah pelajaran tentang ketangguhan. Mereka membuktikan bahwa dari sepetak lahan jahe dan kunyit, kita bisa menjaga kesehatan keluarga sekaligus melestarikan warisan leluhur," ungkap Iwan.

Peringatan World Wildlife Day mengingatkan bahwa melestarikan flora liar dan obat-obatan adalah upaya menjaga napas kehidupan manusia. Di Bumi Hijau, Murni telah memulainya. Di tangan para perempuan yang gigih, sebatang tanaman obat memegang nilai yang jauh lebih tinggi dari sekadar harga jual di pasar; ia adalah warisan dan harga diri yang terus bertunas. RH

Dari Lahan Mati Jadi Apotek Hidup: Kisah Murni Menjaga Warisan Kesehatan Dunia di Duri Dari Lahan Mati Jadi Apotek Hidup: Kisah Murni Menjaga Warisan Kesehatan Dunia di Duri Reviewed by Ridwan Harahap on Selasa, Maret 03, 2026 Rating: 5
Diberdayakan oleh Blogger.