![]() |
| Christina Aryani, Wakil Menteri Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (ketujuh dari kiri) bertemu dengan Lena Maryana Mukti, Duta Besar RI untuk Kuwait (keenam dari kiri). |
Jakarta, OG Indonesia -- Pemerintah Republik Indonesia mendorong pembukaan peluang penempatan medium skilled worker di industri pendukung sektor oil and gas yang menjadi tulang punggung perekonomian Kuwait. Seperti diketahui, tenaga kerja Indonesia di Kuwait saat ini banyak terdapat di sektor migas, kesehatan, dan hospitality.
Hal tersebut disampaikan Wakil Menteri Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (P2MI), Christina Aryani, dalam pertemuan dengan Duta Besar Republik Indonesia untuk Kuwait, Lena Maryana Mukti, di Kantor Kementerian P2MI, Jakarta, Selasa (26/5/2026).
Dalam kesempatan tersebut, Wamen Christina menerima berbagai masukan dan informasi terkini terkait kondisi pekerja migran Indonesia di Kuwait, terutama yang saat ini bekerja di sektor migas, hospitality, manufaktur, kesehatan, hingga spa terapis.
Wamen Christina menegaskan, Kementerian P2MI terus memperkuat pelindungan PMI dari hulu hingga hilir, termasuk memastikan pekerja migran memperoleh jaminan sosial melalui kepesertaan BPJS Ketenagakerjaan dan asuransi kesehatan di negara tujuan.
“Kami menekankan pentingnya jaminan sosial bagi pekerja migran Indonesia, termasuk di Kuwait, agar mereka memiliki perlindungan kesehatan dan ketenagakerjaan yang memadai selama bekerja di luar negeri,” jelas politisi Partai Golkar tersebut.
Selain itu, juga dibahas mengenai kemungkinan kerja sama Government to Government (G to G) atau Government to Private (G to P) antara Indonesia dan Kuwait.
Sementara itu, Dubes RI untuk Kuwait, Lena Maryana menambahkan, persaingan tenaga kerja global di Kuwait semakin ketat.
Ia mencontohkan peluang penempatan tenaga kerja sektor keamanan bandara yang sebelumnya sangat terbuka bagi pekerja Indonesia, kini telah banyak diisi tenaga kerja dari Afrika, karena faktor efisiensi biaya dan kecepatan rekrutmen.
“Pekerja Indonesia masih memiliki citra positif di mata masyarakat Kuwait karena dinilai ramah, berdedikasi, dan minim konflik. Indonesia juga perlu melakukan pembenahan agar tidak kehilangan momentum pasar kerja di Kuwait dan kawasan Timur Tengah secara lebih luas,” tambahnya. RH
Reviewed by Ridwan Harahap
on
Selasa, Mei 26, 2026
Rating:




