| Bagian topside dari struktur platform Manpatu sukses dipasang PHM lewat heavy lifting process yang presisi di lepas pantai Kalimatan Timur. Foto: Dok. PHI |
Jakarta, OG Indonesia -- Struktur besi masif itu berdiri gagah di tengah kawasan lepas pantai South Mahakam, sekitar 35 kilometer dari pesisir Balikpapan, Kalimantan Timur. Bagai trisula Dewa Laut Poseidon, offshore platform tersebut menjulang tinggi ke permukaan dari dasar perairan laut sedalam 50-60 meter. Beratnya 1.000 ton atau setara dengan bobot lima paus biru (Balaenoptera musculus), mahluk hidup terbesar yang pernah diketahui hidup di bumi.
Pada 27 Mei 2026, PT Pertamina Hulu Mahakam (PHM) berhasil menuntaskan pemasangan jacket dan topside pada Platform Offshore Manpatu tersebut. Namun struktur anjungan lepas pantai tersebut harus mengarungi bumi pertiwi sejauh 1.930 kilometer dari Tanjung Pinang, Kepulauan Riau menuju pesisir Kalimantan Timur. Struktur tersebut telah menyisir Laut Natuna, membelah Selat Karimata, melintasi Laut Jawa, sebelum memasuki Selat Makassar dan bertaut di lokasi proyek, perairan South Mahakam.
Kita harus kembali ke tahun 2022, kala pandemi COVID-19 masih menyelimuti bumi, tetapi ada berita baik dari timur Kalimantan. Pertamina Hulu Mahakam yang termasuk dalam Zona 8 Regional Kalimantan Subholding Upstream Pertamina, yang juga merupakan salah satu anak perusahaan PT Pertamina Hulu Indonesia (PHI) berhasil mendapatkan penemuan baru (discovery) gas di sumur eksplorasi Manpatu-1X.
Discovery perdana bagi Indonesia di tahun 2022 tersebut merupakan buah dari kegiatan pengeboran yang telah dimulai sejak 20 Oktober 2021. Tak sampai dua bulan dibor, Rig Hakuryu-14 milik PT Japan Drilling Indonesia mencapai kedalaman 3.776,4 meter pada 9 Desember 2021. Hasilnya positif, ditemukan lapisan hidrokarbon minyak dan gas dengan total ketebalan Net Pay sebesar 207 meter pada interval Sepinggan Delta Sequence dan Sepinggan Carbonate Sequence dengan kualitas reservoir sangat baik.
Uji alir pertama (Drill Steam Test/DST-1) kemudian dilakukan pada 3 Januari 2022 terhadap reservoir target utama dengan rate gas sebesar 15 juta standar kaki kubik per hari (MMSCFD) dan kondensat sebesar 500 barel per hari (BPD). Selanjutnya, DST-2 telah dilakukan di Sepinggan Carbonate Sequence pada 18 Januari 2022 dengan hasil uji alir gas sebesar 15 MMSCFD dan kondensat sebesar 428 BPD.
Direktur Utama PHI - Regional Kalimantan kala itu, Chalid Said Salim, menegaskan discovery ini merupakan penemuan penting bagi Indonesia dan menjadi bukti nyata komitmen perusahaan dalam pemenuhan energi negeri.
Fabrikasi di Tanjung Pinang
Pasca discovery, Proyek Manpatu memasuki tahapan Front End Engineering Design (FEED) yang dilaksanakan selama periode 2023 hingga 2024. Maju cepat ke tahun 2025, tepatnya tanggal 16 Mei, PHM telah memulai seremoni first cut of steel alias pemotongan besi perdana sebagai penanda dimulainya tahap fabrikasi Proyek Manpatu. PT Meindo Elang Indah, perusahaan kontraktor EPCI terkemuka di Indonesia dipercaya mengerjakan pembangunan struktur platform Manpatu di yard miliknya di Tanjung Pinang, Kabupaten Bintan, Provinsi Kepulauan Riau.
Lingkup pekerjaan proyek ini mencakup fabrikasi dan instalasi satu anjungan baru, yaitu jacket beserta piles atau tiang pancang dengan total berat sekitar 1.380 ton, topside dengan berat sekitar 1.000 ton, serta modifikasi pada satu anjungan yang sudah ada (existing).
Selain itu, proyek ini meliputi pemasangan pipa penyalur bawah laut berdiameter 14 inci sepanjang kurang lebih 2,5 kilometer, serta pelaksanaan pekerjaan subsea dengan tingkat kompleksitas dan risiko yang tinggi. Secara keseluruhan, proyek ini juga mencakup pengeboran sebanyak 11 sumur pengembangan.
Fabrikasi struktur platform tersebut menjadi satu tonggak penting dalam menjaga keberlanjutan produksi dari Wilayah Kerja (WK) Mahakam. Sebab, Proyek Manpatu menjadi pengembangan lanjutan dari Klaster South Mahakam yang terdiri dari empat lapangan gas yang sudah berproduksi, yaitu Lapangan Stupa, Mandu, Jempang-Metulang dan Jumelai.
Lewat program fast track dengan jadwal yang padat, sepuluh bulan berselang pada 26 Maret 2026, PHM telah berhasil melaksanakan aktivitas Load Out Jacket atau kerangka baja yang membungkus dan menopang piles pada anjungan lepas pantai. Setelah Load Out, jacket kemudian diberangkatkan ke perairan Kalimantan Timur lewat kegiatan Sail Away Jacket.
Menyusul jacket, pada 17 April 2026, PHM juga berhasil mencapai tahap Load Out dan Sail Away Topside yang merupakan bagian atas dari sebuah platform sumur migas lepas pantai. Bagian ini berfungsi sebagai pusat fasilitas pemrosesan, pengeboran, sistem kontrol, utilitas, serta area akomodasi kerja bagi para pekerja.
Load Out dan Sail Away Topside termasuk tahapan yang berisiko tinggi (high-risk) dan menuntut ketepatan tingkat tinggi (high-precision operation) dari sisi teknis, koordinasi, maupun keselamatan. Topside dengan berat 1.000 ton diangkut menggunakan cargo barge dan menempuh perjalanan 15 hari dari Tanjung Pinang di Kepulauan Riau menuju lokasi proyek di lepas pantai Balikpapan.
Libatkan Putra Daerah Kaltim
Saat seremoni Sail Away Topside di Tanjung Pinang, Wakil Gubernur Kalimatan Timur (Kaltim), Seno Aji menyampaikan bahwa Proyek Manpatu sangat signifikan berkontribusi melibatkan putra-putra daerah Kaltim dalam upaya menjaga lifting migas dari Kaltim. Tercatat, ada lebih dari 360 pekerja terampil asal Kaltim yang didatangkan dan bekerja untuk Proyek Manpatu di fasilitas fabrikasi PT Meindo Elang Indah di Tanjung Pinang.
“Di saat banyak pemutusan hubungan kerja yang dilakukan oleh beberapa perusahaan Kalimantan Timur, PHM memberikan kontribusi yang sangat berarti untuk penyerapan tenaga kerja terampil dari Kalimantan Timur melalui kontraktor PT Meindo Elang Indah yang mengerjakan Proyek Manpatu,” puji Seno.
Akhirnya, pada 27 Mei 2026 PHM berhasil menyelesaikan pemasangan jacket dan topside Platform Offshore Manpatu. Pekerjaan ini paling krusial dalam proyek karena ada pelaksanaan heavy lifting activities yaitu proses pengangkatan dan pemasangan topside berbobot 1.000 ton ke posisi atas struktur jacket secara presisi di lepas pantai. Seluruh rangkaian pekerjaan tersebut berhasil dilaksanakan sesuai rencana melalui kolaborasi solid semua pihak yang terlibat.
Selanjutnya, PHM akan segera melanjutkan tahapan-tahapan berikutnya, meliputi pemasangan riser dan subsea spool, hook-up, hingga commissioning, guna memastikan platform dapat beroperasi secara optimal pada Q1 2027.
Wujud Komitmen PHM Jaga Keberlanjutan Produksi
General Manager PHM, Setyo Sapto Edi menjelaskan bahwa Proyek Pengembangan Lapangan Migas Manpatu merupakan wujud komitmen Perusahaan untuk terus berinvestasi dalam kegiatan eksplorasi dan eksploitasi demi keberlanjutan produksi migas Perusahaan yang penting dalam mendukung ketersediaan dan ketahanan energi Indonesia.
“Keberhasilan pemasangan jacket dan topside Platform Offshore Manpatu merupakan hasil kerja keras, sinergi, dan komitmen seluruh pemangku kepentingan dalam menjalankan proyek secara selamat, andal, dan sesuai target. Pencapaian ini menjadi bagian penting dalam upaya menjaga keberlanjutan operasi dan mendukung peningkatan produksi migas nasional," tutur Edi, awal Juni 2026 ini.
Sementara itu Direktur Utama PHI Sunaryanto menekankan pentingnya Proyek Manpatu dalam mewujudkan komitmen PHI sebagai induk usaha dan anak-anak perusahaannya, seperti PHM, untuk terus berinvestasi dalam kegiatan eksplorasi dan eksploitasi.
“Proyek Pengembangan Manpatu ini bukan hanya tentang menambah produksi, tetapi merupakan bagian dari upaya menjaga keberlanjutan energi dan memperkuat ketahanan energi nasional secara berkelanjutan khususnya dari wilayah Kalimantan. Keberhasilan di proyek ini membuktikan bahwa kita mampu menghadapi tantangan industri melalui kolaborasi, inovasi, dan komitmen yang kuat,” ucap Sunaryanto dalam keterangannya, medio April 2026 lalu.
Apalagi proyek ini dikerjakan dengan menjunjung tinggi aspek keselamatan kerja sebagai prioritas utama dalam setiap tahapan proyek. Hingga Maret 2026, tercatat sudah lebih dari 2 juta jam kerja tanpa Kehilangan Jam Kerja Karena Kecelakaan atau atau Lost Time Incident (LTI) berhasil ditoreh proyek ini. "PHI melalui anak perusahaannya PHM berkomitmen untuk menjaga standar Health, Safety, Security, and Environment atau HSSE secara konsisten hingga seluruh rangkaian proyek selesai,” tegasnya.
Kiranya, riak-riak ombak di perairan Blok Mahakam seolah bersorak memberi tepuk tangan menyambut kehadiran anjungan Manpatu yang berdiri di atas lokasi sumur MPT-1X. Dari sana pipa penyalur sekitar 3 kilometer akan tersambung ke anjungan eksisting, yaitu MD-1.
Setelah beroperasi nanti, platform Manpatu akan mendukung kegiatan produksi dan pengembangan lapangan di WK Mahakam. Proyek ini diproyeksikan mampu menambah produksi gas hingga 80 MMSCFD atau sekitar 20 persen dari total produksi Mahakam pada tahun 2027 nanti. RH


