Yogyakarta, OG Indonesia -- Tanaman nyamplung (Calophyllum inophyllum) menjadi salah satu sumber daya hayati yang berpotensi mendukung pengembangan energi terbarukan sekaligus rehabilitasi lahan kritis di Indonesia. Melalui berbagai penelitian yang dilakukan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), tanaman yang banyak tersisa di pesisir ini menunjukkan prospek sebagai bahan baku biofuel berkelanjutan yang tidak bersaing dengan kepentingan pangan.
Peneliti Pusat Riset Botani Terapan (PRBT) BRIN, Budi Leksono, menjelaskan bahwa biji nyamplung memiliki kandungan minyak yang tinggi sehingga berpotensi dikembangkan menjadi berbagai jenis bahan bakar nabati.
“Minyak nyamplung berpotensi diolah menjadi biokerosin, biodiesel, hingga bioavtur atau Sustainable Aviation Fuel (SAF) yang saat ini menjadi kebutuhan penting dalam agenda transisi energi global. Biji nyamplung dapat mengandung minyak hingga 60–70 persen. Produktivitas tanaman yang relatif tinggi menjadikan nyamplung sebagai salah satu kandidat unggulan tanaman energi berbasis tanaman hutan,” ujarnya, Selasa, (30/6/2026).
Menurut Budi, selain berpotensi sebagai sumber bahan baku energi, nyamplung memiliki keunggulan karena merupakan tanaman asli yang tersebar luas di Indonesia. Tanaman ini juga mampu tumbuh di lahan marginal atau lahan kritis yang kurang sesuai untuk budidaya tanaman pangan. Karakteristik tersebut membuka peluang pemanfaatan lahan terdegradasi secara produktif sekaligus mendukung upaya pemulihan lingkungan.
“Pengembangan nyamplung tidak hanya berorientasi pada produksi energi, tetapi juga dapat menjadi bagian dari strategi rehabilitasi lahan dan peningkatan nilai ekonomi kawasan. Selain itu, nyamplung berpotensi mendukung terwujudnya Net Zero Emission karena memiliki kemampuan menyerap karbon yang tinggi,” ia menjelaskan.
BRIN juga mengembangkan pendekatan pemanfaatan terpadu dalam pengolahan nyamplung. Tidak hanya minyak bijinya yang dapat dimanfaatkan sebagai bahan baku biofuel, residu padat berupa tempurung dan ampas biji nyamplung juga dapat diolah menjadi berbagai produk bernilai tambah. Produk tersebut antara lain pellet, biochar, arang aktif, dan pakan ternak berprotein tinggi.
Adapun residu cair dari proses pembuatan biodiesel seperti resin dan gliserol dapat diolah menjadi bahan biofarmaka dan sabun. Pendekatan ini mendukung penerapan konsep ekonomi sirkular dan pengurangan limbah dalam rantai produksi bioenergi.
Lebih lanjut, pengembangan nyamplung dinilai memiliki potensi sosial ekonomi bagi masyarakat, khususnya di wilayah pesisir dan kawasan lahan kritis. Keterlibatan masyarakat dalam budidaya, pengumpulan buah, hingga pengolahan bahan baku dapat menciptakan peluang usaha baru sekaligus memperkuat rantai pasok bioenergi domestik.
“Di tengah meningkatnya kebutuhan energi rendah emisi di berbagai negara, termasuk sektor penerbangan yang mulai mengadopsi bahan bakar berkelanjutan, Indonesia memiliki peluang untuk mengoptimalkan sumber daya hayati lokal sebagai bagian dari upaya mewujudkan ketahanan energi dan pembangunan berkelanjutan,” Budi menambahkan. RH
Reviewed by Ridwan Harahap
on
Kamis, Juli 02, 2026
Rating:



