Belajar Tata Kelola Gas dan LNG: Right Scale, Right Market


Oleh: Salis Aprilian, Senior Advisor to IGS (Indonesian Gas Society), Dewan Pakar Migas Indonesia (KMI)

Ada satu kalimat menarik yang saya catat dari The 5th IndoPacific LNG Summit, Bali, 21–22 Juli 2026: “Right Scale, Right Market.”

Kalimat itu menjadi benang merah presentasi M. Rasyid Ridha, Group Head of Engineering and Technology PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGN), yang mengangkat tema “PGN Strategic LNG Infrastructure Optimization to Enable Nationwide Expansion of Natural Gas Deployment.”

Pesannya sederhana, tetapi sangat relevan bagi Indonesia: persoalan pengembangan LNG bukan memilih mana yang lebih hebat antara skala besar dan skala kecil. Persoalannya adalah memilih skala yang tepat untuk pasar yang tepat.

Bagi negara kepulauan seperti Indonesia, saya kira cara berpikir seperti inilah yang seharusnya menjadi dasar pembangunan infrastruktur gas nasional.

Dari “One Size Fits All” Menuju “Right Scale, Right Market

Selama puluhan tahun, industri LNG identik dengan proyek raksasa: lapangan gas besar, kilang LNG berkapasitas jutaan ton per tahun, tangki penyimpanan besar, LNG carrier berukuran besar, receiving terminal, FSRU, dan jaringan pipa transmisi.

Model tersebut sangat masuk akal ketika pasokan dan pasarnya sama-sama besar dan terkonsentrasi. Tetapi Indonesia bukan hanya Jawa dan Sumatra. Kita memiliki ribuan pulau, pusat-pusat industri yang tersebar, pembangkit listrik dengan kebutuhan berbeda-beda, kawasan pertambangan dan smelter di lokasi terpencil, hingga pelanggan komersial dan rumah tangga yang tidak mungkin semuanya menunggu datangnya jaringan pipa.

Di sinilah gagasan Right Scale, Right Market menjadi penting.

Presentasi PGN memperlihatkan dua pendekatan yang sebenarnya bukan untuk dipertentangkan, melainkan dikombinasikan: Large Scale LNG dan Small Scale LNG.

Large Scale: Murah per Unit, tetapi Membutuhkan Pasar Besar

Dalam materi tersebut, large-scale LNG diarahkan untuk memaksimalkan nilai dari cadangan gas berukuran besar. Keunggulan utamanya terletak pada efisiensi produksi dan economies of scale. Tetapi konsekuensinya juga jelas: investasi jauh lebih besar dan fleksibilitasnya relatif terbatas.

Untuk sisi regasifikasi, fasilitas besar umumnya menggunakan Open Rack Vaporizer (ORV) atau Intermediate Fluid Vaporizer. LNG diterima menggunakan kapal LNG berukuran besar melalui mekanisme ship-to-ship transfer menuju FSRU ataupun melalui onshore jetty. Setelah diregasifikasi, gas dikirim melalui jaringan pipa transmisi bertekanan tinggi.

Angka dalam slide PGN cukup menarik. Large scale didefinisikan berkapasitas lebih dari 3 MTPA atau sekitar 420 MMSCFD, dengan konfigurasi multi-train. CAPEX-nya dikategorikan sangat tinggi, lebih dari US$1 miliar.

Namun, economies of scale membuat biaya pengolahannya relatif rendah. Dalam presentasi tersebut, liquefaction fee berada di kisaran US$1,0–2,5/MMBtu, sedangkan regasification fee sekitar US$0,0–2,0/MMBtu.

Model seperti ini cocok untuk large and consolidated demand: permintaan besar, relatif pasti, dan terkonsentrasi.

Small Scale: Lebih Mahal per Unit, tetapi Jauh Lebih Fleksibel

Situasinya berbeda untuk small-scale LNG.

Tujuannya bukan semata mengejar biaya terendah per MMBtu, tetapi membuka pasar yang sebelumnya tidak ekonomis dilayani oleh infrastruktur besar.

Menurut materi PGN, small-scale LNG memiliki sejumlah keunggulan: memperluas pemanfaatan gas domestik, fleksibel merespons pertumbuhan permintaan, memiliki risiko finansial lebih rendah dan waktu komersialisasi lebih cepat, dapat memonetisasi stranded gas, serta melayani wilayah yang selama ini underserved.

Regasifikasinya dapat menggunakan ambient air vaporizer (AAV) atau unit sederhana yang dipasang di atas skid. Moda penerimaan LNG pun tidak harus menggunakan kapal raksasa. LNG dapat didistribusikan melalui ISO container maupun small LNG carrier, kemudian dikirim menuju jaringan distribusi, pipeline atau filling station LNG/CNG.

Presentasi PGN mengategorikan small scale pada kapasitas di bawah 1 MTPA atau sekitar 140 MMSCFD, dan bahkan lazimnya hanya 0,1–0,5 MTPA per train.

CAPEX-nya jauh lebih terjangkau, sekitar US$10–100 juta, meskipun biaya per unit lebih tinggi. Liquefaction fee ditampilkan sekitar US$2,0–5,0/MMBtu, sedangkan regasification fee sekitar US$1,5–3,0/MMBtu.

Artinya, small scale memang kalah dalam unit cost, tetapi menang dalam fleksibilitas, kecepatan, modularitas dan kemampuan membuka pasar baru.

Itulah sebabnya pertanyaannya tidak boleh lagi sekadar: mana yang lebih murah?

Pertanyaan yang lebih tepat adalah: untuk pasar ini, skala mana yang menghasilkan total keekonomian terbaik?

Tantangan Gas Indonesia Bukan Hanya Cadangan

Ada bagian lain dari presentasi PGN yang menurut saya bahkan lebih penting. PGN memetakan tantangan pemanfaatan gas nasional ke dalam empat kelompok: Availability, Accessibility, Affordability, dan Acceptability.

Pada aspek Availability—Securing Supply, tantangannya meliputi high impurities, penurunan alamiah produksi dan kematangan lapangan (natural decline & field maturity), serta lokasi sumber gas yang jauh dari pusat permintaan.

Ini masalah klasik Indonesia.

Kita bisa mempunyai gas, tetapi gas tersebut belum tentu berada di tempat ketika dan di mana konsumen membutuhkannya.

Kemudian ada Accessibility—Building Infrastructure. Persoalannya antara lain rendahnya utilisasi sebagian infrastruktur, perencanaan yang terfragmentasi, jaringan yang belum tersambung, serta tantangan geografis dan economies of scale.

Di sinilah persoalan Indonesia menjadi unik.

Membangun jaringan pipa ribuan kilometer melintasi laut untuk mengejar pasar kecil sering kali tidak ekonomis. Sebaliknya, membiarkan daerah tersebut terus bergantung pada diesel atau BBM juga bukan solusi jangka panjang.

Gas Harus Bisa “Berlayar”

Karena itulah Indonesia membutuhkan konsep virtual pipeline.

Gas tidak harus selalu berjalan di dalam pipa baja.

Gas dapat “berlayar” sebagai LNG dengan kapal kecil. Bisa berpindah melalui ISO tank container. Bisa pula dikirim sebagai CNG menggunakan tube skid atau moda transportasi lain sebelum akhirnya masuk ke jaringan distribusi lokal.

Peta infrastruktur yang ditampilkan PGN memperlihatkan pendekatan yang berbeda antara Indonesia bagian barat dan timur.

Di wilayah barat—terutama kawasan dengan kepadatan permintaan tinggi dan infrastruktur yang relatif berkembang—modelnya bergerak menuju integrated pipeline concept with virtual pipeline as support.

Sebaliknya, di Indonesia bagian timur, karakter geografis kepulauan, permintaan yang tersebar dan infrastruktur pipa yang terbatas membuat pendekatan virtual pipeline concept with clustered pipeline system as support menjadi lebih relevan.

Menurut saya, perbedaan kalimat itu sangat penting.

Di Barat, virtual pipeline menjadi pelengkap pipa. Di Timur, justru pipa lokal dapat menjadi pelengkap virtual pipeline.

Inilah yang saya sebut sebagai perubahan paradigma pembangunan infrastruktur gas.

Jangan Menunggu Semua Pulau Tersambung Pipa

Indonesia tidak perlu menunggu terbentuknya Trans-Indonesia Gas Pipeline yang sempurna sebelum meningkatkan konsumsi gas domestik.

Kita dapat membangun ekosistem gas secara bertahap.

Sebuah small LNG carrier, misalnya, dapat membawa LNG menuju secondary receiving terminal. Dari sana LNG diregasifikasi untuk memasok pembangkit, smelter atau kawasan industri. Ketika permintaan berkembang, dibangun jaringan pipa lokal. Ketika beberapa cluster semakin besar, jaringan tersebut dapat dihubungkan.

Dengan cara itu, demand tumbuh bersama infrastructure, bukan infrastruktur raksasa dibangun terlebih dahulu lalu menunggu demand yang belum tentu datang.

Pendekatan ini juga sejalan dengan bisnis LNG PGN yang memang mencakup likuifaksi, penyimpanan, pengiriman dan regasifikasi untuk mendukung transportasi serta distribusi gas. PGN LNG juga telah mengoperasikan FSRU Lampung sejak 2014 dengan kapasitas sekitar 1,5–2 MTPA. 

Dari Hulu sampai Rumah Tangga

Hal lain yang menarik adalah luasnya portofolio PGN.

Di sisi upstream, terdapat produksi minyak dan gas melalui entitas dalam kelompok usahanya.

Di midstream, PGN mempunyai bisnis transportasi gas, LNG, CNG dan infrastruktur regasifikasi.

Sedangkan di downstream, gas menjangkau berbagai kelompok pelanggan: pembangkit listrik, industri, komersial, rumah tangga, transportasi hingga SPBG dan Mobile Refueling Unit.

Dengan kata lain, bisnis gas seharusnya tidak dilihat secara terpotong-potong.

Tidak cukup hanya bertanya: berapa cadangan gasnya?

Kita juga harus bertanya: siapa pembelinya, berapa volumenya, di mana lokasinya, bagaimana gas dikirim, berapa harga yang sanggup dibayar konsumen, dan infrastruktur apa yang paling ekonomis?

Ini pula yang menjelaskan mengapa LNG menjadi penting untuk industri seperti smelter. Banyak smelter berada jauh dari jaringan pipa, sementara proses produksinya membutuhkan energi besar, stabil dan kontinu. LNG memungkinkan gas menjangkau lokasi seperti itu tanpa harus menunggu pembangunan jaringan pipa permanen. 

Problem Berikutnya: Affordability. Tersedianya LNG belum menyelesaikan persoalan.

Presentasi PGN memasukkan Affordability—Creating Demand sebagai tantangan ketiga. Di dalamnya terdapat persoalan purchasing power, kompetisi dengan bahan bakar alternatif, volatilitas harga, high switching cost, serta tingginya biaya logistik.

Ini poin yang kerap kita abaikan.

Secara teknis LNG bisa dikirim ke hampir mana saja. Tetapi pertanyaan bisnisnya adalah:

Apakah harga gas sampai di konsumen masih kompetitif?

Small-scale LNG mungkin membutuhkan investasi awal yang jauh lebih kecil dibanding proyek LNG raksasa, tetapi biaya per MMBtu-nya lebih tinggi. Ditambah biaya kapal, penyimpanan, handling, regasifikasi dan distribusi lokal, harga akhirnya bisa kehilangan daya saing terhadap bahan bakar alternatif.

Karena itu, right scale harus selalu dipasangkan dengan right logistics dan right market.

Acceptability: Jangan Lupakan Konsumen

Tantangan keempat adalah Acceptability—Creating Demand, yang antara lain menyangkut kesiapan pengguna akhir dan contractual constraints.

Infrastruktur boleh dibangun, LNG boleh tersedia, tetapi bila industri tidak bersedia mengonversi burner-nya, pembangkit belum siap menerima gas, kontrak tidak fleksibel atau konsumen khawatir terhadap kontinuitas pasokan, maka demand tetap tidak akan terbentuk.

Dengan kata lain, pembangunan gas nasional bukan sekadar proyek engineering.

Ia merupakan persoalan engineering + commercial + financing + regulation + market development.

Itulah mengapa pembangunan demand cluster menjadi penting.

Bukan Membangun Infrastruktur, tetapi Membangun Ekosistem

Pada bagian Key Takeaways, PGN menekankan empat kebutuhan utama.

Pertama, Stakeholder Collaboration—kolaborasi pemerintah, industri dan end user harus diperkuat.

Kedua, Infrastructure Development Support—bukan hanya terminal dan pipa gas, tetapi juga pelabuhan, logistik, shipping dan industrial clusters.

Ketiga, Financial Support—pendanaan berkelanjutan melalui investasi publik maupun swasta.

Keempat, Regulatory Support—kepastian investasi melalui regulasi yang stabil, proses perizinan yang lebih sederhana, dan harga gas yang kompetitif.

Keempatnya saling terkait.

Tidak ada gunanya membangun terminal LNG bila pelabuhannya tidak siap. Tidak ada gunanya membeli small LNG carrier bila volume konsumennya belum cukup. Tidak ada gunanya membangun jaringan distribusi bila pasokan hulunya tidak pasti.

Sebaliknya, produsen gas pun sulit mengambil FID bila pasar dan infrastrukturnya belum jelas.

Ini seperti persoalan ayam dan telur yang selama bertahun-tahun menghantui industri gas Indonesia.

Maka, Bangunlah dari Cluster

Menurut saya, jalan keluarnya adalah meninggalkan pendekatan “bangun semuanya sekaligus” menuju pembangunan berbasis gas cluster.

Mulailah dari sumber gas atau LNG hub. Petakan anchor buyer: pembangkit, smelter, kawasan industri, pupuk atau industri besar. Tambahkan pelanggan menengah dan kecil di sekitarnya. Layani dengan kombinasi pipeline, LNG dan CNG.

Ketika volume meningkat, virtual pipeline dapat berevolusi menjadi physical pipeline.

Ketika cluster membesar, sambungkan dengan cluster lainnya.

Lama-kelamaan terbentuk jaringan gas nasional—bukan semata-mata jaringan pipa nasional.

Perbedaannya kelihatannya kecil, tetapi secara konseptual sangat besar.

Tujuan kita bukan membangun sebanyak mungkin pipa. Tujuan kita adalah mengalirkan sebanyak mungkin gas secara ekonomis kepada konsumen yang membutuhkannya.

Karena itu, pipa, LNG dan CNG seharusnya tidak saling bersaing. Ketiganya adalah moda yang berbeda untuk membawa molekul energi yang sama.

Indonesia Membutuhkan “Gas Archipelago

Saya membayangkan sistem gas Indonesia masa depan sebagai Gas Archipelago.

Di Jawa dan sebagian Sumatra, tulang punggungnya adalah jaringan pipa terintegrasi yang diperkuat LNG dan CNG sebagai balancing maupun beyond-pipeline solution.

Di Kalimantan dan Sulawesi, sistemnya dapat berkembang dari industrial clusters, smelter, pembangkit dan kawasan ekonomi.

Sementara Maluku, Nusa Tenggara dan Papua dapat mengandalkan jaringan small-scale LNG, small LNG carrier, terminal satelit, ISO tank serta jaringan pipa lokal.

PGN sendiri pada 2026 terus menekankan penguatan infrastruktur terintegrasi dan solusi beyond pipeline, termasuk CNG dan LNG. Rencana CAPEX 2026 yang diberitakan Indonesian Gas Society mencapai sekitar US$353 juta, dengan sekitar US$219 juta diarahkan untuk infrastruktur transmisi dan distribusi gas termasuk pipeline, CNG, dan LNG. 

Artinya, konsep yang disampaikan di Bali bukan sekadar diskusi akademis. Arah pengembangan infrastrukturnya memang sedang bergerak ke sana.

Gas Tidak Harus Menunggu Pipa

Dari presentasi M. Rasyid Ridha tersebut, saya menangkap satu pelajaran penting.

Selama ini kita terlalu sering melihat persoalan gas Indonesia dari sisi supply. Kita bangga ketika menemukan cadangan besar. Kita sibuk menghitung TCF. Tetapi gas yang masih berada ribuan meter di bawah permukaan bumi belum mempunyai nilai ekonomi bagi masyarakat.

Gas baru memiliki nilai ketika diproduksikan, diangkut, diproses, didistribusikan, dan akhirnya dibakar secara produktif oleh konsumen.

Karena itulah tantangan kita sesungguhnya bukan sekadar finding gas, melainkan connecting gas to market.

Dan untuk negara kepulauan seperti Indonesia, koneksi itu tidak harus selalu berupa pipa.

Kadang gas harus mengalir.

Kadang ia harus dimampatkan.

Kadang ia harus dicairkan.

Dan untuk mencapai ribuan pulau kita, kadang gas memang harus berlayar.

Itulah esensi Right Scale, Right Market.

Bukan 'large scale versus small scale'.

Melainkan 'large scale AND small scale', ditempatkan pada pasar yang tepat, dengan infrastruktur yang tepat, pada waktu yang tepat.

Karena pada akhirnya, keberhasilan pembangunan gas nasional bukan diukur dari berapa kilometer pipa yang berhasil kita bangun atau berapa terminal LNG yang kita miliki.

Ukuran sesungguhnya jauh lebih sederhana:

seberapa banyak rakyat, industri, pembangkit dan pusat-pusat ekonomi di seluruh Nusantara yang akhirnya dapat menikmati gas bumi secara andal, terjangkau dan berkelanjutan.

----------------

Bogor, menjelang Maghrib

Senin, 24 Agustus 2026

Belajar Tata Kelola Gas dan LNG: Right Scale, Right Market Belajar Tata Kelola Gas dan LNG: Right Scale, Right Market Reviewed by Ridwan Harahap on Selasa, Agustus 25, 2026 Rating: 5
Diberdayakan oleh Blogger.