Jakarta, OG Indonesia -- Upaya perusahaan batu bara Indonesia untuk melakukan diversifikasi masih terbatas dan tidak merata. Dari analisis terhadap 13 produsen utama batu bara di dalam negeri, hanya dua yang menunjukkan progres yang jelas dalam membangun bisnis non-batu bara dengan skala yang materil. Sementara enam perusahaan masih berada pada tahap yang didominasi oleh narasi, namun pelaksanaannya belum signifikan.
Laporan terbaru Energy Shift Institute (ESI) bertajuk ‘Diversification gap in Indonesia’s coal sector’ menilai diversifikasi semakin penting di tengah meningkatnya ketidakpastian prospek jangka panjang bagi produsen batu bara Indonesia.
Meskipun kondisi pasar sedang membaik beberapa saat ini, perusahaan masih menghadapi sejumlah risiko mulai dari ketergantungan pada pasar ekspor utama, ketidakpastian kebijakan domestik, serta meningkatnya tekanan biaya semakin mempertegas pentingnya mengurangi ketergantungan pada pendapatan dari sektor batu bara.
Idham Muhammad Fachri, Senior Analyst ESI mengatakan, diversifikasi bisnis dapat menjadi respons yang lebih struktural terhadap risiko-risiko tersebut, beriringan dengan diversifikasi pasar dan peningkatan efisiensi operasional. Namun, beberapa perusahaan yang melakukan diversifikasi masih berinvestasi pada aktivitas yang berkaitan erat dengan batu bara, sehingga sebagian besar eksposurnya tidak berubah.
Strategi diversifikasi di sektor ini masih sangat timpang. Sebagian perusahaan sedang membangun bisnis non-batu bara yang meyakinkan, sementara lainnya telah mengumumkan ambisi tanpa menunjukan kemajuan yang berarti,” Idham mengatakan.
Dalam analisisnya, ESI menggunakan seven-step framework untuk menilai sejauh mana diversifikasi diterapkan di perusahaan dengan mengubah basis pendapatan dan tingkat ketergantungan terhadap batu bara, atau justru masih sebatas narasi perusahaan.
Studi pada 13 perusahaan menunjukkan, PT Harum Energy Tbk dan PT TBS Energi Utama Tbk menjadi perusahaan dengan progres diversifikasi paling nyata. Keduanya memiliki cadangan yang relatif rendah jika dibandingkan dengan perusahaan sejenis dan telah mengarahkan investasinya menuju bisnis non-batu bara, alih-alih melanjutkan ekspansi di sektor batu bara. Pada 2025, bisnis nikel Harum Energy mencatat 69% dari total pendapatan perusahaan, sementara TBS memperoleh 41% pendapatannya dari bisnis pengelolaan limbah.
Sementara, PT Bumi Resources Tbk dan PT Indika Energy Tbk masing-masing menargetkan komposisi pendapatan 50:50 antara bisnis batu bara dan non-batu bara pada 2031 dan 2028. Keduanya berinvestasi di sektor logam dan mineral, meskipun progres diversifikasinya belum menyamai Harum dan TBS. Laporan ini juga menilai tekanan untuk melakukan diversifikasi berbeda-beda di setiap perusahaan. Perusahaan dengan jumlah cadangan yang berlimpah dan memiliki ruang untuk memperpanjang izin yang masih tersedia, kemungkinan menghadapi tekanan yang lebih kecil untuk segera melakukan diversifikasi.
Hazel Ilango, Principal and Coal Transition Lead ESI mengatakan, pernyataan yang disampaikan perusahaan mengenai proyek baru tidak otomatis menunjukkan adanya diversifikasi yang sesungguhnya.
Perusahaan bisa saja mengumumkan proyek hilirisasi batu bara, yang selama ini menghadapi tantangan keekonomian, atau rencana memasuki sektor baru. Namun, arah strategis tersebut harus diterjemahkan menjadi suatu kegiatan yang tampak nyata dan bermakna secara ekonomi. Ujiannya adalah apakah bisnis-bisnis tersebut mampu mengubah komposisi pendapatan perusahaan dan mengurangi ketergantungan pada arus kas batu bara,” Hazel mengatakan.
Selama ini, beberapa perusahaan batu bara menganggap telah melakukan diversifikasi dengan terdapatnya aset non-batu bara di dalam grup. Namun sejatinya hal tersebut tidak bisa serta-merta diklaim sebagai diversifikasi. Salah satu studi kasus pada PT Adaro Energy Indonesia (ADRO) yang memisahkan bisnis batu bara termalnya ke anak usahanya, PT Adaro Andalan Indonesia Tbk (AADI) pada 2024. Di tahun 2025, AADI menyumbang 72% dari total pendapatan gabungan bruto antara AADI dan PT Alamtri Resources Indonesia Tbk –nama baru ADRO. Bisnis pertambangan dan perdagangan batu bara menyumbang sekitar 95% dari pendapatan AADI.
"Idealnya, anak perusahaan tambang batu bara tersebut seharusnya langsung berinvestasi atau mengembangkan proyek non-batu bara. Jika tidak, profil bisnis dan eksposurnya terhadap risiko batu bara tidak berubah. Anak perusahaan tersebut bahkan dapat tetap menjadi sumber pendapatan utama bagi grup,” Idham menambahkan.
Dua belas dari 13 perusahaan batu bara yang dikaji menunjukkan telah mengembangkan bisnis di luar kegiatan penambangan secara langsung. Ekspansi tersebut mencakup proyek terkait batu bara, mineral dan logam, serta bisnis terkait transisi energi dan pengelolaan limbah. Proyek terkait batu bara seperti pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) dan hilirisasi batu bara tidak serta-merta mengurangi ketergantungan terhadap komoditas tersebut, dan justru dapat memunculkan risiko operasional serta pembiayaan tambahan.
Sebaliknya, ekspansi bisnis mineral dan logam, energi terbarukan, serta pengelolaan limbah dapat memberikan aliran pendapatan yang lebih berbeda, meskipun bisnis-bisnis tersebut masih berada pada tahap awal atau masih terbatas skalanya.
Diversifikasi terus menunjukkan kemajuan, dengan profitabilitas yang diperkirakan akan menyusul. Hal ini terjadi karena bisnis baru masih membutuhkan investasi untuk berkembang dan mencapai skala yang lebih besar. Oleh karena itu, pendapatan dari bisnis batu bara masih dibutuhkan untuk mendanai dan menopang area pertumbuhan baru tersebut.
Peningkatan arus kas batu bara beberapa waktu terakhir ini bukan berarti bahwa sektor ini telah menjadi lebih tangguh secara struktural. Justru, kondisi ini memberi perusahaan kesempatan untuk membangun bisnis alternatif yang signifikan, menguntungkan, dan mampu mengurangi ketergantungan pada batu bara dari waktu ke waktu,” Hazel menambahkan. RH
Reviewed by Ridwan Harahap
on
Jumat, Agustus 21, 2026
Rating:



