Indosolar 2026, AESI Nilai Indonesia Berpeluang Percepat Pengembangan Energi Surya Nasional


Jakarta, OG Indonesia --
Asosiasi  Energi Surya Indonesia (AESI)  kembali menyelenggarakan Indosolar 2026 pada 19 -20  Agustus  2026  di  Fairmont  Hotel,  Jakarta.  

Memasuki  tahun  ketiga penyelenggaraannya,  Indosolar  2026  mengusung  tema  "Building  the  Future  of Indonesia's  Solar  Energy"  dan  tahun  ini  diselenggarakan  bersamaan  dengan Indonesia Sustainable Energy Week ISEW 2026.  

Melalui penyelenggaraan Indosolar, AESI menghadirkan wadah yang mempertemukan pemerintah,  pelaku  industri,  investor,  lembaga  keuangan,  akademisi,  mitra pembangunan, hingga penyedia teknologi untuk membahas tantangan pengembangan energi surya, mempertemukan peluang dan kebutuhan, serta mendorong terbentuknya kolaborasi yang dapat mempercepat implementasi energi surya di Indonesia.  

Mada  Ayu  Habsari,  Ketua  Umum  Asosiasi  Energi  Surya  Indonesia  AESI,  mengungkapkan dukungan  terhadap  pengembangan  energi  surya  di  Indonesia semakin  kuat, ditandai dengan target pemerintah yang ambisius dan potensi pasar yang besar. 

"Di sisi lain, kita perlu memastikan bahwa seluruh bagian dari ekosistem dapat bergerak bersama, mulai dari kesiapan proyek, akses pembiayaan, teknologi, hingga kapasitas industri dan sumber daya manusia. Dengan ekosistem yang semakin terhubung,  kita  dapat  mendorong  lebih  banyak  proyek  yang  bankable  dan mempercepat implementasi energi surya di Indonesia," ujar Mada.  

Indosolar untuk Penguatan Ekosistem Industri Energi Surya 

Indosolar  2026  menghadirkan  rangkaian  plenary  sessions,  technical  breakout sessions, exhibition, dan B2B Matchmaking yang membahas aspek perkembangan industri  energi  surya.  Topik-topik  mencakup  penguatan  kebijakan  dan  regulasi, investasi dan pembiayaan, kesiapan rantai pasok, pengembangan teknologi, hingga kesiapan  sumber  daya  manusia  untuk  mendukung  pertumbuhan  industri  surya nasional akan dibahas selama dua hari. 

Diskusi  juga  menyoroti  isu-isu  strategis seperti peta jalan percepatan energi surya nasional dan peluang quick wins 10 GW hingga 2028, pengembangan PLTS Atap dan PLTS Terapung, serta pemanfaatan microgrid dan sistem hybrid sebagai bagian dari upaya de-dieselisasi di wilayah yang belum terjangkau jaringan listrik.  

Dari sisi industri, Indosolar juga membahas penguatan rantai pasok dan daya saing industri surya nasional, pembenahan skema pengadaan Independent Power Producer IPP, serta peluang perdagangan dan investasi listrik surya lintas negara. 

Sementara dari sisi pengguna, pembahasan mencakup penerapan PLTS Atap di kawasan industri dan pemanfaatan energi surya untuk mendukung kebutuhan green data center seiring dengan pertumbuhan ekonomi digital.  Pembahasan  tersebut  menjadi  lebih  menyeluruh  melalui  penyelenggaraan bersama dengan ISEW 2026. 

"Kerja sama Indonesia - Jerman dalam topik transisi energi telah berlangsung selama 30  tahun  yang  tidak  hanya  berfokus  pada  kebijakan,  namun  juga  mendorong implementasi dan kerja sama ekonomi. Transisi energi membutuhkan hubungan yang kuat antara pembuat kebijakan, investor, penyedia teknologi, dan pelaku industri. Hal ini  untuk  mendukung  investasi  yang  tepat  dan  teknologi  yang  mampu  menjawab tantangan operasional di lapangan.  Penyelenggaraan ISEW bersama Indosolar tahun ini menguatkan komitmen kerja sama dalam mewujudkan target transisi energi. Dalam kegiatan ini, akan dilakukan 3 sesi bersama, exhibition, serta business matchmaking dalam  2  format,  yang  melibatkan  penyedia  teknologi,  pemilik  proyek,  dan  institusi keuangan.  Kami  optimis  kolaborasi  ini  dapat menguatkan langkah Indonesia dalam melaksanakan  inisiatif  transisi  energi  yang  lebih  berkelanjutan," ujar  Atiek Puspa Fadhilah, Private Sector Cooperation Lead - Energy Programme, GIZ Indonesia & ASEAN.  

Indosolar sebagai Ruang Temu Pelaku Industri dan Publik  

Indosolar  juga  membuka  kesempatan  bagi  publik  untuk  bertemu langsung dengan pelaku industri melalui kegiatan exhibition yang berlangsung bersamaan sepanjang acara.  Mulai  dari  perusahaan  Engineering,  Procurement,  and  Construction  EPC, developer,  konsultan,  perusahaan  asuransi,  perbankan,  hingga  penyedia teknologi turut hadir di Indosolar. Kesempatan ini memungkinkan pengunjung untuk mengenal langsung perusahaan dengan rekam jejak teruji, memahami kapasitas dan spesialisasi para pelaku industri, dan mengedukasi publik tentang perkembangan industri surya di Indonesia.  

Bagi  pemilik  gedung,  pelaku  usaha,  maupun  institusi  yang  sedang mempertimbangkan pemanfaatan energi surya, kehadiran pelaku industri dalam satu lokasi ini menjadi titik masuk yang memudahkan mereka dalam memahami pilihan yang tersedia di pasar.  Peluang bagi para pelaku bisnis untuk berjejaring dan menemukan potential partners dilakukan melalui sesi Business Collaboration Hub. 

Sesi ini menghubungkan  penyedia teknologi,  investor,  pelaku  usaha,  dan  calon  mitra  proyek,  untuk  berjejaring. Kolaborator  terdiri  dari  anggota  Asosiasi  Energi  Surya  Indonesia  AESI  serta perwakilan perusahaan teknologi dari Jerman dan Eropa. Format ini penting karena hambatan pengembangan proyek bukan hanya karena ketersediaan teknologi, tetapi juga proses menemukan pihak yang tepat untuk bekerja sama.  

Menyiapkan Green Workforce untuk Industri Surya Nasional  

Selain kesiapan proyek dan mitra, kesiapan sumber daya manusia menjadi faktor yang menentukan  kecepatan  implementasi  PLTS  di  lapangan.  Tanpa  tenaga  kerja  yang kompeten,  target  pengembangan  yang  telah  ditetapkan  akan  sulit  diterjemahkan menjadi proyek yang berjalan sesuai standar.  

Menjawab  kebutuhan  tersebut,  Indosolar  berkolaborasi  dengan  JA  Solar,  Xingtai Polytechnic  Institute  of  New  Energy,  dan  ATW  Solar  sebagai  perusahaan Engineering, Procurement, and Construction EPC untuk menghadirkan sesi Training dan Youth Solar Policy Competition di Indosolar 2026. 

Program ini mempertemukan sisi akademis dengan sisi implementasi industri dalam satu kegiatan, dengan fokus pada keterampilan teknis di level instalasi, perawatan, dan pengelolaan sistem PLTS sesuai standar industri.  Perspektif Global untuk Konteks Industri Nasional  Indosolar 2026 juga menghadirkan sejumlah sesi Global Insight bersama mitra seperti PwC,  IRENA,  dan  Asian  Photovoltaic  Industry  Association  APVIA. 

Pembahasan mencakup  perkembangan  pasar  energi  surya  global,  arah  investasi,  tren  biaya teknologi, serta pengalaman yang telah berjalan di negara lain. Kehadiran perspektif lintas negara ini memberi pembanding yang konkret bagi pelaku industri di Indonesia dan  membantu  mengidentifikasi  pendekatan  mana  yang  paling  relevan  untuk diterapkan di dalam negeri.  

Menurut  Sacha  Winzenried,  Energy,  Utilities  &  Resources  and  Energy  Transition Leader, PwC Indonesia, peluang pengembangan energi surya Indonesia perlu dilihat tidak  hanya  dari  sisi  target  kapasitas,  tetapi  juga  dari  kemampuan  industri  untuk meningkatkan daya saing dan menarik investasi.  

"Indonesia memiliki peluang yang besar untuk mempercepat pengembangan energi surya nasional. Untuk mewujudkan potensi tersebut, diperlukan kesiapan ekosistem, mulai dari ketersediaan pendanaan, proyek yang bankable, kepastian regulasi, hingga kolaborasi  yang  erat  antara  pemerintah,  investor,  dan  pelaku  industri.  Sebagai knowledge partner Indosolar 2026, PwC menghadirkan perspektif dan best practice dari berbagai pasar global, sekaligus mendorong diskusi yang konstruktif mengenai langkah-langkah  konkret  yang  diperlukan  untuk  mempercepat  pengembangan ekosistem energi surya yang berkelanjutan di Indonesia," ujar Sacha.  

Dari Forum Industri ke Forum Nasional  

Rangkaian  acara Indosolar menegaskan bahwa penguatan ekosistem industri surya bukan  kepentingan  sektoral  semata.  Kesiapan  rantai  pasok  dalam  negeri,  kualitas pengerjaan proyek, dan ketersediaan tenaga kerja bersertifikasi adalah prasyarat agar energi surya dapat diandalkan sebagai bagian dari sistem kelistrikan nasional, bukan sekadar pelengkap.  

Kolaborasi  Indosolar  dan  Indonesia  

Sustainable  Energy  Week  ISEW  2026  juga memperluas  ruang  pembahasan  dengan  mempertemukan  pelaku  industri  dengan pemerintah,  mitra  pembangunan,  dan  sektor  keuangan.  Keterhubungan  tersebut diharapkan  dapat  mempertemukan  perspektif  kebijakan  dengan  kebutuhan  dan tantangan implementasi di lapangan.  

Lebih lanjut, hasil pembahasan Indosolar selama dua hari akan dirangkum dan dibawa ke  IndoEBTKE  ConEx  sebagai  forum  nasional  energi  baru  terbarukan.  Berbagai masukan, mulai dari penguatan rantai pasok, skema pengadaan IPP, penerapan PLTS Atap, hingga kebutuhan tenaga kerja terampil, akan menjadi bagian dari pembahasan yang lebih luas bersama pemangku kepentingan energi terbarukan lainnya.  

Penyelenggaraan Indosolar 2026 mendapat dukungan dari berbagai pelaku industri dan sektor pendukung. Dukungan tersebut antara lain berasal dari JA Solar sebagai Education Partner, Huawei, Solarvest, PT PLN Persero), Leader Energy, SUN, Bank OCBC, Synkrona, PT Etrama Nusa Energi, iForte Energi, serta KBRU sebagai sponsor. Sementara itu, dukungan sebagai kontributor diberikan oleh PT Kolega Energi Abadi Koenergia), PT Atap Surya Nusantara, dan PT Distritama Perkasa.  

Melalui  rangkaian  tersebut,  Indosolar  tidak  hanya  menjadi  ruang  pertukaran pengetahuan,  tetapi  juga  menjadi  penghubung  antara  industri, investasi, teknologi, kapasitas, dan kebijakan untuk mendorong pengembangan energi surya dari potensi menjadi proyek dan implementasi nyata di Indonesia. Dini

Indosolar 2026, AESI Nilai Indonesia Berpeluang Percepat Pengembangan Energi Surya Nasional Indosolar 2026, AESI Nilai Indonesia Berpeluang Percepat Pengembangan Energi Surya Nasional Reviewed by Ridwan Harahap on Jumat, Agustus 21, 2026 Rating: 5
Diberdayakan oleh Blogger.