Jakarta, OG Indonesia -- Pertamina New & Renewable Energy (Pertamina NRE), subholding Pertamina di bidang energi baru dan terbarukan, menandatangani tiga kesepakatan strategis pada Jumat (14/8/2026), untuk membangun rantai nilai end-to-end bio-metanol berbasis biogas di Indonesia. Ketiga kesepakatan tersebut meliputi Joint Development Agreement (JDA) bersama perusahaan teknologi Singapura, CRecTech Pte. Ltd., Heads of Agreement (HoA) bersama PT Pertamina Petrochemical Trading (Pertachem), serta Memorandum of Understanding (MoU) bersama Pertamina International Marketing & Distribution Pte. Ltd. (PIMD).
Melalui JDA dengan CRecTech, Pertamina NRE akan mengembangkan fasilitas percontohan biogas-to-bio-methanol di Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Sei Mangkei, Sumatera Utara. Fasilitas berkapasitas sekitar 50 ton bio-metanol per tahun tersebut akan memanfaatkan biogas yang berasal dari Palm Oil Mill Effluent (POME) pada PLTBg Sei Mangkei milik Pertamina NRE.
Teknologi katalis CRecREF milik CRecTech memungkinkan proses konversi biogas menjadi metanol dilakukan melalui dua tahap, dibandingkan proses konvensional yang membutuhkan empat tahap, dengan potensi menekan biaya produksi hingga 50%. Pengembangan fasilitas percontohan ini akan menjadi basis bagi pengembangan proyek dalam skala komersial.
Dalam aspek komersialisasi, Pertamina NRE menandatangani HoA bersama Pertachem untuk membuka jalur penyerapan bio-metanol di pasar domestik, termasuk melalui pembahasan kerangka kerja menuju skema offtake jangka panjang pada fase komersial. Langkah ini menjadi relevan di tengah kebutuhan methanol nasional yang mendekati dua juta ton per tahun, dengan sekitar dua pertiganya masih dipenuhi melalui impor.
Sedangkan melalui MoU bersama PIMD, Pertamina NRE jajaki peluang pasokan dan pemasaran bio-metanol sebagai bahan bakar kapal (marine fuel/bunkering) di pasar internasional. Inisiatif tersebut sejalan dengan arah dekarbonisasi sektor maritim global yang mendorong penggunaan bahan bakar rendah karbon. Inisiatif ini, sekaligus membuka peluang bagi Indonesia untuk berkontribusi dalam penyediaan bahan bakar maritim rendah karbon di pasar global.
Direktur Utama Pertamina NRE John Anis mengatakan, tiga kesepakatan tersebut menjadi langkah konkret Pertamina NRE dalam membangun rantai nilai bio-metanol, mulai dari produksi hingga pasar domestik dan internasional. Pengembangan ini juga mengubah limbah industri kelapa sawit menjadi produk energi bernilai tambah sekaligus mendukung ketahanan energi dan target Net Zero Emission Indonesia 2060.
“Penandatanganan hari ini bukan sekadar seremoni, tetapi merupakan bukti konkret bahwa kami sedang membangun rantai nilai secara lengkap, mulai dari produksi bersama CRecTech, domestic offtake bersama Pertachem, hingga membuka jalur menuju pasar bahan bakar maritim internasional bersama PIMD,” ujar John.
CEO CRecTech Dr. Kang Hui Lim menambahkan, pengembangan bio-metanol membutuhkan kolaborasi berbagai kapabilitas, mulai dari teknologi, infrastruktur, produksi, hingga akses terhadap pasar.
“Kami melihat nilai yang kuat dalam kerja sama ini. Pertamina membawa pengetahuan mengenai Indonesia, infrastruktur energi, pelanggan, dan pasar, sementara CRecTech membawa teknologi dan pengalaman. Bersama-sama, kami dapat menghubungkan teknologi, produksi, komersialisasi, dan kebutuhan pasar yang akan menjadi kunci bagi pengembangan selanjutnya,” tutur Kang.
Direktur Utama PT Pertamina Petrochemical Trading Aribawa mengatakan, pengembangan bio-metanol berpotensi membuka fondasi bisnis baru yang dapat berkembang ke depannya.
“Metanol telah menjadi bagian dari portofolio perdagangan Pertachem. Dengan teknologi CRecTech serta sumber daya dan kapabilitas energi terbarukan Pertamina NRE, kami berharap dapat mengembangkan bio-metanol yang mendukung agenda transisi energi Indonesia. Bagi Pertachem, kesepakatan ini merupakan langkah nyata untuk membangun fondasi bisnis baru yang dapat terus berkembang,” ujarnya.
Pengembangan bio-metanol berbasis biogas menjadi bagian dari upaya Pertamina NRE mendorong hilirisasi sumber daya dan pengembangan energi rendah karbon. Dengan memanfaatkan POME sebagai sumber biogas, inisiatif ini berpotensi menangkap emisi metana yang sebelumnya terlepas ke atmosfer, sekaligus mengubah limbah industri kelapa sawit menjadi produk energi bernilai tambah.
Selain mendukung diversifikasi energi dan penguatan ketahanan energi nasional, pengembangan ini juga membuka peluang pemanfaatan bio-methanol untuk kebutuhan domestik maupun pasar internasional, serta memperkuat peran Pertamina NRE dalam pengembangan solusi energi baru dan terbarukan menuju target Net Zero Emission 2060. RH
Reviewed by Ridwan Harahap
on
Rabu, Agustus 19, 2026
Rating:



