Tangerang Selatan, OG Indonesia -- Konsep Virtual Power Plant (VPP) dinilai memiliki peran strategis dalam mendukung penyediaan pasokan energi listrik bersih di Ibu Kota Nusantara (IKN). Pemanfaatan teknologi tersebut menjadi salah satu solusi untuk mengintegrasikan berbagai sumber energi terbarukan sekaligus menjaga keandalan sistem kelistrikan menuju target net zero emission (NZE) pada 2045 di IKN.
Hal tersebut disampaikan Peneliti Ahli Muda Pusat Riset Teknologi Kelistrikan (PRTK), Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Abdul Wachid Syamroni dalam Kelas Periset Edisi ke-18 bertajuk Peran Virtual Power Plant dalam Akselerasi Pasokan Energi Listrik IKN menuju 100 Persen Green, Clean, and Low Emission 2045 yang digelar secara daring, Rabu (29/7/2026).
Syamroni menjelaskan bahwa target NZE 2045 di IKN merupakan amanat regulasi pembangunan IKN. Target tersebut lebih cepat dibandingkan target nasional Indonesia yang menargetkan pencapaian NZE pada 2060.
“PRTK BRIN terus mengembangkan berbagai inovasi untuk mendukung transformasi sistem energi di Ibu Kota Nusantara (IKN). Melalui berbagai inovasi tersebut, PRTK BRIN menargetkan seluruh pasokan listrik di IKN dapat bersumber dari energi bersih,” ujarnya.
Menurut Syamroni, pencapaian target tersebut memerlukan transformasi menyeluruh, baik dari sisi penyediaan maupun konsumsi energi. Pada sektor hulu, pembangkit listrik harus mengandalkan sumber energi ramah lingkungan. Sementara pada sektor hilir, diperlukan peningkatan penggunaan teknologi berbasis energi bersih oleh masyarakat dan sektor industri.
“Di sisi hulu, pasokan listrik harus berasal dari pembangkit berbasis energi bersih, hijau, dan bebas emisi. Adapun di sisi hilir, konsumsi energi listrik perlu diarahkan secara bertahap menuju pemanfaatan teknologi berbasis energi bersih,” jelasnya.
Lebih lanjut, ia mengungkapkan bahwa salah satu tantangan utama dalam pemanfaatan energi terbarukan adalah ketidaksesuaian antara waktu produksi energi dan pola konsumsi listrik. Pembangkit energi terbarukan memiliki karakteristik produksi yang tidak selalu sejalan dengan waktu permintaan listrik. Sebagai contoh, pembangkit listrik tenaga surya menghasilkan energi optimal pada siang hari, sedangkan kebutuhan listrik di banyak wilayah Indonesia justru meningkat pada malam hari.
Untuk mengatasi tantangan tersebut, Syamroni menekankan pentingnya penerapan teknologi penyimpanan energi sebagai penghubung antara pasokan dan kebutuhan listrik. Dalam konteks ini, VPP berperan mengintegrasikan berbagai sumber energi terbarukan dengan sistem penyimpanan energi sehingga pasokan listrik tetap andal meskipun bersifat fluktuatif.
“Kita membutuhkan teknologi bridging, seperti sistem penyimpanan energi berbasis baterai dan teknologi lainnya. Teknologi tersebut berperan menjembatani pasokan energi dengan kebutuhan masyarakat,” ujarnya.
Ia menambahkan, pengembangan VPP tidak hanya mengoptimalkan pemanfaatan energi terbarukan. Pengembangan tersebut juga menjadi fondasi bagi sistem kelistrikan masa depan yang lebih cerdas, fleksibel, dan rendah emisi.
"Integrasi pembangkit energi terbarukan, sistem penyimpanan energi, serta teknologi digital diharapkan dapat meningkatkan keandalan pasokan listrik. Integrasi tersebut sekaligus menjadi langkah penting dalam mempercepat transisi energi nasional,” katanya.
Melalui riset dan inovasi yang dilakukan BRIN, Syamroni berharap teknologi VPP dapat menjadi solusi strategis untuk mewujudkan sistem kelistrikan IKN yang sepenuhnya berbasis energi bersih pada 2045. Ia juga meyakini pengembangan teknologi tersebut akan membuka peluang baru bagi masyarakat.
“Melalui inovasi tersebut, BRIN berkontribusi dalam mendukung pencapaian target transisi energi nasional. Inovasi ini juga menjadi bagian dari upaya pengurangan emisi karbon secara berkelanjutan,” ujarnya. RH
Reviewed by Ridwan Harahap
on
Sabtu, Agustus 08, 2026
Rating:



