Jakarta, OG Indonesia -- Evaluasi tapak pembangkit listrik tenaga nuklir (PLTN) membutuhkan pemahaman menyeluruh terhadap berbagai bahaya yang berpotensi memengaruhi keselamatan fasilitas. Untuk mendukung kebutuhan tersebut, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengembangkan pendekatan multi-hazard yang mengintegrasikan berbagai informasi bahaya eksternal, termasuk gempa, likuifaksi, tsunami, gunung api, dan sesar aktif.
Salah satu pengembangan yang dilakukan BRIN adalah metodologi klasifikasi bahaya likuifaksi secara probabilistik atau probabilistic liquefaction hazard classification. Pendekatan ini menjadi bagian dari penelitian untuk memperkuat evaluasi kelayakan tapak instalasi nuklir dengan mempertimbangkan kondisi tanah dan potensi bahaya secara lebih terukur.
Likuifaksi merupakan fenomena ketika tanah jenuh air mengalami penurunan kekuatan dan kekakuan akibat guncangan gempa. Kondisi tersebut menjadi salah satu aspek yang perlu diperhitungkan dalam evaluasi tapak karena dapat memengaruhi respons tanah dan kondisi fasilitas ketika terjadi gempa.
“Dalam evaluasi tapak, kita tidak bisa hanya melihat bahaya gempa dari sisi guncangannya. Kondisi tanah dan potensi likuifaksi juga perlu diperhitungkan karena dapat memengaruhi respons tapak terhadap kejadian gempa,” kata Periset Pusat Riset Teknologi Reaktor Nuklir (PRTRN) BRIN, Akhmad Muktaf Haifani, dalam wawancara daring dengan Tim Humas BRIN, Rabu (30/9/2026).
Pendekatan yang dikembangkan BRIN menghasilkan klasifikasi tingkat bahaya likuifaksi berdasarkan pendekatan probabilistik. Informasi tersebut dapat digunakan sebagai salah satu masukan teknis dalam evaluasi tapak dan selanjutnya dipertimbangkan bersama hasil kajian bahaya lainnya.
Muktaf menyatakan, tantangan dalam evaluasi tapak bukan hanya mengidentifikasi setiap jenis bahaya, tetapi juga memahami bagaimana berbagai bahaya tersebut dapat muncul dan berpotensi saling berkaitan.
“Pendekatan multi-hazard penting karena kondisi suatu tapak dapat dipengaruhi oleh beberapa sumber bahaya sekaligus. Tantangannya adalah bagaimana mengkarakterisasi setiap bahaya dengan baik, kemudian melihat kemungkinan kombinasinya dalam kaitannya dengan keselamatan fasilitas,” jelasnya.
Pengembangan metode multi-hazard BRIN diarahkan untuk membangun kerangka evaluasi yang tidak memandang seismic hazard, volcanic hazard, tsunami, likuifaksi, dan capable fault secara terpisah. Masing-masing bahaya perlu dikarakterisasi dengan pendekatan yang sesuai, kemudian hasilnya dihubungkan dengan kebutuhan site suitability dan safety assessment.
Pendekatan tersebut dipresentasikan Muktaf dalam Technical Meeting on External Hazard Assessment – 20th Plenary Meeting of the External Events Safety Section Extrabudgetary Programme (EESS-EPP) yang diselenggarakan Badan Tenaga Atom Internasional (IAEA), di Wina, Austria, 22–25 September 2026.
Dalam forum tersebut, Muktaf mempresentasikan penelitian berjudul “Multi-Hazard Criteria for Nuclear Site Evaluation with Application of Probabilistic Liquefaction Hazard Classification”, pada sesi Member State Experience and Expectations, 24 September 2026.
Forum IAEA menjadi ruang bagi BRIN untuk mendapatkan masukan terhadap pengembangan metodologi sekaligus membandingkan pendekatan yang dikembangkan di Indonesia dengan pengalaman negara anggota lainnya. Pembahasan mencakup seismic hazard assessment, seismic site response, bahaya vulkanik, capable fault, karakterisasi tapak, perubahan iklim, hingga evaluasi keselamatan advanced reactors dan small modular reactor (SMR).
“Yang kami bawa dari forum ini bukan hanya hasil penelitian, tetapi juga masukan dan perspektif dari komunitas internasional. Itu menjadi bahan penting untuk mengembangkan metodologi yang lebih sesuai dengan karakteristik Indonesia,” kata Muktaf.
Kontribusi BRIN dalam forum tersebut tidak berhenti pada presentasi penelitian. BRIN juga terlibat sebagai panelis dalam diskusi SEED Review Services IAEA dengan membawa perspektif Indonesia sebagai embarking country.
Keterlibatan tersebut memberikan kesempatan bagi Indonesia untuk menyampaikan kebutuhan dan tantangan dalam membangun kapasitas nasional, khususnya terkait evaluasi tapak, pengembangan kompetensi, serta pemanfaatan layanan review IAEA.
“Sebagai embarking country, kita tidak hanya membutuhkan referensi teknis, tetapi juga perlu memastikan metodologi dan proses review dapat diterapkan sesuai dengan kondisi serta kebutuhan Indonesia,” ujar Muktaf.
Menurutnya, penguatan kemampuan evaluasi tapak perlu dilakukan secara bertahap dan terintegrasi. Selain metodologi, kesiapan sumber daya manusia, data, perangkat analisis, dan pengalaman teknis juga menjadi bagian penting dalam membangun kapasitas nasional.
Peluang Kerja Sama dengan Korea
Dari forum tersebut, BRIN juga menjajaki peluang kerja sama teknis dengan Korea Atomic Energy Research Institute (KAERI), antara lain terkait penggunaan combined hazard risk assessment software (COHRISK) untuk mendukung analisis multi-hazard pada calon tapak di Indonesia.
Kerja sama dan pengembangan penelitian selanjutnya diarahkan pada penguatan probabilistic liquefaction hazard assessment, seismic hazard dan fault capability, serta probabilistic fault displacement hazard analysis (PFDHA). Pengembangan tersebut akan mempertimbangkan kondisi tektonik, geologi, karakteristik tapak, serta kerangka regulasi yang berlaku di Indonesia.
“Ke depan, kami ingin pengembangan metodologi ini tidak berhenti pada satu jenis bahaya. Hasil kajian seismic hazard, fault capability, likuifaksi, dan bahaya lainnya perlu diintegrasikan sehingga memberikan informasi yang lebih utuh untuk evaluasi tapak,” ungkap Muktaf.
Bagi BRIN, pengembangan evaluasi tapak berbasis multi-hazard merupakan bagian dari penguatan kapasitas riset nasional dalam bidang keselamatan instalasi nuklir. Metodologi yang terus dikembangkan diharapkan dapat menyediakan dasar ilmiah yang lebih kuat dalam memahami karakteristik calon tapak dan berbagai bahaya yang mungkin memengaruhinya. RH
Reviewed by Ridwan Harahap
on
Kamis, Oktober 01, 2026
Rating:




