![]() |
| Kompleks CEOR Area A di Lapangan Minas yang dikelola PT Pertamina Hulu Rokan (PHR) jika dilihat dari menara pandang. Foto-foto: Ridwan Harahap |
Siak, OG Indonesia – Pagi itu di Wisma Sungkai, Rumbai Camp, kawasan pemukiman dan perkantoran PT Pertamina Hulu Rokan (PHR) yang ada di kota Pekanbaru, Riau, suasana terasa tenang dan asri. Hamparan rumput hijau terbentang luas di seberang jalan yang ada di depan wisma. Di sana ada segerombolan monyet liar berkeliaran bebas di atas rerumputan. Ada yang duduk santai, ada pula yang mulai sibuk mencari makan. Terlihat juga deretan panel surya pada sisi lainnya, seolah siap menangkap energi matahari yang mulai mengintip dari ufuk timur.
Sebanyak
empat jurnalis dari Jakarta—termasuk OG Indonesia—telah siap di Wisma
Sungkai dengan setelan wearpack biru Pertamina, safety shoes, serta
kelengkapan keselamatan lainnya seperti helm, sarung tangan, dan kacamata safety.
Sekitar pukul 07.30, rombongan jurnalis
Jakarta bergabung dengan sejumlah awak media lokal dari Riau untuk bersama-sama
bergerak dengan tiga mobil HiAce menuju Lapangan Minas di Kabupaten Siak.
Iring-iringan
kendaraan membelah Jl. Bypass Chevron peninggalan operator Blok Rokan terdahulu
yaitu Chevron sebelum dialih kelola Pertamina. Jalan khusus tersebut
menghubungkan Rumbai di Pekanbaru, hingga Minas dan Perawang di Kabupaten Siak.
Kendati jalan lengang, ketertiban dan kedisiplinan diutamakan. Laju kendaraan
tak pernah melampaui 70 kilometer per jam. Setiap melewati persimpangan jalan
pun sopir selalu disiplin berhenti sejenak guna melihat apakah kondisi lalu
lintas di sekitar aman untuk dilalui.
Pada pukul
08.15 rombongan wartawan tiba di bangunan menara pandang proyek Chemical
Enhanced Oil Recovery (CEOR) yang ada di Lapangan Minas. Asal tahu saja, Minas
merupakan salah satu dari sepuluh lapangan utama yang ada di Wilayah Kerja (WK)
Rokan. Adapun WK Rokan yang kini dikelola PHR terhampar seluas 6.220 kilometer
persegi di lima kabupaten yang ada di Provinsi Riau, yaitu Siak, Bengkalis,
Kampar, Rokan Hulu, dan Rokan Hilir.
Rombongan
disambut tim CEOR PHR yang menjelaskan fasilitas yang terdapat pada proyek CEOR
Minas Stage-1 (Area A). Dari menara pandang, terlihat luas kompleks CEOR Minas
Area A dengan berbagai fasilitasnya, mulai dari fasilitas pencampuran dan
injeksi bahan kimia, fasilitas pengolahan air (water treatment),
fasilitas pengolahan minyak (oil treating)¸hingga fasilitas penanganan
air limbah dan pembuangan.
“Proyek Area
A ini jika berhasil, itu akan dikembangkan untuk seluruh Minas, kemudian untuk
seluruh Wilayah Kerja Rokan yang ada di Riau, dan pastinya untuk Indonesia.
Jadi ini seperti mercusuar energi untuk Indonesia. Ketika ini sudah berhasil
nanti, proyek ini akan menjadi kiblatnya,” ucap Zulhendra, Senior Engineer
Reservoir of EOR and Simulation PHR kepada para wartawan, Selasa (20/10/2026).
Siasat untuk
Hadapi Penurunan Produksi
Zulhendra
bercerita, Lapangan Minas dengan luas 204,37 kilometer persegi ditemukan
sebelum Indonesia merdeka pada Desember 1944 dan produksi pertamanya tercatat
pada April 1952. Lapangan ini memiliki 1.982 sumur dengan jumlah sumur aktif
sekitar 1.243 sumur. Total produksi minyak Sumatra Light Crude yang tergolong
ringan dari Lapangan Minas sudah menembus 4,8 miliar barel. Adapun puncak
produksinya pernah mencapai 418.900 barel per hari pada 1973 silam.
![]() |
| Zulhendra, Senior Engineer Reservoir of EOR and Simulation PHR. |
Seiring
waktu, secara alamiah produksi minyak dari Lapangan Minas terus menurun. Untuk
itu perlu siasat untuk menjaga produksi minyaknya dari waktu ke waktu. Zulhendra
mengungkapkan, Minas telah melalui tahap primary recovery kala ekstraksi
minyak dari dalam perut bumi masih mengandalkan energi alami dan alat mekanis
terbatas dengan recovery factor atau persentase total volume minyak dari
dalam reservoir yang dapat diekstraksi secara ekonomis sebesar 10%. Artinya,
masih ada sekitar 90% minyak di dalam reservoir yang belum terangkat.
Kemudian Minas juga telah melewati masa secondary recovery saat upaya menyedot minyak dibantu metode waterflood alias didorong dengan injeksi air dengan recovery factor hingga 40%. Dan kini Minas memasuki era tertiary recovery lewat upaya menguras minyak dengan cara Enhanced Oil Recovery (EOR) menggunakan injeksi bahan kimia (chemicals). “Dengan menggunakan chemicals yang kita injeksikan itu bisa mencapai 60% lebih. Jadi intinya bahwa effort ini adalah untuk menambah paling tidak 20% lagi recovery factor kita,” terang Zulhendra.
Wakil
Direktur Utama PT Pertamina (Persero) Oki Muraza membeberkan dari Original Oil
in Place (OOIP) atau total volume minyak awal di Minas yang sebesar 8 milar
barel, saat ini masih tersisa sekitar 4 miliar barel. “Ini sedang kita kejar dengan
Enhanced Oil Recovery, insyaallah tahun ini akan kita injeksi di Minas
A, nanti dilanjutkan dengan Minas B, dan seterusnya,” jelas Oki saat Rapat
Dengar Pendapat (RDP) dengan Komisi XII DPR RI, Rabu (26/8/2026) lalu.
Untuk
menguras minyak yang tertinggal tersebut diperlukan formula bahan kimia yang
berfungsi seperti sabun saat membersihkan kotoran makanan dan minyak waktu
mencuci piring. “Jadi bahan kimia ini berupa apa? Itu sama seperti sabun.
Surfaktan, surfactant itu surface-active agent,” jelasnya. “Jadi
intinya persis seperti bagaimana kita cuci piring lah. Piringnya itu
adalah batuan di bawah, minyak yang menempel di piring adalah beneran minyak
di dalam batuan yang masih menempel, dan sabunnya itu adalah surfaktan,”
sambung Zulhendra.
![]() |
| Formula surfaktan yang diformulasikan PHR untuk mengembalikan produksi minyak dari Lapangan Minas lewat proyek CEOR. |
Lewat
pemakaian surfaktan tersebut dapat menguras sisa minyak yang masih tersisa di
batuan agar dapat terlepas sehingga bisa disedot ke permukaan. Dengan demikian
produksi minyak Minas yang pada 2025 lalu berkisar 29.000 barel per hari dapat
dijaga dan bahkan ditingkatkan. Dalam siaran pers di laman resmi Pertamina
tanggal 23 Desember 2025, disebutkan bahwa pilot project CEOR Lapangan
Minas Area A yang diresmikan di Rumbai pada tanggal tersebut menargetkan
peningkatan perolehan minyak sebesar 12% hingga 16% dari OOIP.
Dalam
perjalanannya, pada medio 2026, Kepala Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan
Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) Djoko Siswanto, menyampaikan pilot
project CEOR Minas Area A mulai membuahkan hasil. "Alhamdulillah,
proyek EOR PHR lapangan minyak Minas saat ini telah menunjukkan hasil nyata
yaitu dalam waktu enam bulan sejak injeksi bahan kimia di Area A pada bulan
Desember 2025, saat ini di bulan Juni 2026, produksinya sudah meningkat 300
persen tercapai sesuai dengan yang direncanakan," ungkap Kepala SKK Migas
dalam laporannya seperti informasi yang didapatkan OG Indonesia, Selasa
(23/6/2026) lalu.
Pernyataan
senada disampaikan Zulhendra, di mana sampai saat ini, pilot project CEOR
Minas Area A pelaksanaannya masih on track. “Injeksi dilakukan dan
respons produksinya terus dipantau. Hasil yang diamati sejauh ini masih sejalan
dengan simulasi. Belum terlihat penyimpangan berarti dari rencana,” ungkapnya.
Seperti disampaikan sebelumnya, keberhasilan implementasi CEOR di Area A ini
tentunya akan membuka peluang penerapan CEOR dalam skala komersial di lokasi
lainnya di WK Rokan, mulai dari Minas Area B, C, dan D, hingga area Balam
South, Balam, Bangko, dan Petani.
Mengulik
Formula Sendiri
Lalu
bagaimana lika-liku Pertamina mencari formula CEOR yang tepat? Riwayat CEOR
Minas bisa ditarik jauh ke tahun 1994 saat Chevron yang masih menjadi operator
WK Rokan memulai banyak studi EOR screening seiring menuanya Lapangan
Minas. Selanjutnya pada kurun waktu 1997-2002 dikerjakan SFT-1 Project
dengan memakai surfaktan. Hasilnya, recovery factor mencapai 11%.
Kemudian pada tahun 2009-2013 dilakukan SFT-2 Project, masih menggunakan
surfaktan, dengan hasil recovery factor-nya pada kisaran 17%-22%. Terakhir, Chevron melaksanakan PFT Project
dengan memanfaatkan polimer, bukan surfaktan. Hasilnya lumayan bagus dengan recovery
factor 5%.
Pasca alih kelola WK Rokan dari Chevron ke Pertamina di tahun 2021, Pertamina pun tak mau ketinggalan untuk berinovasi mencari formula surfaktan sendiri. Bisa dikatakan Pertamina harus dimulai dari nol dan mengulik sendiri formula surfaktan untuk Minas, sebab operator lama memiliki hak paten formula CEOR untuk Minas dan membawanya pulang setelah hengkang dari Rokan. Pertamina pun memulai pilot project CEOR Minas di Area A dengan kombinasi chemicals ASP (Alkali, Surfaktan, Polimer). Selain itu dilakukan pula uji coba CEOR Minas di Area D dengan menggunakan polimer.
Diterangkan M. Hatta Nasution, Analyst Lab dari PHR, kala ditemui di laboratorium tempat kerjanya di dalam kompleks CEOR Minas Area A, bahwa diperlukan proses yang cukup melelahkan sampai akhirnya tim PHR menemukan formula surfaktan sendiri yaitu PHR-24. Adapun saat ini intellectual property PHR-24 sudah dipatenkan Pertamina.
Formulasi tidak dibuat secara instan. Tim laboratorium PHR yang terdiri dari 27 personel terus-menerus melakukan pengujian bahan kimia dan operasional injeksi. Tim juga mengolah sampel di laboratorium serta menggarap data di depan layar komputer. Laboratorium berperan penting melakukan pengujian guna mendukung keberhasilan tim proyek CEOR dengan rata-rata ada sekitar 3.000 sampel per bulan dengan total sekitar 8.000 parameter analisis. Sebagai informasi, satu sampel dapat diuji dengan beberapa parameter. Alhasil, pengembangan yang dimulai pada 2022 baru mendapatkan formula yang sesuai pada 2024.
“Kami
bekerja selama 24 jam karena sampel diambil setiap dua, empat, atau enam jam,
dan sebagian diperiksa setiap hari. Pemantauan juga dilakukan di fasilitas
lapangan. Kami melakukan sekitar 70 variasi kombinasi dan lebih dari 200 kali
percobaan. Baru dapat surfaktan yang cocok untuk Lapangan Minas Area A,” jelas
Hatta seraya mengingatkan bahwa untuk area lain formula surfaktannya mungkin
berbeda sehingga diperlukan kombinasi lain.
Setelah
formula diciptakan, selanjutnya investasi pun mulai digelontorkan pada 2024. Fasilitas yang
digunakan pada uji coba sebelumnya diremajakan dan disesuaikan untuk mendukung
pelaksanaan proyek. Sampai akhirnya kegiatan injeksi chemicals ke sumur pada
akhirnya dimulai pada penghujung 2025. “Kita buat proof of concept dulu
dari pilot project/prototipe. Agak besar sedikit kemudian ada proof
of expandability, bisa nggak lebih besar lagi? Baru kemudian skala penuh.
Tahapan itu harus kita lalui, karena modalnya sangat besar, jadi kita harus
berhati-hati sekali,” lanjut Zulhendra.
Sinergi
Pertamina Group
Dalam
usaha fomulasi PHR-24, Hatta mengungkapkan tak terlepas dari dukungan Anak
Perusahaan (AP) lain dari Pertamina Group, seperti PT Pertamina Lubricants
(PTPL) dan PT Elnusa Petrofin (EPN). Seperti
PTPL yang membantu melakukan blending atau kegiatan pencampuran
bahan kimia sesuai formula yang diberikan tim PHR. “Mereka (PTPL) akan
membantu mem-blending sesuai dengan formulasi kami. Baru mereka jual, tetapi
formulanya tetap dari kami,” ucap Hatta. “Begitu juga dengan EPN. EPN itu
selain membantu blending juga membantu untuk injeksi juga sebenarnya.
Injeksi seperti yang dilakukan di Area D dan Balam,” tambah Zulhendra.
Dalam
acara temu media pada medio 2025 lalu, Budi Kurniawan, Project Coordinator PT
Pertamina Lubricants menegaskan bahwa PTPL turut berperan sebagai mitra teknis
dalam mengeksekusi proses blending, Quality Assurance/Quality Control
(QA/QC), netralisasi, hingga distribusi slug surfaktan ke lokasi proyek.
“PTPL yang dalam hal ini sudah berpengalaman memproduksi dan memasarkan produk
pelumas specialty lubricants diberikan kepercayaan lebih untuk
meningkatkan kapabilitasnya untuk memproduksi dan menyuplai Chemical EOR yang
dibutuhkan rekan-rekan upstream,” ujar Budi saat itu.
Pihak Elnusa
sebagai induk usaha EPN juga membeberkan jalinan sinergi antara PHR dan EPN
dalam upaya formulasi PHR-24. Andri Haribowo, Direktur Operasi PT Elnusa Tbk
menyampaikan inovasi EOR dengan chemicals sudah diimplementasikan di
Rokan sebagai sentra riset dengan dukungan dari Elnusa Group. “Bersama-sama
kami melakukan uji coba di beberapa klaster yang ada di sana (Rokan),” kata
Andri pada acara diskusi “Elnusa Energy Connect” yang diikuti OG Indonesia di Graha Elnusa, Jakarta,
Kamis (22/10/2026).
Dalam
kesempatan yang sama, Hana Timoti, SVP Technology Innovation &
Implementantion PT Pertamina (Persero) menekankan pelaksanaan inovasi CEOR ini
menjadi salah satu langkah yang dilakukan Pertamina untuk mendorong terjadinya
kenaikan produksi minyak di Rokan. “Mudah-mudahan apa yang dilakukan oleh kami
di seluruh Pertamina Group untuk menaikkan produksi di Rokan bisa berhasil
sehingga dapat mengurangi impor dari crude serta dapat mewujudkan swasembada
energi,” harap Hana.
Apresiasi atas Kerja Keras Pertamina
Atas
usaha dan kerja kerasnya mencari formula CEOR yang tepat untuk Minas, Ketua Komite Investasi Asosiasi
Perusahaan Minyak dan Gas Bumi Nasional (Aspermigas) Moshe Rizal memberikan
apresiasinya. “Pertamina sudah melakukan yang terbaik,”
tegas Moshe kepada OG Indonesia, Sabtu (24/10/2026). Dia menjelaskan
usaha Pertamina terbilang berat karena untuk mencari formula CEOR yang pas
harus dimulai hampir dari awal kembali. “Padahal, seharusnya sebagian
pengetahuan dan teknologi sudah dapat diteruskan dari pengelola sebelumnya,”
sambungnya.
![]() |
| Upaya tim CEOR PHR dan Pertamina Group dalam mengembangkan CEOR untuk Lapangan Minas dan lapangan-lapangan minyak lainnya di wilayah Rokan menuai apresiasi. |
Potensi pengembangan EOR menurut Moshe memang harus dikembangkan sebagai salah satu cara untuk menguras sumur minyak yang ada dan menambahkan produksi minyak nasional. Moshe bahkan memberi masukan bahwa sejatinya langkah EOR sudah mulai dijalankan saat suatu lapangan minyak masih dalam fase primary recovery.
“EOR semestinya mulai dikembangkan ketika
produksi masih berada pada tahap primary recovery. Jangan menunggu
sampai lapangan masuk ke tahap secondary atau tertiary recovery,
baru mulai menerapkannya. Pada saat itu, produksi biasanya sudah menurun dan
momentum untuk mengembangkan EOR bisa hilang,” paparnya.
Namun menurutnya tetap perlu adanya
kehatian-hatian dalam melakukan investasi terkait EOR, karena berhubungan
langsung dengan masalah keekonomian lapangan yang berkelindan dengan fluktuasi
harga minyak yang tidak bisa diprediksi. Kendati demikian, Moshe mengingatkan
bahwa penelitian EOR tetap perlu dilakukan. “Ke depan, teknologi ini tetap
dibutuhkan, terutama di sejumlah lapangan. Tapi pelajaran lainnya, penelitian EOR
tidak harus selalu berfokus pada chemicals. Teknologi lain, seperti
injeksi CO₂, juga perlu dipertimbangkan,” saran Moshe.
Sepak terjang PHR mengembangkan CEOR untuk Lapangan Minas kiranya akan menjadi mercusuar energi sebagai pandu cahaya bagi lapangan-lapangan minyak lainnya di bumi pertiwi yang tengah memasuki fase mature. Harapannya, setitik cahaya kecil dari mercusuar energi itu akan meningkatkan kembali produksi migas negeri serta mengantar Indonesia menuju swasembada energi. RH
Reviewed by Ridwan Harahap
on
Jumat, Oktober 30, 2026
Rating:









