ITEC 2026 Digelar di Jakarta, IRATA Dorong Penguatan Standar Rope Access di Industri Migas


Skill terkait rope access banyak digunakan untuk pekerjaan di ketinggian dengan menggunakan tali dari berbagai sektor.
Foto-foto: Ridwan Harahap

Jakarta, OG Indonesia -- International Rope Access Trade Association (IRATA) menggelar IRATA Technical Event and Conference (ITEC) 2026 pada 7–8 Oktober 2026 di Sheraton Grand Jakarta Gandaria City Hotel, Jakarta. Untuk pertama kalinya digelar di Indonesia, kegiatan ini mempertemukan lebih dari 200 perusahaan member dari berbagai negara untuk membahas perkembangan teknologi, standar, regulasi, keselamatan, serta pelaksanaan operasi rope access.

Commissioner PT Gamma Buana Persada, Sabandi Ismadi, selaku member IRATA di Indonesia yang turut menyelenggarakan ITEC 2026 mengatakan event ini merupakan salah satu kegiatan teknis dan konferensi yang diselenggarakan IRATA untuk mempertemukan para pelaku industri rope access dari berbagai negara.

"ITEC adalah IRATA Technical Event and Conference yang saat ini diadakan di Indonesia. Ini pertama kali diadakan di Indonesia dan dihadiri sekitar lebih dari 200 member rope access dari seluruh dunia," ujar Sabandi kepada OG Indonesia di sela-sela kegiatan ITEC 2026, Rabu (7/10/2026).

Diterangkan olehnya, IRATA merupakan asosiasi internasional yang menaungi berbagai aspek industri rope access, mulai dari sertifikasi personel, perusahaan, hingga peralatan yang digunakan untuk pekerjaan di ketinggian dengan menggunakan tali.

ITEC 2026 ini menjadi forum bagi perwakilan perusahaan anggota IRATA dan pemangku kepentingan industri rope access untuk membahas aspek keselamatan, pengembangan, serta pelaksanaan operasi rope access secara global.

ITEC 2026 di Jakarta mempertemukan stakeholder rope access dari berbagai belahan dunia.

Tahun ini, penyelenggaraan ITEC memiliki arti penting bagi Indonesia dan kawasan Asia Tenggara karena menjadi platform untuk membahas perkembangan industri rope access di kawasan tersebut, sekaligus memperkuat dialog antara pelaku industri dengan para pemangku kepentingan.

Selain konferensi teknis, ITEC 2026 juga menghadirkan pameran yang menampilkan berbagai peralatan rope access yang telah mendapatkan persetujuan IRATA. Sejumlah produsen dari berbagai negara turut hadir, antara lain dari India, China, Prancis, Inggris, Skotlandia, hingga Amerika Serikat.

"Di sini ada konferensi yang membahas regulasi, safety, kemudian bagaimana bekerja di ketinggian dengan aman. Pembicaranya dari internasional, dari sektor migas, pertambangan dan sektor-sektor lainnya," jelasnya.

Rope Access Banyak Digunakan di Industri Migas

Sabandi mengatakan metode rope access banyak digunakan pada industri dengan fasilitas dan struktur yang sulit dijangkau, seperti sektor minyak dan gas, baik offshore maupun onshore, hulu maupun hilir, pertambangan, petrokimia hingga kilang.

IRATA South East Asia Regional Advisory Committee (SEARAC) juga menilai industri migas merupakan salah satu sektor penting yang menggunakan rope access, terutama untuk pekerjaan pada fasilitas industri yang berkaitan erat dengan aspek keselamatan.

Metode tersebut dapat menjadi alternatif pekerjaan di ketinggian yang lebih efisien dibandingkan penggunaan scaffolding, terutama untuk area yang sulit diakses.

Banyak pekerjaan di hulu migas, seperti di platform hulu migas lepas pantai membutuhkan metode rope access guna menunjang kegiatan operasionalnya. 

"Metode ini banyak digunakan di industri-industri tersebut. Ini adalah cara bekerja di ketinggian di area yang tidak dapat diakses lebih cepat. Kalau dengan scaffolding, lama waktu memasangnya dan banyak orang yang digunakan. Jadi metode ini sangat efisien, cepat, kemudian safety," kata Sabandi.

Penggunaan rope access di Indonesia saat ini juga terus berkembang. Sejumlah Kontraktor Kontrak Kerja Sama (KKKS) dan perusahaan migas telah memanfaatkan metode tersebut untuk pekerjaan inspeksi maupun aktivitas lainnya di fasilitas migas.

Sabandi mencontohkan penggunaan rope access pada sejumlah fasilitas milik Pertamina Hulu Energi (PHE), termasuk untuk kegiatan inspeksi pada lebih dari 200 platform. "Di Indonesia sudah banyak dilakukan di beberapa KKKS atau perusahaan minyak lainnya seperti BP Tangguh, Pertamina Hulu Energi, yang lebih dari 200 platformnya itu inspeksinya sudah menggunakan ini," ujarnya.

PT Gamma Buana Persada sendiri merupakan salah satu perusahaan anggota IRATA di Indonesia yang bergerak dalam layanan rope access, termasuk sebagai operator sekaligus perusahaan pelatihan.

Sabandi Ismadi, Commissioner PT Gamma Buana Persada, sebagai salah satu member IRATA di Indonesia yang turut menyelenggarakan ITEC 2026 di Jakarta. 

Menurut Sabandi, Gamma Buana Persada telah mengerjakan berbagai proyek
rope access di sejumlah perusahaan migas, antara lain Pertamina Hulu Energi, Pertamina Hulu Mahakam, ExxonMobil, dan BP Tangguh.

Penggunaan metode serupa juga mulai meluas ke industri pupuk, petrokimia, hingga sektor energi lainnya. "Pasarnya masih bagus. Kemudian mereka semakin hari juga terus melakukan update standar dan regulasi yang semakin ketat," kata Sabandi.

Dorong Penguatan Standar dan Kompetensi

Sabandi menekankan bahwa salah satu aspek penting dalam industri rope access adalah penerapan standar kompetensi dan keselamatan yang ketat.

Personel yang bekerja menggunakan metode tersebut harus menjalani pelatihan dan memperbarui sertifikasinya secara berkala. Sementara perusahaan harus menjalani proses audit, sedangkan peralatan yang digunakan harus memenuhi persyaratan sertifikasi.

"Membernya harus di-training terus. Kalau sudah habis masa berlakunya, setiap tiga tahun harus diperpanjang. Company juga diaudit, peralatan juga harus tersertifikasi," jelasnya.

Standar yang ketat diterapkan dalam ekosistem rope access, mulai dari personel, peralatan, hingga perusahaan.

Menurut dia, IRATA memiliki standar yang menjadi acuan bagi para pelaku industri rope access, termasuk melalui International Code of Practice (ICOP) yang mengatur praktik kerja rope access secara internasional. "Standarnya merujuk ke IRATA, disebut ICOP, International Code of Practice. Itu standar IRATA," tegasnya.

Saat ini, jumlah perusahaan anggota IRATA di Indonesia juga mulai bertambah. Berdasarkan informasi yang disampaikan Sabandi, terdapat sekitar 11 perusahaan yang menjadi member IRATA di Indonesia dan jumlah tersebut berpotensi terus berkembang seiring meningkatnya penggunaan metode rope access.

Perkuat Kolaborasi dengan Sektor Migas

Sektor migas menjadi salah satu bidang yang mendapat perhatian dalam ITEC 2026. Sejumlah pembicara dan peserta dari industri migas hadir dalam agenda konferensi, termasuk perwakilan Direktorat Jenderal Minyak dan Gas Bumi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) serta Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas).

Kehadiran pemangku kepentingan migas tersebut menunjukkan pentingnya pembahasan keselamatan kerja di ketinggian bagi industri yang memiliki banyak fasilitas dengan karakteristik pekerjaan dan risiko tinggi.

Industri rope access ke depannya akan semakin berkembang di Indonesia seiring meningkatnya penggunaan metode rope access oleh banyak industri.

Melalui ITEC 2026, IRATA dan para anggotanya diharapkan dapat memperkuat pertukaran pengetahuan dan pengembangan kompetensi, sekaligus mendorong penerapan standar keselamatan
rope access di Indonesia dan Asia Tenggara.

Bagi industri migas, metode tersebut dapat menjadi salah satu solusi dalam mendukung kegiatan inspeksi, pemeliharaan, dan pekerjaan lainnya pada fasilitas yang berada di ketinggian maupun lokasi yang sulit dijangkau dengan metode konvensional.

Selain agenda konferensi dan kegiatan teknis, IRATA juga menggelar International Annual Grand Dinner pada 8 Oktober 2026 yang dihadiri para perwakilan senior dan pemangku kepentingan industri rope access. RH

ITEC 2026 Digelar di Jakarta, IRATA Dorong Penguatan Standar Rope Access di Industri Migas ITEC 2026 Digelar di Jakarta, IRATA Dorong Penguatan Standar Rope Access di Industri Migas Reviewed by Ridwan Harahap on Rabu, Oktober 07, 2026 Rating: 5
Diberdayakan oleh Blogger.