![]() |
| PT PLN Energi Primer Indonesia (PLN EPI) melakukan unloading biomassa sawdust untuk cofiring PLTU Awar Awar di Tuban, Jawa Timur. Foto: Dok. PLN EPI |
Jakarta, OG Indonesia – Bagai nafas manusia yang tak boleh berhenti, listrik juga memiliki peran vital bagi kehidupan. Ketika listrik terus menyala, hal itu sudah dianggap sebagai suatu kewajaran. Sementara saat nyala listrik sedikit saja berkedip, banyak telunjuk tangan langsung mengarah ke satu pihak. Ya, PT Perusahaan Listrik Negara (PLN) (Persero) yang menjadi garda terdepan dalam upaya menjaga listrik terus menyala di seluruh penjuru negeri pasti akan disorot setiap kali pasokan listrik untuk publik tidak mumpuni.
Dari kondisi tersebut, Rakhmad Dewanto, Direktur Perencanaan
Korporat dan Pengembangan Bisnis PT PLN (Persero) sekaligus Pelaksana Harian
(Plh) PT PLN Energi Primer Indonesia (PLN EPI), menjelaskan bahwa PLN harus
berupaya untuk mengelola serta mengamankan rantai pasok energi primer untuk
seluruh pembangkitnya yang ada di lingkungan PLN Group. Untuk itu dibentuk subholding
energi primer lewat PLN EPI yang bertugas mengamankan pasokan energi primer
tersebut.
“PLN EPI pada dasarnya bertanggung jawab untuk
mengkonsolidasi pasokan energi primer kepada pembangkit, baik PLN NP (PLN
Nusantara Power), PLN IP (PLN Indonesia Power), maupun beberapa entity lainnya,”
terang Rakhmad saat menjadi pembicara dalam dialog eksekutif pada gelaran
Minerba Convex 2026 di JIExpo, Kemayoran, Jakarta, Selasa (3/11/2026).
Dari Batu Bara hingga Biomassa
Ada beberapa sumber bahan bakar untuk pembangkit PLN, mulai
dari batu bara, gas dan LNG, Bahan Bakar Minyak (BBM), hingga biomassa dan
bioenergi untuk cofiring. Kebutuhan akan semua bahan bakar tersebut
selalu meningkat dari tahun ke tahun. “Yang besar itu batu bara, tahun
2023 kita kelola sekitar 67 juta ton. Tahun 2024, 79 juta ton. Tahun 2025, 87
juta ton, dan tahun ini sekitar 97 juta ton,” beber Rakhmad. (Lihat
kebutuhan energi primer pembangkit PLN dari PLN EPI dari tahun ke tahun selengkapnya
pada tabel di bawah)
Peningkatan Volume
Kebutuhan Energi Primer untuk Pembangkit PLN yang Bersumber dari PLN EPI*
|
Jenis Energi Primer |
2023 |
2024 |
2025 |
2026 |
|
Batu bara
(Juta Metrik Ton) |
67 |
79 |
87 |
96,8 |
|
BBM (Juta
Kilo Liter) |
3,2 |
3,9 |
4,1 |
4,6 |
|
Gas (BBTUD) Termasuk LNG (Kargo) |
1.178 |
1.276 |
1.300 |
1.374 |
|
66 |
84 |
89 |
108 |
|
|
Biomassa
(Juta Metrik Ton) |
1 |
1,7 |
2,3 |
2,4 |
(*Diolah dari data PLN EPI)
Rakhmad menerangkan besaran kebutuhan energi primer batu
bara tersebut adalah yang berasal dari PLN EPI. Di luar itu masih ada sumber
lainnya. “Ini yang dikelola oleh PLN EPI, tetapi sebetulnya yang dibutuhkan PLN
itu ada tambahan 60 juta (ton batu bara) di atas sehingga sekitar 150 juta ton,”
paparnya. Dia melanjutkan, dengan produksi RKAB (Rencana Kerja dan Anggaran
Biaya Batu Bara) tahun 2026 yang sebanyak 700 juta ton, maka PLN menjadi
konsumen terbesar batu bara di dalam negeri dengan kebutuhan mencapai 150
juta ton batu bara.
Sementara untuk kebutuhan BBM untuk pembangkit PLN, Rakhmad
mengatakan terbilang kecil namun peta permintaannya cukup tersebar di berbagai
penjuru negeri. “Kenapa kita masih pakai BBM? Karena ada beberapa pembangkit
diesel yang ada di Indonesia timur yang pulaunya kecil-kecil. Kalau pakai PLTU lumayan
besar dan terlalu mahal,” tutur Rakhmad.
Lalu untuk kebutuhan gas, dia menjelaskan penyerapan PLN
akan gas untuk pembangkit miliknya ternyata sekitar 40% dari kebutuhan domestik
nasional untuk gas. “Jadi the biggest gas buyer,” tegasnya. Sebagai
informasi, sekitar 70% produksi gas bumi nasional sudah dimanfaatkan untuk
kebutuhan domestik, sementara sisanya yaitu 30% diekspor ke luar negeri. “Jadi
kebutuhan PLN sekitar 28 persen dari produksi nasional,” sambungnya.
Masih termasuk gas, LNG (Liquefied Natural Gas) alias gas
alam cair juga mulai meningkat kebutuhannya. “Karena produksi gas pipa dari
lapangan yang cukup tua, jadi dia menurun. Ini kita gantikan dengan gas alam
cair,” terang Rakhmad. “Kalau tahun lalu, kita di dunia sudah nomor 25 pemakai
gas alam cair. Mungkin sekarang sudah naik rangking mendekati 15,” lanjutnya.
Sedangkan untuk kebutuhan biomassa, Rakhmad menjelaskan PLN juga memanfaatkan bahan organik yang berasal dari mahluk hidup seperti jerami, sekam, ranting pohon, cangkang sawit, hingga tandan kosong sebagai campuran bahan bakar batu bara atau cofiring untuk pembangkit listrik. “Jadi ini untuk mengurangi penggunaan batu bara dan juga untuk mendukung pengurangan emisi,” ujarnya.
Seperti pemanfaatan sekitar 2,4 juta ton biomassa untuk
pembangkit listrik pada tahun ini, dijelaskan Rakhmad ini berarti terjadi juga terjadi
pengurangan emisi karbon sebesar 2,4 juta ton. “Ke depan targetnya untuk
biomassa ini sekitar 4-10 juta ton untuk 51 PLTU yang ada di Indonesia,”
ucapnya.
OG Indonesia pada medio 2024 lalu pernah mengunjungi
Sultan Ground di Desa Gombang dan Karangasem, Kabupaten Gunungkidul, DI
Yogyakarta, yang dimanfaatkan PLN EPI sebagai lahan untuk mengembangkan sumber
biomassa guna mendukung program cofiring PLTU.
Bersinergi dengan Keraton Yogyakarta, PLN EPI telah menanam
100.000 bibit tanaman energi, seperti indigofera, gamal, gmelina, hingga
kaliandra merah, di lahan seluas 30 hektare. Tanaman-tanaman tersebut dipilih
karena mampu tumbuh di lahan kritis dan kering, di samping mampu menghasilkan
biomassa yang cukup bagus untuk bahan bakar pembangkit listrik.
Permintaan Listrik yang Terus Meningkat
Lewat perannya sebagai penghubung antara produsen bahan bakar dan pembangkit, PLN EPI memainkan peran krusial dalam menjaga nyala terang negeri. Fungsi tersebut semakin penting seiring semakin tumbuhnya penggunaan listrik di tengah masyarakat. “Pertumbuhan listrik luar biasa, dua tahun lalu agak sedikit turun tapi masih mendekati empat persen. Tahun lalu sudah hampir mendekati lima persen, dan tahun ini antara lima sampai dengan enam persen. Tahun depan mungkin antara enam sampai tujuh persen,” beber Rakhmad.
Kenapa demand listrik meningkat terus dari waktu ke waktu? Rakhmad mengungkapkan banyak faktor yang memengaruhi, mulai dari kian maraknya penggunaan kendaraan listrik, industri-industri yang berkembang, sektor pertanian yang mulai terelektrifikasi, sampai berkembangnya data center.
![]() |
| Rakhmad Dewanto, Direktur Perencanaan Korporat dan Pengembangan Bisnis PT PLN (Persero) sekaligus Pelaksana Harian (Plh) PT PLN Energi Primer Indonesia (PLN EPI), Foto: Ridwan Harahap |
Konsumen Butuh Keandalan
Dari sisi konsumen, isu availability (ketersediaan)
dan reliability (keandalan) pasokan listrik tentu sangat dibutuhkan. Haryanto,
Direktur Komersial PT Krakatau Posco, menegaskan hal tersebut dalam sesi dialog
eksekutif di Minerba Convex 2026. Sebagai pabrik baja terpadu pertama di
Indonesia yang menerapkan teknologi blast furnace, PT Krakatau Posco
yang dibentuk oleh PT Krakatau Steel (Persero) Tbk dan POSCO asal Korea Selatan,
sangat mengharapkan availability dan reliability dari pasokan
listrik PLN.
“Karena kalau sampai berkedip, (listrik) PLN berkedip itu
bisa jadi masalah,” terang Haryanto terkait tantangan utama dari operasional
pabrik perusahaannya yang berlokasi di Cilegon, Banten. Karena itu pihak pihak
Kratau Posco intens menjalin kontak dengan PLN. “Dengan PLN harus sering
berkomunikasi ya, untuk menjaga ketahanan dari pabrik kami,” tutur Haryanto.
Hal senada juga disampaikan Arif Perdana Kusumah, Ketua Umum
Forum Industri Nikel Indonesia (FINI). Menurutnya, industri nikel yang tengah
menggeliat di Indonesia saat ini memerlukan kapasitas listrik yang besar sekaligus
stabil. Sebagai informasi, untuk menghasilkan satu ton nikel dibutuhkan energi
listrik sekitar 15.000 sampai 25.000 kilowatt hour (kWh).
“Mohon izin, kalau kami di dunia industri pengolahan dan pemurnian
mineral, memang umumnya kami membangun apa yang kita namakan Captive Power
Plant. Kenapa demikian? Karena memang industri ini membutuhkan baseload yang
sangat besar dan harus stabil. Karena kami menggunakan furnace (tungku),
yang kalau mati atau berkedip ya itu bisa mengakibatkan kerusakan terhadap furnace
dan peralatan yang ada di pabrik,” beber Arif, masih dari sesi dialog
eksekutif di Minerba Convex 2026.
Siasat Jaga Keandalan Listrik
Dari kondisi permintaan akan kebutuhan listrik yang besar
dan terus meningkat tersebut, PLN harus bersiap. Rakhmad mengungkapkan pada
tahun 2027 mendatang diperkirakan kebutuhan batu bara untuk PLTU di seluruh
Indonesia sebesar 174 juta ton. Rinciannya, batu bara jenis medium rank coal
(MRC) sebanyak 89 juta ton, dan yang low rank coal (LRC) sekitar
76 juta ton. Artinya, desain pembangkit listrik di Indonesia sekitar 50%-60%
tergolong PLTU yang menggunakan MRC.
Namun jika melihat cadangan sumber daya batu bara yang ada
di Indonesia, untuk cadangan berjenis MRC secara teoritis diperkirakan
tersisa sebanyak 4,54 miliar ton. “Kebutuhannya lebih banyak MRC sedikit, tetapi
availibility-nya lebih banyak yang LRC. Tantangan ini yang perlu kita
tangani,” imbuh Rakhmad Dewanto.
PLN punya siasat dengan menyesuaikan PLTU-nya. PLN
menargetkan untuk meng-upgrade dengan mengubah PLTU yang tadinya membutuhkan
batu bara dengan kalori yang cukup tinggi untuk disesuaikan agar mampu menyerap
batu bara dengan kalori yang lebih rendah. Di mana dimensi tungku dan kapasitas
sistem bakar diperbesar guna mengakomodir input batu bara low rank yang
lebih banyak agar menghasilkan energi panas yang sama untuk memutar turbin
PLTU. “Ini butuh waktu karena upgrade itu nggak simpel, karena
untuk mematikan PLTU (untuk proses upgrade) kan kita harus mikir
dan ini butuh investasi juga,” kata Rakhmad.
Memang, PLN dituntut untuk lebih adaptif pada situasi dan
kondisi nyata yang ada di Indonesia. Termasuk dengan menyesuaikan PLTU-PLTU
yang ada agar bisa tetap beroperasi dengan bahan bakar batu bara low rank yang
lebih banyak tersedia pasokannya. “Jadi istilahnya kalau biasa makan nasi dan nggak
makan singkong, tetapi sekarang nasinya sudah mulai habis jadi harus
dibiasakan ada komposisi singkongnya,” kiasnya.
Dalam kesempatan berbeda, Direktur Utama PT PLN (Persero)
Suroso Isnandar menegaskan bahwa PLN tengah menggulirkan transformasi bisnis
dengan menempatkan keandalan sistem ketenagalistrikan sebagai prioritas utama.
Di samping itu upaya memastikan keterjangkauan tarif listrik bagi masyarakat
juga tetap diutamakan. Dalam menghadapi transisi energi, PLN juga harus menjaga
keseimbangan bauran energi agar target pengembangan energi bersih tetap
memperhatikan aspek biaya dan kemampuan pasokan.
"Bagi PLN, keandalan sistem adalah hal yang utama. Kami
akan memastikan bahwa transisi menuju energi bersih dilaksanakan dengan
mempertimbangkan keseimbangan bauran energi, sehingga upaya kami dalam mencapai
kedaulatan energi tetap sejalan dengan keterjangkauan biaya listrik bagi
masyarakat,” ucap Suroso di kantor PLN Pusat, Jakarta, Kamis (5/11/2026).
Ketersediaan pasokan bahan bakar untuk pembangkit kiranya menjadi isu krusial bagi PLN. Namun lewat kerja keras dan upaya nyata, tantangan tersebut harus menjadi cambuk untuk lebih memacu kinerja ketenagalistrikan yang jangan sampai berkedip. RH
Reviewed by Ridwan Harahap
on
Jumat, November 06, 2026
Rating:






