Jakarta, OG Indonesia -- Energi terbarukan bukan sekadar solusi pemenuhan kebutuhan listrik, melainkan juga menjadi penggerak perubahan sosial, ekonomi, dan lingkungan masyarakat desa. Melalui program Desa Energi Berdikari (DEB), PT Pertamina (Persero) terus mendorong pemanfaatan potensi energi lokal untuk menciptakan masyarakat yang mandiri, produktif, dan berkelanjutan.
Dampak nyata program tersebut tercermin dari kisah Burhanudin, Local Hero Desa Tumpak, Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat, serta Jamaludin, Local Hero Dusun Bondan, Desa Ujung Alang, Kecamatan Kampung Laut, Kabupaten Cilacap, Jawa Tengah. Keduanya menjadi penggerak perubahan di wilayah masing-masing melalui inisiatif pemberdayaan masyarakat yang terintegrasi dengan pemanfaatan energi dan pelestarian lingkungan.
Burhanudin menceritakan, ketika kembali ke kampung halamannya pada 2021 setelah menyelesaikan pendidikan, ia mendapati kondisi lingkungan yang memprihatinkan. Kawasan hutan yang dahulu menjadi sumber kehidupan masyarakat mengalami kerusakan akibat deforestasi dan perubahan pola tanam yang didominasi tanaman jagung.
Kondisi tersebut turut berdampak pada kehidupan ekonomi warga yang sebagian besar menggantungkan penghasilan dari peternakan. Bahkan, masyarakat harus menempuh perjalanan sekitar 40 kilometer menuju Mataram untuk mencari pakan ternak.
Berangkat dari kondisi tersebut, Burhanudin bersama masyarakat menginisiasi gerakan pemulihan lingkungan melalui pendekatan agroforestri. Penanaman pohon tidak hanya bertujuan mengembalikan fungsi ekologis hutan, tetapi juga menyediakan sumber pakan ternak, buah-buahan, serta mengembangkan potensi ekowisata.
“Apapun yang terjadi, kampung ini harus kita kembalikan, walaupun kita harus siram dengan keringat dan air mata,” cerita Burhanudin disela DETalk : Desa Berdaya, Energi Terjaga : Cetak Biru Transisi Energi Masa Depan, Senin (2/11/2026).
Hasilnya, bersama masyarakat, sebanyak 30.000 pohon telah ditanam di kawasan seluas sekitar 96 hektare. Gerakan tersebut kemudian berkembang menjadi ekosistem ekonomi baru melalui peternakan, ekowisata, serta pengembangan produk UMKM berbahan dasar kelapa, seperti cocopeat, coconut oil, dan briket.
Kini, Desa Tumpak mampu menarik sekitar 800 wisatawan per tahun, mayoritas wisatawan internasional. Berbagai aktivitas tersebut turut menciptakan perputaran ekonomi sekitar Rp60 juta per tahun dan membuka kesempatan kerja bagi sekitar 60 warga.
Perubahan serupa juga dirasakan masyarakat Dusun Bondan. Jamaludin, Local Hero Dusun Bondan, menceritakan bahwa sebelum 2017, wilayahnya belum memiliki akses listrik. Masyarakat mengandalkan lampu minyak untuk penerangan, sementara aktivitas pendidikan dan ekonomi sangat terbatas.
Selain persoalan listrik, warga juga menghadapi keterbatasan akses air bersih karena sumber air di wilayah tersebut merupakan air payau. Untuk mendapatkan air bersih, masyarakat harus menempuh perjalanan sekitar tujuh kilometer menggunakan perahu.
Kondisi tersebut mulai berubah setelah hadirnya Pembangkit Listrik Tenaga Hibrida (PLTH) yang diinisiasi melalui program Pertamina Patra Niaga RU IV Cilacap. Pemanfaatan energi terbarukan kemudian dikembangkan untuk menjawab kebutuhan masyarakat yang lebih luas.
“Kami tidak hanya menggunakan pembangkit listrik ini untuk penerangan. Kami terus berupaya melakukan inovasi untuk membantu kebutuhan masyarakat,” jelas Jamaludin.
Energi dari PLTH dimanfaatkan untuk mendukung penggunaan aerator pada tambak ikan sehingga produktivitas budidaya dapat ditingkatkan. Selain itu, listrik juga mendukung sistem desalinasi air berbasis masyarakat untuk mengolah air laut menjadi air tawar.
Pemberdayaan masyarakat turut dilakukan melalui pelatihan pengolahan hasil tambak bagi kelompok perempuan. Hasil perikanan yang sebelumnya hanya dijual dalam bentuk bahan baku kini mulai diolah menjadi produk bernilai tambah.
Untuk menjaga keberlanjutan fasilitas dan kegiatan ekonomi tersebut, masyarakat juga membentuk Koperasi Konsumen Bondan Sukses Sejahtera. Koperasi menjadi wadah pengelolaan program, pemberdayaan masyarakat, serta pengumpulan iuran sebesar Rp25.000 per kepala keluarga setiap bulan untuk mendukung operasional dan pemeliharaan PLTH.
Jamaludin menegaskan bahwa keberlanjutan program harus dipersiapkan sejak awal melalui penguatan kelembagaan dan peningkatan kapasitas masyarakat.
“Membangun itu mudah, tetapi menjaganya yang sulit. Karena itu, kita harus menyiapkan orang-orang yang berkompeten dan memiliki dedikasi untuk menjaga keberlanjutan program,” ujarnya.
Sementara itu, Rudi Ariffianto, VP CSR & SMEPP Management Pertamina, menjelaskan bahwa Program Desa Energi Berdikari dirancang untuk mendorong pertumbuhan ekonomi berkelanjutan berbasis potensi sumber daya lokal, baik dari sisi energi maupun sumber daya ekonomi masyarakat.
Menurutnya, pengembangan Desa Energi Berdikari (DEB) tidak berhenti pada pembangunan infrastruktur energi terbarukan, tetapi diarahkan untuk membangun ekosistem pemberdayaan yang mampu meningkatkan produktivitas, pendapatan, dan ketahanan masyarakat desa.
“Ujungnya adalah kita harus mendengar. Tahapan pertama dari delapan pilar CID adalah saling berdiskusi secara mendalam. Melalui social mapping, kita mendengarkan apa yang menjadi kebutuhan, kekurangan, dan harapan masyarakat,” jelas Rudi.
Hingga 2026, Pertamina telah mengembangkan sekitar 310 Desa Energi Berdikari di berbagai wilayah Indonesia, dengan sekitar 60% di antaranya berada di luar Pulau Jawa. Pertamina menargetkan target cukup masif dalam pengembangan DEB yang ditargetkan bisa mencapai 732 desa hingga 2030.
Program tersebut memanfaatkan berbagai sumber energi terbarukan sesuai potensi lokal, mulai dari tenaga surya, biogas, mikrohidro, biodiesel, hingga pembangkit listrik hibrida.
Dari pengembangan tersebut, kapasitas pembangkitan energi terbarukan DEB telah mencapai sekitar 1,5 MWp, dengan produksi biogas sekitar 973 ribu meter kubik. Sebanyak 223 local hero juga telah memperoleh sertifikasi keahlian sebagai Junior Operator untuk mendukung pengoperasian dan pemeliharaan fasilitas energi terbarukan di wilayah masing-masing.
Dampak ekonomi program juga terus berkembang. Secara kumulatif, DEB telah menghasilkan nilai tambah ekonomi sekitar Rp26 miliar per tahun dan memberikan manfaat kepada sekitar 283 ribu orang, baik secara langsung maupun tidak langsung.
Di sektor ketahanan pangan, sebanyak 166 desa telah mengembangkan program berbasis pertanian dan pangan. Pengembangan tersebut menghasilkan sekitar 21 ribu ton beras dan 5 ribu ton komoditas pangan nonberas per satu kali panen dari sekitar 2.000 hektare lahan.
Sementara dari aspek lingkungan, pemanfaatan energi terbarukan melalui DEB berkontribusi terhadap pengurangan emisi sekitar 1,1 juta ton CO2 ekuivalen. Program ini juga mendukung pengelolaan sekitar 145 ribu ton sampah per tahun serta pemanfaatan lebih dari 23 ribu ton kotoran hewan untuk pengembangan energi biogas.
Rudi menegaskan bahwa keberhasilan program tidak hanya diukur dari jumlah pembangkit energi terbarukan yang dibangun atau besarnya pengurangan emisi, tetapi terutama dari dampak nyata yang dirasakan masyarakat.
“Yang paling penting adalah bagaimana pengembangan DEB benar-benar berdampak signifikan kepada masyarakat. Petani bisa meningkatkan kapasitas produksinya, UMKM mendapatkan tambahan pendapatan, dan berbagai aktivitas ekonomi bisa berjalan dengan baik hingga masyarakat mampu mencukupi kebutuhannya,” ungkapnya.
Untuk memastikan keberlanjutan, Pertamina mendorong penguatan kelembagaan ekonomi masyarakat melalui koperasi maupun badan usaha, sekaligus meningkatkan kompetensi local hero agar mampu mengelola fasilitas energi secara mandiri.
Kisah Desa Tumpak dan Dusun Bondan menunjukkan bahwa perubahan besar dapat dimulai dari inisiatif masyarakat setempat. Dukungan perusahaan, pemerintah, perguruan tinggi, dan berbagai pemangku kepentingan kemudian memperkuat langkah tersebut hingga menghasilkan manfaat yang lebih luas.
Melalui Desa Energi Berdikari, Pertamina terus mendorong energi terbarukan menjadi fondasi pembangunan desa yang tidak hanya mandiri secara energi, tetapi juga kuat secara ekonomi, tangguh menghadapi tantangan, dan berkelanjutan dalam menjaga lingkungan. RH
Reviewed by Ridwan Harahap
on
Senin, November 02, 2026
Rating:





