Jakarta, OG Indonesia -- Alih kelola operator Wilayah Kerja (WK) Natuna Sea Block A dari Harbour Energy kepada Prime Natuna EP mulai menunjukkan hasil positif. Perusahaan migas nasional tersebut berhasil meningkatkan produksi gas melalui pekerjaan workover sumur NGA-1 dengan capaian laju produksi mencapai 11,5 juta kaki kubik gas per hari (MMSCFD), atau 821% dari target yang ditetapkan.
Kepala Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) Djoko Siswanto menyampaikan, keberhasilan ini menjadi kabar menggembirakan sekaligus bukti kemampuan perusahaan migas dalam negeri dalam mengoptimalkan produksi lapangan migas nasional.
Pekerjaan workover berupa kerja ulang pindah lapisan tersebut dimulai pada 24 Oktober 2026. Setelah dilakukan perforasi dan production logging tool (PLT), pada 3 November 2026 sumur NGA-1 mencatatkan produksi gas sebesar 11,5 MMSCFD, jauh melampaui target awal sebesar 1,4 MMSCFD.
Produksi tersebut berasal dari sejumlah lapisan, yakni UA Aa-12, UA Aa-11, MA Cb-6, MA Cb-1, dan MA Ca-3a. Sumur tersebut juga sudah dapat langsung diproduksikan (put on production/PoP).
"Ini menjadi bukti bahwa perusahaan migas nasional memiliki kompetensi dan kemampuan untuk mengelola serta mengoptimalkan produksi lapangan migas. Kami berharap keberhasilan ini dapat menjadi motivasi untuk terus meningkatkan produksi migas nasional," ujar Kepala SKK Migas dalam laporannya kepada Menteri ESDM seperti informasi yang didapatkan OG Indonesia, Jumat (6/11/2026) malam.
Dari sisi operasional, pekerjaan dilakukan secara rigless melalui metode through tubing perforation. Hingga 3 November 2026, pekerjaan telah berlangsung selama 12 hari dan akan dilanjutkan dengan pembongkaran peralatan (rig down/RD). Capaian ini lebih cepat dibandingkan rencana awal selama 17 hari.
Selain lebih cepat, pekerjaan tersebut juga mencatatkan efisiensi biaya. Berdasarkan estimasi biaya lapangan, anggaran yang telah dikeluarkan mencapai US$100.861 atau sekitar 68,12% dari total rencana anggaran sebesar US$148.059.
Sebagai informasi, sumur NGA-1 mulai berproduksi pada November 2014 dengan laju awal 22,5 MMSCFD. Namun, sumur tersebut mengalami kondisi ceased to flow atau berhenti mengalir sejak Oktober 2023, dengan produksi terakhir berasal dari lapisan UA Aa-11 dan UA Aa-12.
Keberhasilan mengaktifkan kembali sumur NGA-1 dengan capaian produksi yang melampaui target ini diharapkan dapat memberikan tambahan pasokan gas nasional sekaligus memperkuat peran perusahaan migas dalam negeri dalam pengelolaan wilayah kerja migas Indonesia.
"Semangat dan kompetensi anak negeri dan optimalisasi produksi harus terus kita dorong. Perusahaan migas lokal tidak kalah dan mampu memberikan kontribusi nyata bagi peningkatan produksi migas nasional," tegasnya. RH
Reviewed by Ridwan Harahap
on
Jumat, November 06, 2026
Rating:





