Gen Z Bahas Krisis Iklim Bareng Pakar Internasional


Jakarta, OG Indonesia --
National Aeronautics and Space Administration (NASA) mencatat pada tahun 2021 suhu permukaan bumi meningkat 0,85 derajat celcius dibanding suhu rata-rata tahunan pada periode 1951-1980. Tren kenaikan suhu rata-rata permukaan ini disinyalir merupakan dampak adanya perubahan iklim.

Melansir dari laman resmi Perserikatan Bangsa-Bangsa, faktor yang paling besar mempengaruhi perubahan iklim adalah produksi emisi gas rumah kaca. Dalam Global Energy Review milik International Energy Agency, total produksi emisi gas rumah kaca (GRK)  di tahun 2021 mencapai 40,8 Gt CO2e.

Untuk menanamkan pentingnya menjaga bumi dari perubahan iklim, Unit Kegiatan Mahasiswa Riset dan Karya Ilmiah Heuri Cosmos menggelar kegiatan bertajuk International Space UP Emerging Forum (ISEF) 2023. Kegiatan yang mengusung tema “Gen Z As The Focal Key to Decipher The Climate Crisis in Society” ini menghadirkan Zulkifli Merican, Senior Lecturer di Universiti Teknologi Petronas dan sebuah grup pecinta lingkungan bernama Super Hero Kebersihan 37.

Menurut Zulkifli dalam pemaparannya, gas rumah kaca sejatinya berfungsi untuk menyerap panas matahari ke bumi dan mencegah sebagian panas tersebut terpantul kembali ke atmosfer. Namun konsentrasi GRK yang saat ini menjadi berlebihan membuat panas matahari terperangkap di atmosfer dan tidak bisa dipantulkan sehingga membuat temperatur bumi meningkat.

“Selain GRK, material lainnya yang cukup berpengaruh terhadap iklim adalah aerosol (partikel mikroskopis yang melayang di udara) sulfur dioksida. Senyawa ini secara natural biasanya terbentuk dari aktivitas vulkanik. Namun setelah era revolusi industri, senyawa ini juga terbentuk akibat pembakaran bahan bakar oleh pembangkit listrik dan industri,” jelas Zulkifli pada Minggu (26/03).

Zulkifli menambahkan, Gen Z memiliki peranan yang penting dalam mendorong gaya hidup rendah karbon. Berdasarkan riset yang dilakukan oleh Pew Research Center pada 2021 lalu, sebanyak 67% Gen Z telah menyadari pentingnya menjaga bumi dari perubahan iklim. Beberapa cara yang dapat dilakukan adalah menghemat penggunaan energi dan menerapkan zero-waste lifestyle.

Super Hero Kebersihan 37 merupakan salah satu contoh Gen Z yang aktif terlibat dalam aksi melindungi bumi. Kelompok asal Karawang yang terdiri dari 8 anak muda ini menjadi viral di media sosial akibat aksi bersih-bersih di berbagai macam lokasi.

“Selama 5 bulan berdiri kami sudah membersihkan 31 titik wilayah, baik di darat maupun di perairan. Awalnya kawan-kawan sebaya sempat mencibir, namun itu tidak meruntuhkan semangat kami untuk menjaga lingkungan melalui gerakan membersihkan sampah. Bagi kami menjaga lingkungan sama dengan menjaga diri sendiri. Lingkungan bukan milik pribadi, sehingga harus kita jaga sepenuh hati” ungkap Hikmal, salah satu anggota Superhero Kebersihan 37.

Perhatian serupa ditunjukkan Universitas Pertamina. Salah satunya kegiatan penanaman bibit mangrove yang dilakukan unit kegiatan mahasiswa Heuri Cosmos bersama organisasi keMANGTEER di Pantai Indah Kapuk. Melansir situs Center for International Forestry Research, hutan mangrove bisa menyimpan karbon lima kali lebih banyak ketimbang hutan tropis.

Pjs. Rektor Universitas Pertamina, Budi W. Soetjipto, menyebut, kegiatan seminar ini merupakan bentuk kepedulian dan komitmen UPER sebagai kampus teknologi dan bisnis energi dalam melakukan edukasi literasi iklim. “Kegiatan ini menjadi pengingat bahwa krisis perubahan iklim nyata terjadi. Jika kita tidak beraksi sekarang, maka generasi selanjutnya bisa jadi akan hidup di planet yang jauh lebih rusak daripada saat ini,” ujar Budi. RH

Gen Z Bahas Krisis Iklim Bareng Pakar Internasional Gen Z Bahas Krisis Iklim Bareng Pakar Internasional Reviewed by Ridwan Harahap on Minggu, April 02, 2023 Rating: 5
Diberdayakan oleh Blogger.