Doktor Sosiologi UI Kaji Praktik CSR Migas Multinasional di Papua Barat

Yosef Hilarius Timu Pera diangkat sebagai Doktor Sosiologi Universitas Indonesia ke-141 dengan predikat summa cumlaude IPK 4.0. 

Jakarta, OG Indonesia --
Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Indonesia (FISIP UI) secara resmi mengangkat Yosef Hilarius Timu Pera sebagai Doktor Sosiologi Universitas Indonesia ke-141 dengan predikat summa cumlaude IPK 4.00. Yosef berhasil mempertahankan disertasinya yang berjudul “Bauran Praktik CSR Perusahaan Migas Multinasional di Papua Barat: Studi Kasus Tangguh Sustainable Development Plan (TSDP) BP Tangguh (2015–2020)”.  

Disertasi ini mengkaji secara mendalam praktik tanggung jawab sosial perusahaan (Corporate Social Responsibility/CSR) di sektor minyak dan gas bumi melalui studi kasus BP Tangguh di Kabupaten Teluk Bintuni, Papua Barat.

Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan wawancara mendalam terhadap 47 informan kunci, analisis dokumen kebijakan dan program, serta dilengkapi survei terhadap 315 responden dari masyarakat kampung di sekitar wilayah operasi perusahaan.

Berangkat dari latar belakang bahwa urgensi Corporate Social Responsibility (CSR) perusahaan migas cenderung lebih besar dibandingkan jenis perusahaan lainnya karena risiko dan dampak operasional yang lebih kompleks.

Sejumlah bencana lingkungan besar seperti tumpahan minyak Exxon Valdez (1989) dan Deepwater Horizon (2010) mengakibatkan kerusakan ekosistem laut secara luas, meningkatkan persepsi negatif dan perhatian banyak pihak pada praktik tanggung jawab sosial industri ini.

Proyek-proyek migas juga sering beroperasi di wilayah berisiko tinggi secara sosial-politik, meningkatkan potensi konflik sumber daya dan pelanggaran hak-hak masyarakat lokal.

“Oleh karena itu, CSR di sektor migas tidak hanya berfungsi sebagai kegiatan sosial, tetapi juga sebagai instrumen strategis untuk memitigasi risiko, menjaga legitimasi bisnis, dan mendukung keberlanjutan sosial masyarakat di sekitar wilayah operasi,” jelas Yosef.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa praktik CSR perusahaan migas multinasional di Indonesia dipengaruhi oleh tiga lapis faktor utama. Pertama, faktor global yang menyediakan standar dan pedoman keberlanjutan. Kedua, faktor nasional melalui regulasi seperti AMDAL dan persetujuan SKK Migas terkait alokasi anggaran dan bentuk program. Ketiga, faktor lokal yang bersifat paling dinamis, berupa tuntutan masyarakat adat, konflik sosial, serta relasi dengan pemerintah daerah.

TSDP BP Tangguh, menurut Yosef, merupakan hasil dialektika antara tekanan global berbasis standar keberlanjutan dan manajemen risiko, dengan tuntutan sosial-politik lokal masyarakat adat dan pemerintah daerah Teluk Bintuni. “Dalam proses ini, terjadi kontestasi kepentingan yang tidak seimbang antara aktor-aktor yang terlibat,” ujarnya.

Lebih lajut, Yosef menjelaskan untuk masyarakat adat cenderung efektif dalam isu sosial, budaya, dan hak ulayat. Pemerintah daerah kuat ketika tuntutannya selaras dengan sistem birokrasi. Sementara itu, BP Tangguh mempertahankan dominasinya pada aspek yang terkait kepatuhan terhadap standar global.

Selain itu, penelitian ini menemukan bahwa bauran praktik CSR menghasilkan tingkat keberlanjutan sosial yang berbeda-beda.

Menurut Yosef, program yang lebih didominasi standar global mampu meningkatkan tata kelola dan legitimasi prosedural, tetapi kurang mendorong penguatan institusi lokal. Sebaliknya, program yang lebih berorientasi lokal efektif meredam konflik dan meningkatkan penerimaan masyarakat, namun lemah dalam aspek standardisasi dan keberlanjutan jangka panjang.

“Sementara itu, program CSR dengan pendekatan hibrid yang menggabungkan standar global dan kebutuhan lokal dinilai memiliki potensi keberlanjutan paling baik. Namun, pendekatan ini tetap memerlukan rencana transisi kelembagaan yang jelas agar tidak menimbulkan ketergantungan struktural masyarakat terhadap perusahaan,” jelas Yosef.

Secara keseluruhan, disertasi ini menyimpulkan bahwa keberhasilan CSR BP Tangguh masih bersifat parsial. Capaian sosial memang terlihat menguat, tetapi kemandirian masyarakat dan kesiapan strategi keluar (exit strategy) perusahaan belum sepenuhnya kokoh.

Melalui penelitiannya, Yosef menegaskan bahwa keberhasilan CSR di sektor migas sangat ditentukan oleh kemampuan perusahaan membangun praktik hibrid yang disertai dengan penguatan kapasitas kelembagaan lokal. Penguatan ini penting agar modal sosial masyarakat dapat dikonversi menjadi kapasitas institusional yang berkelanjutan. RH

Doktor Sosiologi UI Kaji Praktik CSR Migas Multinasional di Papua Barat Doktor Sosiologi UI Kaji Praktik CSR Migas Multinasional di Papua Barat Reviewed by Ridwan Harahap on Jumat, Januari 09, 2026 Rating: 5
Diberdayakan oleh Blogger.