Oleh: Dr. Ardian Nengkoda (Dosen Praktisi Teknik Kimia UI, Dewan Pakar IATMI dan Komunitas Migas Indonesia/KMI)
Venezuela dikenal sebagai salah satu negara yang terkenal di dunia migas karena cadangan yang besar, yang diklaim memiliki cadangan minyak sekitar 303 miliar barel, atau sekitar 17% dari total cadangan global. Namun dalam praktiknya, produksi migas Venezuela jauh di bawah potensi itu akibat serangkaian tantangan bisnis, teknis dan politik. Tulisan ini akan membahas prospek migas Venezuela berdasarkan cadangan dan permintaan pasar global serta membahas tentang geopolitik yang terjadi baru-baru saja.
Prospek Migas Venezuela
Venezuela memegang cadangan minyak terbesar di dunia (303 miliar barel), jauh melampaui Saudi Arabia (267 miliar) dan jauh di atas cadangan AS (55 miliar), berdasarkan perkiraan terbaru. Namun data cadangan ini belum akurat karena cadangan minyak proved (1P) harus memenuhi empat syarat utama yaitu: Recoverable secara teknis dengan teknologi yang tersedia; Ekonomis; Didukung data geologi dan tanjak sumur (log, core, well test produksi) dan; Dapat diproduksi secara komersial dengan fasilitas yang ada. Cadangan Venezuela gagal memenuhi aspek ekonomis dan komersil menurut standar SEC/SPE-PRMS.
Cadangan Venezuela ini sebagian besar adalah berjenis minyak berat dan sangat berat di lapangan Orinoco Oil Belt, yang memerlukan teknologi dan bahan kimia khusus yang cukup mahal sehingga minyak dapat diekstraksi dan diolah dan dijual ke market. Minyak berat ini tetap memiliki permintaan pasar tinggi, terutama untuk produksi diesel dan bahan bakar industri di kilang yang dilengkapi teknologi pengolahan lanjutan.
Kenyataan Industri Migas Venezuela Saat Ini
Data di lapangan menunjukkan bahwa produksi minyak Venezuela telah turun drastis dalam 30 tahun terakhir:
• Tahun 1990-an, produksi mencapai sekitar 3,5 juta barel per hari (bph).
• Tahun 2024–2025, rata-rata produksi berkisar ~900.000–1,1 juta bph, jauh di bawah potensi yang sebenarnya.
• Bahkan pada Desember 2025, angka produksi sempat turun menjadi ~963.000 bph, dan output utama Orinoco Belt dilaporkan hanya ~540.000 bph.
Dengan kondisi ini berarti Venezuela hanya memproduksi sekitar 1 % dari produksi minyak global, padahal seharusnya bisa jauh lebih besar berdasarkan cadangan.
Penyebab Penurunan Produksi
Beberapa faktor utama yang menyebabkan penurunan produksi adalah:
• Manajemen tata kelola yang buruk dan korupsi, yang mengakibatkan operasional yang tidak sehat
• Kurangnya investasi dalam infrastruktur (rig, pipa, kilang) dan teknologi
• Sanksi internasional, terutama oleh Amerika Serikat, yang menghambat akses ke modal, teknologi, dan pasar utama
• Infrastruktur mature dan rusak yang menyebabkan gangguan produksi berulang
• Ketergantungan pada pasar yang terbatas, termasuk ekspor ke China melalui mekanisme “shadow fleet” untuk menghindari sanksi.
Dengan kenyataan ini, maka strategi untuk meningkatkan produksi migas Venezuela harus mencakup: Reformasi Tata Kelola dan Kebijakan, Kemitraan Internasional, Modernisasi Fasilitas dan Infrastruktur (terutama EOR), Diversifikasi Pasar Ekspor serta Pengembangan Gas Alam.
Sanksi Internasional dan Dampaknya
AS telah menerapkan berbagai sanksi terhadap Venezuela sejak era pemerintahan Trump pertama (2017-2020) dan diperluas oleh pemerintahan berikutnya. Sanksi meliputi pembatasan akses ke pembiayaan, larangan perdagangan dengan PDVSA, serta penargetan perusahaan minyak dan kapal tanker yang diduga membantu ekspor minyak Caracas.
Pada Desember 2025, AS menambahkan sanksi baru terhadap empat perusahaan minyak Venezuela dan empat kapal tanker, termasuk pembekuan aset dan larangan akses ke pasar AS.
Namun sejak Januari 2026, pemerintahan Trump mengambil langkah yang sangat drastis membuat besar kemungkinan industri migas Venezuela akan tereset to zero. Trump mengumumkan intervensi militer AS di Venezuela, termasuk penahanan Presiden Nicolás Maduro, dengan klaim akan mengubah pemerintahan dan mengamankan produksi minyak.
Trump menyatakan bahwa perusahaan minyak AS akan terlibat secara besar dalam membangun ulang industri minyak Venezuela, meskipun sampai sekarang tidak ada komitmen investasi yang jelas dari ExxonMobil atau ConocoPhillips. Kebijakan lain termasuk pengenaan tarif 25 % terhadap negara yang membeli minyak Venezuela, sebagai bagian dari strategi tekanan ekonomi.
Aset Pertamina di Venezuela
Pertamina memiliki aset migas di Venezuela, tapi sejauh ini belum terdampak langsung oleh konflik terbaru. PT Pertamina (Persero) melalui Pertamina Internasional Eksplorasi & Produksi (PIEP) adalah pemegang saham mayoritas di perusahaan Prancis Maurel & Prom (M&P), yang mengelola blok migas di Venezuela. Aset-aset ini termasuk partisipasi di Urdaneta West dan saham di blok lainnya di negara tersebut.
Sehubungan dengan operasi militer dan ketegangan yang meningkat antara Amerika Serikat dan Venezuela, manajemen Pertamina (PIEP) baru-baru ini menyatakan hingga saat ini tidak ada dampak terhadap aset migas dan staf M&P di Venezuela berdasarkan pemantauan internal mereka. PIEP juga terus berkoordinasi dengan Kedutaan Besar Indonesia di Caracas untuk memastikan keamanan aset dan operasional.
Meski Pertamina menyebut asetnya belum terdampak, ekspor minyak Venezuela secara keseluruhan memang sangat terganggu karena operasi militer AS dan blokade terhadap kapal tanker yang terlibat dalam pengiriman minyak Venezuela.
Penutup
Venezuela memiliki cadangan migas terbesar di dunia, namun produksi aktual sangat jauh dari potensi akibat kombinasi dari manajemen internal, infrastruktur rusak, dan tekanan geopolitik. Sementara strategi Donald Trump terbaru bertujuan memanfaatkan aset ini melalui intervensi dan keterlibatan perusahaan AS, tantangan praktiknya tetap besar dan penuh risiko.
Kontroversi cadangan migas Venezuela bukan sekadar soal angka, melainkan soal definisi, metodologi, dan transparansi. Tanpa sertifikasi pihak ketiga independen dan tanpa proyek produksi komersial yang nyata, angka cadangan 303 miliar barel perlu dicek secara teknis.
Tidak ada quick solution tapi diperlukan rencana jangka panjang. Solusi jangka panjang membutuhkan reformasi struktural di dalam negeri, stabilisasi politik, dan kolaborasi internasional yang berkelanjutan. Dengan strategi yang tepat, Venezuela masih memiliki peluang untuk menghidupkan kembali industrinya dan meningkatkan produksi, meskipun hal ini tidak instan dan membutuhkan waktu serta komitmen besar dari berbagai pihak.
5 Januari 2026
Dhahran, Arab Saudi
Reviewed by Ridwan Harahap
on
Senin, Januari 05, 2026
Rating:



