
Foto: Ridwan Harahap
Oleh: Dr. Ardian Nengkoda (Dosen Praktisi Teknik Kimia UI, Dewan Pakar IATMI dan KMI)
Ketahanan energi menjadi topik sentral bagi Indonesia di tengah melambungnya impor LPG, ketidak pastian dunia, beban subsidi yang semakin besar, dan melimpahnya cadangan batu bara domestik. Salah satu opsi yang digadang menjadi solusi strategis adalah Dimethyl Ether (DME), sumber bahan bakar yang bisa diproduksi dari hilirisasi gasifikasi batu bara.
Menurut konfirmasi press release Kementerian ESDM tanggal 9 Januari 2026 lalu, proyek DME cukup penting mengingat Indonesia masih sangat bergantung pada impor LPG. Setidaknya, konsumsi LPG RI mencapai 10 juta ton per tahun sementara kapasitas produksi domestik hanya sekitar 1,6 juta ton sisanya impor dan menguras ratusan trliunan devisa.
Namun, sejauh mana DME benar-benar mendesak untuk menggantikan LPG dan menjadi pilar hilirisasi batu bara nasional?
Latar Belakang: Ketergantungan LPG dan Hilirisasi Batu Bara
Saat ini, Indonesia masih sangat bergantung pada impor LPG untuk kebutuhan rumah tangga, terutama tabung 3 kg yang banyak disubsidi. Proporsi impor LPG mencapai sekitar lebih dari 80% dari kebutuhan domestik, menekan cadangan devisa dan ketahanan energi negara.
Sementara itu Indonesia memiliki cadangan batu bara yang besar, per akhir 2024 mencapai sekitar 31,95-31,96 miliar ton, dengan mayoritas (sekitar 73%) adalah batu bara kalori rendah, menurut data Kementerian ESDM yang dirilis tahun 2025, menempatkan Indonesia di antara negara dengan cadangan terbesar di dunia. Sebagian besar diekspor tanpa pengolahan nilai tambah. Teknologi gasifikasi batu bara menjadi produk bernilai seperti DME adalah bagian strategi hilirisasi untuk meningkatkan nilai ekonomi sumber daya mineral dalam negeri.
DME adalah senyawa eter sederhana (CH₃OCH₃) yang memiliki karakteristik fisik mirip LPG, sehingga bisa digunakan sebagai bahan bakar memasak dan rumah tangga dengan infrastruktur yang relatif sama.
Secara umum, proses produksi DME umumnya melalui gasifikasi batu bara menjadi sintesis metanol lalu lewat dehidrasi menjadi DME. DME juga memiliki sifat pembakaran bersih dan lebih sedikit emisi dibanding LPG. Menurut beberapa praktek, substitusi DME dapat menurunkan emisi CO₂ hingga 14–33% dalam jangka panjang.
Ekonomi DME: Investasi dan Biaya Produksi
Walaupun teknologi DME telah terbukti, aspek keekonomiannya menjadi concern mendasar. Sebagai gambaran, proyek gasifikasi batu bara menjadi DME berkapasitas 1,4 juta ton per tahun diperkirakan membutuhkan belanja modal sekitar USD 2,6 – 3,1 miliar (± Rp 40–50 triliun) dengan total opportunity cost mencapai USD 3,1 miliar, termasuk keuntungan yang hilang dari penjualan batu bara mentah.
Hitung-hitung ke-ekonomian, analisis menunjukkan biaya produksi DME dari batu bara diperkirakan berkisar USD 470 – USD 650 per ton tergantung skala proyek, harga bahan baku, letak tambang, transportasi dan efisiensi operasional.
Harga DME di pasar global diperkirakan bisa mencapai USD 900 – USD 987 per ton, jauh lebih tinggi dari harga LPG impor yang berada sekitar USD 435 per ton. Akibat dari selisih ini, maka berpotensi menaikkan kebutuhan subsidi hingga ratusan triliun rupiah per tahun jika harga DME harus ditahan agar terjangkau masyarakat.
IEEFA memperkirakan bahwa pabrik DME seperti di atas bisa menghasilkan hampir 2x biaya produksi dibandingkan harga LPG impor, dan bahkan berpotensi merugi USD 377 juta per tahun setelah biaya produksi dan finansial dihitung.
Oleh karena itu, dari perspektif ekonomi, proyek DME menghadapi tantangan besar, seperti:
• Keekonomian belum kompetitif: Harga produksi DME relatif tinggi dibandingkan LPG impor, sehingga belum layak secara komersial tanpa dukungan subsidi pemerintah.
• Subsidi besar: Jika ingin harga DME bisa diterima pasar domestik, prediksi subsidi yang dibutuhkan bisa mencapai Rp 147 triliun, jauh melampaui nilai subsidi LPG saat ini.
• Profitabilitas tidak pasti: Belajar dari kisah proyek DME di China (Shanxi Lanhua) yang berhenti operasi karena biaya produksi lebih tinggi dari harga jual menunjukkan tantangan yang nyata.
Strategi: Perlu dan Mendesak
Pemerintah Indonesia telah mendorong DME sebagai proyek hilirisasi batu bara dan termasuk dalam daftar Proyek Strategis Nasional (PSN). Beberapa strategi yang dilakukan antara lain:
• Kemudahan perizinan dan kawasan ekonomi khusus (KEK) untuk mendukung investasi.
• Penugasan offtaker melalui BUMN Pertamina untuk menjamin pasar produk DME.
• Kajian keekonomian dan studi kelayakan lebih mendalam sebelum proyek dijalankan secara besar-besaran.
Secara fisik, DME aman jika ditangani benar, termasuk, tidak beracun, pembakaran lebih bersih dan bisa menggunakan sebagian infrastruktur LPG saat ini. Namun, karena DME mudah terbakar, standar keselamatan yang baru perlu disusun dan edukasi sosial kepada masyarakat diperlukan agar penggunaannya tidak menimbulkan risiko baru.
Untuk membuat DME menjadi solusi yang benar-benar mendesak dan berkelanjutan, diperlukan:
• Inovasi teknologi & efisiensi produksi untuk menekan biaya hingga mendekati atau lebih rendah dari LPG impor.
• Skema subsidi yang cerdas, seperti subsidi transisi jangka pendek agar harga tetap kompetitif sementara skala ekonomi tercapai, misalkan dengan cara blending.
• Kebijakan integratif, termasuk pengembangan industri bahan baku lain dan diversifikasi energi untuk menjamin kepastian pasokan dari batu bara.
Kesimpulan
DME memiliki potensi besar sebagai sumber bahan bakar untuk mengurangi impor LPG, meningkatkan nilai tambah batu bara domestik, serta memperkuat ketahanan energi nasional. Namun, dari sisi kebijakan, keekonomian, teknologi proses dan produksi serta teknis, DME masih menghadapi tantangan signifikan yang harus diselesaikan melalui strategi kebijakan yang matang dan teknologi yang lebih efisien. Dengan pendekatan yang robust mencakup keekonomian, teknis, non-teknis dan sosial, DME bisa jadi jembatan transisi energi penting bagi Indonesia.
Dhahran, Arab Saudi
11 Januari 2026
Reviewed by Ridwan Harahap
on
Senin, Januari 12, 2026
Rating:


