Tanggul Tegak Multifungsi Inovasi BRIN: Dari Pelindung Pantai hingga Penangkap Energi


Jakarta, OG Indonesia --
Wilayah pesisir Indonesia menghadapi tekanan yang semakin kompleks, mulai dari abrasi, banjir rob, kenaikan muka air laut, hingga keterbatasan ruang akibat pesatnya pembangunan kawasan pantai.

Selama ini, solusi yang umum diterapkan adalah pembangunan tanggul laut tipe urugan (earth-fill dam) yang mengandalkan timbunan pasir dan batu dalam volume besar. Meski terbukti andal dan telah digunakan di berbagai negara, tipe tanggul ini memiliki kendala yang signifikan dalam hal kebutuhan lahan dan dampak lingkungan.

Menjawab tantangan tersebut, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengembangkan desain Tanggul Tegak Multifungsi (TTMF), sebuah inovasi struktur tanggul laut berbasis blok modular beton yang dirancang lebih ramping, hemat material, serta memiliki fungsi tambahan di luar peran utamanya sebagai pelindung pantai. Riset ini digarap oleh Pusat Riset Teknologi Hidrodinamika BRIN sejak 2022 dan terus dikembangkan hingga kini.

Perekayasa Ahli Madya BRIN, Dinar Catur Istiyanto, menjelaskan pengembangan TTMF berangkat dari kebutuhan akan alternatif desain tanggul yang tetap memenuhi standar keselamatan struktur, tetapi tidak menimbulkan tekanan berlebihan terhadap lingkungan. 

“Struktur tanggul urugan itu membutuhkan pasir dan batuan dalam jumlah sangat besar. Sumber materialnya mau tidak mau diambil dari gunung atau laut, dan ini tentu berdampak pada lingkungan,” ujarnya dalam wawancara, Jumat (6/2/2026).

Berbeda dengan tanggul konvensional yang melebar hingga ratusan meter ke arah laut, TTMF dirancang dengan konfigurasi tegak (vertical seawall) berbahan beton bertulang. Struktur ini menggunakan sistem blok modular (caisson) yang disusun seperti kepingan lego, sehingga lebih fleksibel dalam perencanaan dan pelaksanaan konstruksi.

Menurut Dinar, pendekatan modular dipilih agar sesuai dengan kemampuan alat berat yang tersedia di dalam negeri. “Blok-blok beton ini diproduksi di darat dengan berat yang disesuaikan kapasitas crane nasional, sekitar 60 ton per blok, lalu disusun di lokasi. Dengan cara ini, konstruksi bisa berlangsung lebih cepat,” katanya.

Keunggulan utama desain ini adalah efisiensi ruang. Lebar tanggul dapat disesuaikan dengan kebutuhan fungsi di atasnya, misalnya hanya 10–20 meter jika dirancang sebagai pendukung jalan raya. Hal ini membuat TTMF sangat relevan diterapkan di kawasan pesisir dengan keterbatasan lahan, seperti pantai utara Jawa.

Sesuai namanya, TTMF tidak hanya berperan sebagai pelindung pantai dari serangan gelombang dan tanggul waduk kedap air, tetapi juga dirancang untuk mengemban fungsi tambahan. Salah satu inovasi penting dalam desain ini adalah integrasi sistem penangkap energi gelombang laut tipe Oscillating Water Column (OWC).

Dalam sistem OWC, gelombang laut diarahkan masuk ke dalam rongga khusus di bagian struktur tanggul. Pergerakan naik-turun air akibat gelombang akan menekan dan menghisap udara, yang kemudian dimanfaatkan untuk memutar turbin dan menghasilkan listrik. “Prinsipnya, energi gelombang yang selama ini hanya diredam, kini bisa ditangkap dan dikonversi menjadi energi listrik,” kata Dinar.

BRIN masih mengkaji berbagai variasi desain OWC agar sesuai dengan karakter gelombang di perairan Indonesia, khususnya Pantura Jawa yang memiliki tinggi gelombang relatif rendah. Meski demikian, generasi awal desain TTMF dengan sistem penangkap energi gelombang rendah telah terdaftar sebagai paten di Direktorat Jenderal Kekayaan Intelektual (DJKI) Kementerian Hukum pada 2025.

Selain itu, bagian atas tanggul dirancang cukup kuat untuk menopang infrastruktur jalan raya, sehingga satu struktur dapat menggabungkan fungsi perlindungan pantai, pengendalian banjir, transportasi, dan energi terbarukan sekaligus.

Ramah Lingkungan

Dari sisi material, TTMF dirancang menggunakan beton bertulang yang mengacu pada standar SNI untuk bangunan bendungan, bangunan air, serta bangunan pantai dan pelabuhan. Namun, sejalan dengan agenda net zero carbon emission, BRIN juga mengembangkan riset material alternatif dengan memanfaatkan limbah industri, seperti slag besi, slag nikel, dan fly ash batu bara.

“Sebagian besar limbah industri itu sebenarnya tidak berbahaya, tetapi menjadi masalah jika hanya ditumpuk. Kalau bisa dimanfaatkan sebagai bahan pengganti pasir atau sebagian semen, maka dampak lingkungannya jauh lebih kecil,” terang Dinar.

Dengan pendekatan tersebut, TTMF diproyeksikan memiliki tingkat komponen dalam negeri (TKDN) di atas 70 persen, baik dari sisi material maupun teknologi, sehingga berpotensi memperkuat industri konstruksi nasional.

Meski memiliki banyak keunggulan, TTMF tidak lepas dari tantangan teknis, terutama terkait kondisi tanah fondasi. Berdasarkan hasil analisis model matematik BRIN, struktur ini memerlukan daya dukung tanah minimum dengan nilai NSPT sekitar 15. Jika kondisi tanah lebih lunak, seperti di banyak wilayah Pantura, maka diperlukan upaya perbaikan tanah sebelum pembangunan.

“Bukan berarti tidak bisa dibangun, tetapi tanahnya harus diperkuat terlebih dahulu. Teknologi perbaikan tanah itu ada dan bisa dihitung secara teknis,” jelas Dinar.

Ia menekankan teknologi rekayasa justru hadir untuk mengubah keterbatasan menjadi peluang solusi, selama direncanakan secara matang dan berbasis kajian ilmiah.

Ke depan, BRIN berharap riset TTMF dapat terhubung lebih erat dengan proyek-proyek strategis nasional. Menurut Dinar, riset rekayasa berskala besar membutuhkan dukungan pendanaan dan kebijakan yang memungkinkan pembangunan demonstration plot di kondisi nyata.

“Kalau teknologi ini mau naik ke tingkat kesiapan tinggi, harus diuji di lapangan. Itu tidak mungkin dibiayai hanya dari anggaran riset. Perlu skema top-down agar riset inline dengan kebutuhan pembangunan nasional,” ungkapnya.

Melalui pendekatan tersebut, hasil riset tidak berhenti sebagai konsep, tetapi benar-benar terhilirisasi menjadi solusi nyata bagi persoalan pesisir Indonesia. Dengan karakter multifungsi, hemat lahan, dan ramah lingkungan, TTMF berpotensi menjadi salah satu inovasi kunci dalam strategi perlindungan pantai dan adaptasi perubahan iklim di masa depan. RH

Tanggul Tegak Multifungsi Inovasi BRIN: Dari Pelindung Pantai hingga Penangkap Energi Tanggul Tegak Multifungsi Inovasi BRIN: Dari Pelindung Pantai hingga Penangkap Energi Reviewed by Ridwan Harahap on Rabu, Februari 18, 2026 Rating: 5
Diberdayakan oleh Blogger.