Catat Penurunan Kinerja pada Kuartal I 2026, Ekuitas dan Rasio Keuangan SUNI Tetap Terjaga


Jakarta, OG Indonesia --
PT Sunindo Pratama Tbk (SUNI IJ) membukukan laba bersih sebesar Rp18 miliar, turun 73% YoY pada kuartal 1 (1Q) 2026. Penurunan laba tersebut terutama disebabkan penurunan pendapatan usaha dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu.

SUNI mencatatkan pendapatan usaha sebesar Rp155 miliar pada 1Q 2026 atau turun 51% secara tahunan (YoY) dibandingkan dengan periode yang sama di tahun 2025. Berkurangnya pendapatan ini terutama disebabkan turunnya penjualan OCTG casing pada periode tersebut. 

Sementara itu, penjualan OCTG tubing sedikit mengalami penurunan karena menurunnya kapasitas produksi yang disebabkan adanya libur periode lebaran pada akhir 1Q 2026.

Meskipun pertumbuhan laba bersih mengalami penurunan, ekuitas SUNI tetap meningkat sebesar 2% menjadi Rp881 miliar dibandingkan periode yang sama tahun 2025. Peningkatan ekuitas ini berasal dari laba yang dihasilkan selama kuartal 1Q 2026. 

Selain itu, perseroan juga berhasil menjaga rasio keuangan sesuai ketentuan kredit dengan Debt to Equity Ratio (DER) pada level 0,28 kali atau jauh di bawah batas maksimum  yang ditetapkan yaitu maksimal 2,5 kali.

Pada 1Q 2026, SUNI juga berhasil mendapatkan arus kas positif dari aktivitas operasional sebesar Rp99 miliar, atau meningkat sebesar 41% secara tahunan (YoY) dibandingkan Rp 70 miliar pada periode yang sama tahun sebelumnya terutama disebabkan dengan berkurangnya pembayaran kepada pemasok pada kuartal ini dibandingkan periode sebelumnya. 

Di sisi lain, Perseroan merealisasikan investasi sebesar Rp25 miliar untuk pembiayaan pembangunan pabrik ke-2 RTM, yang mengalami penurunan sebesar 55% YoY seiring dengan semakin menurunnya intensitas kegiatan pembangunan pabrik ke-2 RTM. 

Sementara itu, dari aktivitas pendanaan, arus kas bersih sebesar Rp8 miliar atau turun sebesar 14% YoY yang dipergunakan untuk pembayaran pinjaman Bank.

Direktur Utama PT Sunindo Pratama Tbk, Willy Johan Chandra menyampaikan bahwa berkurangnya pendapatan SUNI pada Kuartal I 2026 ini terutama disebabkan penurunan penjualan OCTG casing. Penjualan OCTG casing dilakukan melalui proses tender dan dalam situasi persaingan yang cukup ketat dengan penyuplai-penyuplai yang lain. Status SUNI dalam penjualan OCTG casing ini adalah sebagai trader, sehingga penjualan casing ini sifatnya lebih fluktuatif dibandingkan dengan OCTG tubing yang lebih stabil penjualannya karena SUNI merupakan produsen OCTG tubing di Indonesia. 

Namun demikian, Perseroan tetap optimistis terhadap pertumbuhan penjualan ke depannya, dan meskipun terjadi penurunan laba dan penjualan pada kuartal ini, rasio keuangan Perseroan masih tetap terjaga dengan baik.  Willly juga menjelaskan bahwa perolehan laba yang signifikan dalam dua tahun terakhir menjadi dukungan penting bagi pembiayaan pembangunan pabrik ke-2 RTM dan kempampuan Perseroan untuk membagikan dividen. 

“Saat ini Perseroan masih memprioritaskan peningkatan kapasitas produksi internal melalui anak perusahaannya, PT Rainbow Tubulars Manufacture (RTM). Fasilitas pabrik ke-2 RTM ditargetkan mulai beroperasi pada semester ke-2 tahun 2026. Hingga saat ini, pembangunan fisik secara umum telah selesai. Perseroan juga telah menjalankan berbagai prosedur untuk memperoleh sertifikasi API (American Petroleum Institiute) bagi fasilitas tersebut. Dengan adanya peningkatan kapasitas produksi ini, diharapkan kinerja operasional dan finansial perseroan ke depan akan semakin optimal serta mampu menjamin ketersediaan OCTG tubing di tingkat nasional,” papar Willy.

Pada kesempatan yang sama, Direktur Operasional SUNI, Bambang Prihandono, menyampaikan bahwa Perseroan terus menyiapkan sumber daya operasional yang dibutuhkan seiring dengan pembangunan dan rencana operasional pabrik ke-2 RTM. 

Perseroan saat ini terus melakukan uji coba produksi pada fasilitas baru tersebut sekaligus mempersiapkan fasilitas baru tersebut untuk pelaksanaan audit API dalam beberapa bulan ke depan. Selain itu, Perseroan juga mulai mengembangkan produk-produk baru untuk mengoptimalkan peningkatan kapasitas produksi dari fasilitas tersebut.  

Selain itu, anak perusahaan SUNI lainnya, yaitu PT Petro Synergy Manufacturing (PSM) pada awal kuartal 1 2026 telah mulai menjalankan kegiatan operasional secara komersial. Keberadaan PSM diharapkan dapat mendukung Perseroan dalam memproduksi wellhead dan x’mas tree yang memenuhi persyaratan Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) serta standar internasional dengan harga yang kompetitif. 

“Setelah memperoleh sertifikasi API dan TKDN, PSM telah beroperasi secara komersial dan diharapkan dapat terus meningkatkan kapabilitas serta memperluas pasar, sehingga mampu meberikan kontribusi terhadap kinerja SUNI,” ujar Bambang.

Sementara itu, Direktur Keuangan PT Sunindo Pratama Tbk, Freddy Soejandy, menambahkan bahwa posisi keuangan SUNI saat ini cukup baik dan Perseroan memiliki kemampuan untuk menyelesaikan  pembagunan pabrik ke-2 RTM sesuai dengan rencana. 

"Karena Perseroan telah merealisasikan belanja modal (capex) yang cukup besar pada tahun-tahun sebelumnya, pada tahun 2026 ini kebutuhan capex untuk pembangunan pabrik ke-2 RTM diperkirakan sudah tidak terlalu signinifkan lagi, sehingga masih ada ruang untuk mengusulkan pembagian dividen” jelas Freddy. RH

Catat Penurunan Kinerja pada Kuartal I 2026, Ekuitas dan Rasio Keuangan SUNI Tetap Terjaga Catat Penurunan Kinerja pada Kuartal I 2026, Ekuitas dan Rasio Keuangan SUNI Tetap Terjaga Reviewed by Ridwan Harahap on Rabu, April 29, 2026 Rating: 5
Diberdayakan oleh Blogger.