Bukan Sekadar Sumber Penerimaan Negara, Industri Hulu Migas Picu Multiplier Effect Berkali-kali Lipat di Tengah Masyarakat
![]() |
| Keberadaan industri hulu migas dapat menggerakkan roda perekonomian masyarakat di sekitar wilayah operasinya. Foto: Ridwan Harahap |
Tak jauh dari Gerbang Tol Cikedung, ada Warung Nasi Baraya
di Jalan Raya Cikamurang, Kecamatan Terisi, Kabupaten Indramayu, yang menjadi
destinasi favorit para pekerja migas dari grup Pertamina untuk mengisi perut
saat dalam perjalanan dari Jakarta menuju Indramayu yang banyak terdapat sumur
migas.
Tak hanya jadi persinggahan, terkadang jika ada waktu luang
para pekerja migas tersebut juga sengaja pergi ke sana untuk menikmati sajian
khas udang dan ikan dari warung nasi tersebut. Maka tak mengherankan kalau di
halaman parkir warung nasi sederhana tersebut kerap ramai diisi oleh banyak
mobil dari orang-orang yang mampir di sana.
![]() |
| Warung Nasi Baraya ramai oleh pengunjung yang sebagian merupakan para pekerja hulu migas di sekitar Indramayu. Foto: Ridwan Harahap |
Satu cerita lagi dari Kabupaten Bojonegoro yang kini dikenal sebagai daerah yang kaya akan migas. Diceritakan oleh A. Rinto Pudyantoro, Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Pertamina, sebelum kehadiran Blok Cepu yang mulai berproduksi tahun 2008, Bojonegoro bisa dibilang seperti banyak kabupaten lain di Indonesia. Perekonomian berjalan lambat, mencari penginapan pun cukup sulit.
Namun kini, dimotori Lapangan Banyu Urip di Blok Cepu yang
dikelola ExxonMobil Cepu Limited (EMCL), aktivitas perekonomian pun bergulir
cepat di Bojonegoro. Guna memfasilitasi pergerakan ekonomi tersebut,
hotel-hotel berbintang banyak bermunculan di Bojonegoro, bagai cendawan di
musim hujan.
Kondisi sebaliknya terjadi di Pangkalan Brandan, sebuah kota
kecamatan di Kabupaten Langkat, Sumatera Utara, yang telah lama dikenal sebagai
kota minyak tertua di Indonesia, sejak akhir abad 19. Rinto menceritakan, dengan
berkurangnya kegiatan hulu migas di sana karena sumur-sumur minyak yang telah
uzur turut berimbas terhadap kehidupan ekonomi warga sekitar. Seperti tukang soto di pinggir jalan yang
ditemui Rinto di Pangkalan Brandan yang mengaku warung sotonya kian sepi
seiring menurunnya aktivitas hulu migas.
Sejatinya industri hulu migas sangat berimbas langsung
kepada perekenomian daerah di sekitarnya. Sayangnya, kisah-kisah yang dirasakan
positif secara nyata di lapangan, menurut Rinto ternyata tidak tertanam di
dalam pikiran masyarakat secara luas. “Itu selalu muncul pendapat bahwa ada
ketidakadilan, karena kehadiran bisnis migas di daerah itu dituduh tidak
memberikan manfaat ekonomi buat daerah,” kata Rinto dalam acara Media Education
Indonesia Petroleum Association (IPA) di Jakarta, awal April 2026, yang juga
diikuti oleh OG Indonesia.
Padahal di samping giat memproduksi minyak dan gas bumi, industri
hulu migas juga memiliki dampak langsung ke masyarakat. Rinto coba mengurai relasi
antara hulu migas dan masyarakat tersebut. Diterangkan olehnya, ada tiga target
dari hulu migas nasional. Target yang biasa didengar terkait peningkatan
produksi migas nasional, di mana saat ini Satuan Kerja Khusus Pelaksana
Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) masih membidik target
produksi minyak 1 juta barel per hari (BOPD) dan produksi gas tembus 12 miliar
standar kaki kubik per hari (BSCFD).
“Kita sering hanya dengar satu target yaitu (target
produksi) 1 juta barel dan 12 BSCFD. Sebenarnya, satu level dengan itu
ada target multiplier effect, jadi 1 juta barel itu percuma kalau tidak
ada multiplier effect ini,” jelas Rinto. “Dan satu level lagi ada
yang namanya sustainability, environmental,” lanjutnya.
Karena itu, SKK Migas bersama Boston Consulting Group (BCG) sejak
tahun 2020 telah merumuskan IOG 4.0 New Transformation untuk industri hulu
migas nasional di mana ketiga target terkait produksi migas, multiplier
effect, dan keberlanjutan lingkungan, harus selalu diupayakan terwujud
secara bersamaan. (Lihat Gambar di Bawah) “Jadi 1 juta barel dicari, dikejar.
Tetapi bersamaan dengan itu, kejar juga increasing multiplier effect dan
juga environmental,” kata Rinto.
![]() |
| Gambaran target dari hulu migas dalam IOG 4.0 New Transformation dari SKK Migas. Sumber: Paparan Rinto A. Pudyantoro dalam Media Education IPA di Jakarta, awal April 2026. |
Dia mencontohkan gas yang disalurkan dari lapangan milik PHE
ONWJ di perairan utara Jakarta berperan sangat besar menjaga keandalan pembangkit
PLN dan ketersediaan pasokan listrik untuk kota metropolitan seperti Jakarta. “Bayangkan
jika Jakarta listriknya mati semua, gara-gara ONWJ berhenti gasnya, kita nggak
bisa kerja semua,” tuturnya. “Jadi multiplier effect itu bisa
berkali-kali lipat dari APBN,” tambah Rinto.
Seperti contoh di atas, ketersediaan listrik di tengah
masyarakat itu baru first kick dari efek berganda hulu migas secara
keseluruhan. Setelah itu ada second kick di mana listrik berkontribusi
mendukung aktivitas kerja masyarakat. “Lalu ketika kita bisa bekerja, maka kita
bisa gajian. Lalu, kick berikutnya setelah gajian adalah anda belanja ke
Indomaret,” cerita Rinto. “Itu kita bisa hitung second kick, third kick, sampai
dengan lima hingga sepuluh (kick),” lanjutnya.
Tiga Belas Dampak Langsung
Rinto membeberkan setidaknya ada 13 trigger yang merupakan
direct impact dari multiplier effect yang terjadi berkat kegiatan
dari industri hulu migas. Masing-masing trigger/direct impact tersebut bagai
riak di lautan yang mampu menghasilkan efek positif ke segala penjuru kehidupan
yang ada di tengah masyarakat. (Lihat Gambar di Bawah)
![]() |
| Daftar 13 direct impact/trigger dari multiplier effect industri hulu migas. Sumber: Paparan Rinto A. Pudyantoro dalam Media Education IPA di Jakarta, awal April 2026. |
Jika dicontohkan pada tingkat daerah, papar Rinto, industri hulu migas berkontribusi memberikan penerimaan langsung kepada Pemerintah Daerah berupa uang langsung melalui komponen DBH Migas, penerimaan pajak (PBB Migas), serta kontribusi lewat Participating Interest (PI) sebesar 10 persen melalui Badan Usaha Milik Daerah (BUMD). Sebagai gambaran, Provinsi Riau yang dikenal kaya akan sumber daya migas itu mendapatkan DBH Migas sebesar Rp3,6 triliun dan PBB Migas sekitar Rp3,9 triliun.
Sementara pada level nasional, industri hulu migas berperan
menghasilkan penerimaan negara berupa PBB Migas sebesar Rp11 triliun pada tahun
2023 lalu. Angka tersebut mencapai separuh dari total penerimaan PBB dari
berbagai sektor secara nasional yang sebesar Rp22 triliun. “Bisa dibayangkan
ya, setengah dari PBB Indonesia itu dari migas,” Rinto menekankan. (Lihat Gambar di Bawah)
![]() |
| Perbandingan besaran PBB Migas dibandingkan PPB Non Migas. Sumber: Paparan Rinto A. Pudyantoro dalam Media Education IPA di Jakarta, awal April 2026. |
Lebih hebatnya lagi, dari seluruh penerimaan PBB Migas tersebut, sekitar 98 persen kembali lagi ke daerah. Hanya 2 persen yang tinggal di pusat. “Jadi pada akhirnya PBB Migas itu akan disalurkan ke daerah juga,” tutur Rinto seraya menggugah nalar setiap orang untuk membayangkan betapa besarnya nilai yang diterima oleh suatu Pemda di daerah dari kegiatan hulu migas di wilayahnya.
Untuk investasi dan PNBP Migas, mengutip data dari SKK
Migas, Rinto menerangkan industri hulu migas mampu menggulirkan dana sekitar
US$5,3 miliar pada tahun 2023. Dari nilai tersebut, gross revenue yang
dihasilkan mencapai US$8,9 milar. Setelah dipotong biaya cost recovery, biaya
cost assumption untuk kontrak yang memakai skema Gross Split, dan
bagian untuk pihak kontraktor, maka pemerintah mendapatkan US$3,6 miliar.
“Jika diperhatikan, pemerintah dapat US$3,6 miliar untuk
penerimaan negara, dibandingkan kontraktor cuma dapat US$984 juta,” terangnya. “Nah,
angka PNBP ini sebagian lari ke daerah melalui first trance DBH, Dana
Bagi Hasil,” lanjutnya. Rinto mencontohkan, untuk wilayah Sumatera Bagian Utara
(Sumbagut), mendapatkan bagian sampai Rp4,6 triliun.
Itu hanya sekelumit dampak langsung dari industri hulu migas.
Jika diulik lebih lanjut masih ada lagi komponen lain dari 13 direct impact
yang bisa dihitung. Di mana masih ada bagian PI 10 persen untuk BUMD, cipratan
dana CSR untuk masyarakat di lingkar operasi migas, sampai bergeraknya roda bisnis
penyedia barang dan jasa di dalam negeri serta terjadinya penyerapan tenaga kerja
lokal untuk kegiatan operasi migas yang berjalan.
Buka dan Serap Tenaga Kerja
Untuk yang terakhir disebut, banyak tenaga kerja lokal yang
bisa diserap. Bukan hanya untuk pekerjaan yang terkait langsung dengan kegiatan
operasi migas, namun juga segala jenis pekerjaan dari berbagai kegiatan penunjang
dan UMKM yang tumbuh. “Dampaknya sampai ke tenaga kerja lokal yang turut
berpartisipasi dalam kegiatan industri hulu migas. Tidak hanya sebagai welder,
tetapi juga ada tukang kebun, dan sebagainya,” kata Kepala Divisi
Formalitas SKK Migas, George N.M. Simanjuntak, dalam kegiatan Media Briefing
IPA di Jakarta, akhir Januari 2026 lalu.
Penciptaan lapangan kerja juga bisa terjadi lewat program Pelibatan
dan Pengembangan Masyarakat (PPM) yang dikembangkan oleh perusahaan Kontraktor
Kontrak Kerja Sama (KKKS). George menekankan, PPM harus disadari merupakan
bagian tak terpisahkan dari instrumen kontribusi industri, atau investasi
sosial jangka panjang dari suatu kegiatan usaha hulu migas. Di mana PPM turut
menggerakkan perkenomian dari sekitar daerah operasi, termasuk dengan membuka
lapangan kerja dari program yang bergulir. “Apa yang kita inginkan dari PPM ini
adalah dampak berkelanjutan dengan melibatkan masyarakat dalam kegiatan usaha
hulu migas,” ujar George.
Pendapat senada disampaikan Kenneth Gunawan, Ketua Komite
IPA Supply Chain Management. Dia menerangkan bahwa PPM saat ini tak semata
berupa bantuan sosial, tetapi juga harus menjadi bagian dari ekonomi
berkelanjutan serta local community empowerment.
Kenneth bercerita tentang penguatan ekonomi lokal di Madura
lewat program PPM hulu migas yang membantu serta melatih masyarakat lewat
pemberdayaan komunitas. Program yang terintegrasi dari hulu hingga hilir dalam
pengembangan usaha kuliner berbasis bebek ini mampu meningkatkan efisiensi
rantai pasok sehingga harga bebek menjadi lebih ekonomis. “Jadi di Madura itu
satu-satunya tempat di mana harga bebek itu lebih murah dari harga ayam,” ungkap
Kenneth, masih dari kegiatan Media Briefing IPA, akhir Januari 2026 lalu.
Apa rahasianya? Ternyata di Madura, produk bebek hanya
diolah setengah matang lalu langsung dikirim ke mitra franchise di
berbagai daerah. Konsep yang diajarkan hulu migas kepada masyarakat setempat itu
secara nyata mampu menekan harga bebek menjadi jauh lebih murah. Apalagi gagasan
tersebut juga terbukti mampu membuka lapangan kerja bagi warga sekitar. Hal ini
tentunya akan meningkatkan kepercayaan warga ring 1 terhadap perusahaan
migas yang beroperasi di sekitarnya. Alhasil, relasi antara keduanya kian
harmonis dan berkelanjutan.
Hulu Migas Harus Bercerita tentang Multiplier Effect
Namun sayangnya, realitas di lapangan terkadang tak selalu terekam
secara sempurna dalam benak publik. Masih banyak orang yang menganggap industri
hulu migas hanya semata mengejar produksi migas sebanyak-banyaknya. Berangkat
dari kondisi tersebut, Rinto A. Pudyantoro mengingatkan agar para stakeholder
hulu migas nasional dapat rajin bercerita tentang multiplier effect hulu
migas kepada masyarakat.
![]() |
| A. Rinto Pudyantoro, Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Pertamina. Foto: Ridwan Harahap |
Banyak yang bisa diceritakan. Rinto memaparkan, salah satunya terkait tugas utama industri hulu migas dalam meningkatkan penerimaan negara melalui penerimaan migas, penerimaan pajak migas, sampai pajak tidak langsung dari aktivitas perhotelan, rumah makan, dan lain-lain. Penerimaan tersebut akan bertransformasi menjadi belanja negara lewat berbagai kementerian dan lembaga negara.
Kendati demikian, tidak bisa serta-merta sejahtera. “Kalau
penerimaan negara naik besar dan tinggi itu bukan berarti langsung sejahtera.
Ibarat dalam keluarga, kalau suami gajinya naik, kira-kira keluarganya sejahtera
nggak? Tergantung, kalau istrinya belanja tas setiap hari, ya repot urusannya,”
beber Rinto.
Pada tingkat daerah juga sama. Rinto menerangkan ada tiga
sumber penerimaan daerah yang bisa diterima imbas dari keberadaan kegiatan hulu
migas di daerahnya. “Kalau APBD, dari sisi penerimaan, hulu migas itu paling
tidak memberikan penerimaan dari DBH Migas (Dana Bagi Hasil Migas), PBB Migas,
pajak daerah, itu yang langsung. Plus pajak tidak langsung,” ujarnya. “Nah, kalau
di daerah ada penerimaan migas tetapi dibelanjakan tidak benar, ya ada masalah
juga,” tambah Rinto.
Dia mengingatkan, dalam konteks dampak dari aktivitas hulu migas baik di daerah maupun pada tingkat pusat, pada akhirnya harus terwujud kesejahteraan dari dua sisi. “Sejahtera itu dari dua sisi, sisi penerimaannya dan juga dari sisi belanjanya. Dua sisi tersebut harus sama-sama tepat guna,” pungkas Rinto. RH
Reviewed by Ridwan Harahap
on
Senin, Mei 04, 2026
Rating:









