Oleh: Salis Aprilian, Dewan Pakar Komunitas Migas Indonesia (KMI)
Bagi banyak negara di Asia, perang Rusia-Ukraina sering dipandang sekadar konflik geopolitik yang terjadi ribuan kilometer jauhnya. Namun bagi industri gas dunia, perang yang dimulai pada Februari 2022 itu mengubah peta perdagangan LNG global secara drastis. Bukan hanya harga gas yang melonjak, tetapi juga cara negara-negara mengelola keamanan energinya.
Dalam IndoPacific LNG Summit 2026 di Bali, saya berkesempatan mengikuti paparan menarik dari László Fritsch, Deputy CEO MVM ONENERGY, salah satu perusahaan energi terbesar di Hungaria. Presentasi tersebut memberikan pelajaran penting tentang bagaimana Eropa membangun sistem gasnya selama lebih dari setengah abad, lalu dipaksa melakukan transformasi besar hanya dalam waktu beberapa tahun akibat perubahan geopolitik.
Pelajaran itu sangat relevan bagi Indonesia yang sedang membangun berbagai proyek LNG baru, mulai dari Masela, IDD, Andaman, hingga berbagai terminal LNG domestik.
Warisan Infrastruktur yang Menjadi Beban
Selama puluhan tahun Eropa mengembangkan industri gas dengan filosofi yang sangat berbeda dibanding Asia.
Gas di Eropa dibangun terutama untuk kebutuhan pemanas rumah (district heating), pemanas ruangan, industri, serta jaringan distribusi rumah tangga yang sangat luas.
Sebaliknya, di Asia gas berkembang untuk pembangkit listrik, pertumbuhan industri, pendingin udara, ekspansi ekonomi, serta kebutuhan transportasi seperti CNG di India.
Perbedaan filosofi pembangunan infrastruktur tersebut ternyata menghasilkan konsekuensi yang sangat berbeda.
Sejak dekade 1960-an, Eropa membangun jaringan pipa raksasa yang menghubungkan Rusia, bekas Uni Soviet, dan Afrika Utara menuju pusat-pusat konsumsi di Eropa Barat.
Pipeline menjadi tulang punggung pasokan energi selama lebih dari lima puluh tahun.
LNG hanya berfungsi sebagai pelengkap.
Ketergantungan pada Gas Rusia
Sebelum perang Ukraina, Eropa mengimpor sekitar 155 BCM gas Rusia pada tahun 2021.
Sebagian besar gas mengalir melalui Nord Stream 1 (kapasitas 55 BCM/tahun), TurkStream (15 BCM/tahun), jaringan Ukraina, dan berbagai interkoneksi di Eropa Timur.
Seluruh sistem dirancang untuk mengalirkan gas dari Timur menuju Barat.
Selama puluhan tahun model tersebut dianggap paling efisien secara ekonomi. Tidak banyak yang membayangkan bahwa suatu hari jalur tersebut akan terputus.
Februari 2022 Mengubah Segalanya
Invasi Rusia ke Ukraina menjadi titik balik. Dalam hitungan bulan, Eropa harus mengganti puluhan BCM gas pipa dengan LNG.
Terminal-terminal regasifikasi terapung (FSRU) dibangun secara sangat cepat.
Salah satu contoh yang dipaparkan adalah terminal Wilhelmshaven di Jerman yang berhasil beroperasi pada 17 Desember 2022, kurang dari satu tahun setelah perang dimulai.
Inilah salah satu pembangunan infrastruktur energi tercepat dalam sejarah modern.
LNG yang sebelumnya hanya pelengkap berubah menjadi tulang punggung keamanan energi Eropa.
Aliran Gas Berubah Total
Sebelum perang, gas mengalir dari Rusia menuju Eropa Barat.
Sesudah perang, aliran gas berbalik dari terminal LNG di pesisir Atlantik, Laut Utara, Mediterania, hingga Baltik menuju negara-negara Eropa Tengah.
Dengan kata lain, arah aliran gas berubah dari "East-West Flow" menjadi "North-South Flow."
Perubahan ini bukan sekadar perubahan arah pipa. Seluruh sistem operasi, kapasitas interkoneksi, kontrak transportasi, hingga mekanisme tarif harus disusun ulang.
RePowerEU: Memutus Ketergantungan
Uni Eropa kemudian meluncurkan program besar "RePowerEU."
Target utamanya sangat jelas, yakni: menghapus ketergantungan terhadap energi Rusia.
Dalam presentasi MVM disebutkan beberapa kebijakan penting, yakni: pembatasan LNG Rusia mulai 1 Januari 2027, penghentian pipeline gas Rusia mulai 30 September 2027, serta TurkStream tetap dapat digunakan tetapi dengan rezim sertifikasi baru (ex-ante certification).
Secara politik kebijakan tersebut dapat dipahami. Namun secara ekonomi, konsekuensinya sangat besar.
Negara Landlocked Menjadi Korban
Negara-negara tanpa pantai seperti Hungaria menghadapi tantangan yang jauh lebih berat dibanding negara pesisir.
Mereka tidak memiliki terminal LNG sendiri. Setiap molekul LNG harus melewati beberapa negara transit terlebih dahulu.
Akibatnya muncul berbagai biaya tambahan, antara lain: biaya regasifikasi, biaya transmisi, biaya entry-exit, biaya interkoneksi, biaya balancing, berbagai tarif operator sistem transmisi (TSO).
Fenomena ini oleh MVM disebut sebagai "pancaking tariff". Semakin banyak negara yang dilewati, semakin banyak pula lapisan biaya yang harus dibayar.
Presentasi menunjukkan contoh menarik. Melalui satu negara transit dapat muncul 3 jenis biaya. Melalui dua negara transit menjadi 6 biaya. Melalui tiga negara transit meningkat menjadi 10 jenis biaya.
Total transit charge bahkan dapat mencapai sekitar €3,47 hingga €4,81/MMBTU, belum termasuk beberapa biaya operator sistem lainnya.
Akibatnya LNG kehilangan daya saing dibanding pipeline.
Ironisnya, biaya tambahan tersebut bukan berasal dari harga LNG itu sendiri, melainkan dari kompleksitas regulasi dan jaringan transmisi.
Southern Corridor Belum Menjadi Solusi
Eropa sebenarnya mencoba mendiversifikasi pasokan melalui Southern Gas Corridor dari Azerbaijan.
MVM bahkan memiliki kepemilikan sekitar 5% di Lapangan Shah Deniz serta menjalin kontrak pasokan dengan SOCAR hingga sekitar 800 juta meter kubik per tahun.
Namun kapasitas jaringan pipa Trans-Anatolian (TANAP) dan Trans Adriatic Pipeline (TAP) masih terbatas.
Akibatnya Southern Route belum mampu menggantikan seluruh pasokan Rusia.
Pelajaran untuk Indonesia
Indonesia berada pada posisi yang sangat berbeda. Kita belum memiliki jaringan gas nasional yang masif seperti Eropa.
Sebagian orang melihat hal ini sebagai kelemahan. Padahal justru di sinilah peluang besar Indonesia.
Kita dapat membangun sistem gas nasional berdasarkan kondisi masa depan, bukan masa lalu.
Alih-alih hanya membangun pipa panjang yang mahal, Indonesia dapat mengembangkan kombinasi antara LNG, small scale LNG, mini LNG, CNG, floating storage, satelit LNG, serta pipeline regional yang saling terintegrasi.
Model seperti inilah yang banyak dikembangkan Jepang. Negara tersebut membangun puluhan receiving terminal, jaringan pipa yang saling terhubung (looped pipeline), serta satelit LNG sehingga sistemnya jauh lebih fleksibel menghadapi gangguan pasokan.
Masela dan Indonesia Timur
Pelajaran Eropa juga memperkuat gagasan bahwa proyek-proyek seperti Masela seharusnya tidak hanya dipandang sebagai proyek ekspor LNG.
Gas dari Masela dapat menjadi tulang punggung pengembangan jaringan energi Indonesia Timur melalui konsep hub-and-spoke yang menghubungkan terminal LNG utama dengan terminal-terminal satelit menggunakan kapal LNG skala kecil maupun CNG.
Dengan pendekatan tersebut, Indonesia tidak perlu mengulangi kesalahan banyak negara yang terlalu bergantung pada satu jenis infrastruktur.
Diversifikasi bukan hanya soal sumber gas. Diversifikasi juga menyangkut cara gas dikirim kepada konsumen.
Demikianlah, perang Rusia-Ukraina memberikan satu pelajaran yang sangat mahal bagi dunia energi.
Selama puluhan tahun Eropa membangun sistem gas yang sangat efisien secara ekonomi, tetapi kurang siap menghadapi perubahan geopolitik.
Ketika konflik terjadi, miliaran euro harus dikeluarkan untuk membangun terminal LNG baru, mengubah arah aliran gas, memperkuat interkoneksi, hingga menyusun ulang seluruh sistem tarif.
Indonesia masih memiliki kesempatan untuk belajar tanpa harus mengalami krisis serupa.
Saat proyek-proyek besar seperti Masela, IDD, Andaman, hingga berbagai terminal LNG baru mulai dikembangkan, keputusan yang diambil hari ini akan menentukan apakah sistem gas nasional kita akan cukup fleksibel menghadapi perubahan geopolitik beberapa dekade mendatang.
Pada akhirnya, ketahanan energi tidak hanya ditentukan oleh besarnya cadangan gas yang dimiliki, tetapi oleh kecerdasan dalam membangun infrastruktur yang mampu beradaptasi terhadap perubahan dunia yang semakin tidak pasti.
-----------
Yogyakarta, menjelang Dhuha
Rabu, 29 Juli 2026
Reviewed by Ridwan Harahap
on
Rabu, Juli 29, 2026
Rating:



