
Foto: Ridwan Harahap
Jakarta, OG Indonesia -- Ekspansi sektor industri aluminium di tanah air untuk
mendukung agenda hilirisasi pemerintah secara langsung telah memicu peningkatan
kapasitas pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) captive mencapai 9,8
gigawatt (GW). Langkah ini dikhawatirkan memperburuk lonjakan PLTU captive pada
industri nikel yang menyentuh 31 GW, dan mengunci pertumbuhan industri nasional
pada jalur berintensitas karbon tinggi.
Laporan terbaru Centre for Research on Energy and Clean Air (CREA) “Indonesia's Aluminium Downstream: Following nickel into captive coal boom” mengungkapkan, kebutuhan listrik untuk seluruh rencana proyek alumina dan aluminium diperkirakan mencapai 229 terawatt hour (TWh), setara hampir 64% dari total kapasitas PLTU on-grid dan off-grid pada 2024.
Saat ini, sebanyak hampir 1,8 GW PLTU captive telah beroperasi untuk mendukung industri aluminium. Tak hanya itu, tambahan 8 GW diperkirakan akan dibangun untuk mendukung 32 proyek prospektif di provinsi-provinsi kaya bauksit dan pusat-pusat industri pulau terpencil baru di luar Jawa.
Ekspansi pengolahan bijih bauksit menjadi aluminium bernilai tinggi didorong oleh keinginan pemerintah mencapai kedaulatan ekonomi. Namun, ekspansi besar-besar secara cepat ini justru mendorong industri aluminium mengulang kesalahan industri nikel, yakni bergantung pada PLTU captive.
Apalagi, Peraturan Presiden Nomor 112 Tahun 2022 masih memberikan pengecualian bagi PLTU captive dalam Proyek Strategis Nasional (PSN) dari kewajiban pengurangan emisi.
"Ekspansi aluminium Indonesia mengikuti preseden berbahaya nikel, yang menunjukkan kurangnya perencanaan antisipatif untuk lokasi industri baru yang akan ditempatkan di dekat potensi energi bersih, atau dirancang untuk konektivitas jaringan di masa depan. Jika seluruh kapasitas yang direncanakan berjalan sesuai rencana, pengolahan aluminium hilir dapat menyebabkan ledakan penggunaan batu bara industri secara mandiri," kata Katherine Hasan, Analis CREA, Kamis (2/7/2026).
Padahal, lonjakan PLTU captive akan melemahkan target dekarbonisasi nasional, mengunci pertumbuhan industri pada jalur berintensitas karbon tinggi, serta membebankan biaya lingkungan dan kesehatan pada masyarakat.
“Pemerintah seharusnya mewajibkan proyeksi kebutuhan energi komprehensif pada tahap pengembangan awal, serta memprioritaskan integrasi dengan jaringan dan energi terbarukan captive, seperti air dan surya, bukan batu bara,” Katherine menambahkan.
Data juga menunjukkan sekitar 75% dari semua proyek alumina dan aluminium domestik merupakan dukungan investasi Tiongkok. Temuan ini dinilai bertentangan dengan narasi kedaulatan ekonomi yang diusung pemerintah dan menimbulkan pertanyakan terkait realita transfer teknologi bagi tenaga kerja lokal.
Selain itu, total kapasitas alumina Indonesia diproyeksikan meningkat empat kali lipat dari 7 juta ton pada tahun 2025 menjadi 32,5 juta ton pada 2030, dan hampir seluruhnya didorong oleh alumina kelas peleburan (Smelter-Grade Alumina/SGA). Sebaliknya, alumina kelas kimia (Chemical-Grade Alumina/CGA) tetap stagnan di angka 300 ribu ton, menunjukkan investasi masif berfokus pada produk logam primer dibanding produk bernilai tinggi.
Apabila seluruh proyek terealisasi, permintaan bahan baku domestik akan meroket dari 14 juta menjadi sekitar 65 juta ton bijih bauksit setiap tahun. Dengan skenario tersebut, cadangan bauksit terbukti Indonesia yang saat ini mencapai 1 miliar ton berisiko habis dalam waktu kurang dari 12 tahun.
Syahdiva Moezbar, Analis Industri CREA mengungkapkan, hal ini menunjukkan kenyataan di lapangan justru bertentangan dengan klaim hilirisasi aluminium untuk kedaulatan ekonomi.
“Ekspansi yang tidak terkendali justru dapat menciptakan kerentanan baru terkait keamanan sumber daya dan pasokan energi. Risiko ini diperparah oleh ketergantungan yang sangat besar pada investasi asing terutama dari Tiongkok, serta dominasi tenaga kerja kontrak. Untuk melindungi industri dan mengurangi dampak lingkungannya, pemerintah harus memastikan bahwa proyek-proyek yang sedang berjalan transparan, berdasarkan penilaian realistis terhadap cadangan dan pasokan bijih, dan mencakup rencana energi terintegrasi yang menghindari ketergantungan pada energi berbasis fosil,” Syahdiva menjelaskan. RH
Reviewed by Ridwan Harahap
on
Kamis, Juli 02, 2026
Rating:


