PJBG Ditandatangi, PLN Siap Serap Gas Andaman Sebesar 160 MMSCFD


Jakarta, OG Indonesia --
Perjanjian Jual Beli Gas (PJBG) dari proyek pengembangan lapangan gas raksasa di Wilayah Kerja (WK) South Andaman akhirnya ditandatangani di Jakarta, Senin (6/7/2026).

"Alhamdulilah, PJBG/GSA antara KKKS Mubadala dan PLN untuk gas Andaman 160 MMSCFD baru saja selesai diteken guna keperluan FID yang Insya Allah dalam waktu dekat ini FID selesai. Rencana onstream 2028, lebih cepat dari Masela," kata Kepala Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi, Djoko Siswanto dalam laporannya kepada Menteri ESDM, seperti informasi yang diterima OG Indonesia.

Kepala SKK Migas menjelaskan, lapangan Tangkulo sebagai tahap awal pengembangan dari Andaman memiliki cadangan sekitar 1 triliun kaki kubik (TCF) dengan total produksi direncanakan mencapai 300 MMSCFD. Lewat PJBG dengan PT PLN Energi Primer Indonesia (PLN EPI) selaku anak usaha PLN, maka sebanyak 160 MMSCFD telah memiliki pembeli. "Sebanyak 140 MMSCFD lainnya sedang dicarikan pembeli gasnya dan konsep pengelolaannya," terangnya.

Adapun untuk pengembangan selanjutnya dari Andaman, lanjut Djoksis adalah dari lapangan Selayar dan lapangan terdekat lainnya dengan total cadangan gas yang telah ditemukan sebesar 10 TCF.

Kepala SKK Migas menerangkan, "PJBG ini seyogjanya diteken pada acara IPA kemarin namun ada 1 klausul terkait price review yang berubah sehingga harus mendapat persetujuan dari head quarter (Mubadal) di Abu Dhabi maka baru bisa diteken kemarin tanggal 6 Juli 2026."

Diketahui, WK South Andaman yang PI-nya sebesar 80 persen dipegang Mubadala Energy menggunakan skema gross split sejak awal eksplorasinya hingga saat ini. Sisa 20 persen PI di WK tersebut dimiliki oleh Harbour Oil yang rencananya akan dilepas lewat mekanisme farm-out kepada investor lain.

Lebih lanjut Kepala SKK Migas mengungkapkan, POD-1 pembangunan fasilitas produksi dari proyek pengembangan lapangan di Andaman akan menggunakan konsep hybrid di offshore dan onshore.

"Pemisahan gas, kondensat, CO2 dan H2S dilakukan dengan menggunakan FPSO, kemudian lean gas-nya atau gas bersihnya dikirim ke onshore menggunakan pipa offshore sepanjang 80 km dan di onshore dibangun fasilitas produksi ORF di kawasan KEK Arun termasuk pipa onshore-nya dan sudah mendapatkan izin persetujuan dari LMAN (Lembaga Manajemen Aset Negara) Kemenkeu," bebernya.

Djoksis menjelaskan, gas dari sumur-sumur offshore di Andaman tidak dapat langsung dibawa langsung ke darat karena mengandung CO2 serta H2S, yang bersifat sangat korosif sehingga bisa membuat pipa cepat berkarat, bocor dan rapuh.

"Sehingga CO2 dan H2S-nya harus dipisahkan terlebih dahulu. Ini juga sebagai syarat mutlak untuk diterima oleh Pertagas dan PLN sesuai dengan spesifikasi gas yang dituangkan dalam access agreement ysng diterbitkan oleh BPH Migas dan spek gas pembangkit listrik yang tidak boleh ada komponen C02 dan H2S yang tinggi," paparnya.

Sebagai informasi, pembangunan fasilitas sumur-sumur offshore di laut dalam yang jauh dari daratan dengan banyak kadar impurities, sudah sangat biasa. "Hal ini dilakukan juga di Masela, ada FPSO dan ada O-LNG, dan di KKKS di Natuna, lalu Selat Madura, offshore Kaltim, dan lain-lain," pungkas Djoksis. RH

PJBG Ditandatangi, PLN Siap Serap Gas Andaman Sebesar 160 MMSCFD PJBG Ditandatangi, PLN Siap Serap Gas Andaman Sebesar 160 MMSCFD Reviewed by Ridwan Harahap on Selasa, Juli 07, 2026 Rating: 5
Diberdayakan oleh Blogger.