
Muhammad Arifin, Direktur Utama PHR.
Foto: Ridwan Harahap
Kabupaten Bogor, OG Indonesia -- Pertamina Hulu Rokan (PHR) Regional 1 menegaskan komitmennya menjaga ketahanan energi nasional melalui strategi mempertahankan produksi migas di tengah tantangan natural decline lapangan-lapangan mature. Strategi tersebut dipaparkan Direktur Utama PHR Muhamad Arifin dalam Media Gathering PHR Regional 1 2026 di Sentul, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, pada Rabu (29/7/2026).
Direktur Utama PT Pertamina Hulu Rokan Muhamad Arifin mengatakan, Regional 1 merupakan salah satu tulang punggung produksi migas nasional. Hingga semester pertama 2026, Regional 1 berkontribusi sekitar 31 persen terhadap lifting minyak nasional atau sekitar 177.000 barel minyak per hari (BOPD), serta menyumbang 39 persen produksi minyak dan 27 persen produksi gas Subholding Upstream Pertamina.
Pada semester pertama 2026, Regional 1 membukukan produksi minyak sebesar 178.030 BOPD atau 87 persen dari target. Sementara untuk produksi gas sebesar 746,80 juta standara kaki kubik per hari (MMSCFD) atau 98 persen dari target. Sedangkan untuk lifting minyak mencapai 177.470 BOPD atau 86 persen dari target, dan lifting/salur gas sekitar 545,25 MMSCFD atau 98 persen dari target.
Arifin menjelaskan, tantangan terbesar yang dihadapi PHR saat ini adalah mengelola lapangan-lapangan migas mature, khususnya Blok Rokan yang telah berproduksi sejak 1952 dan mengalami natural decline lebih dari 30 persen setiap tahun.
"Menjaga produksi dari lapangan mature membutuhkan upaya yang semakin kompleks. Karena itu kami menjalankan strategi yang tidak hanya mempertahankan baseline produksi, tetapi juga menciptakan sumber pertumbuhan baru agar ketahanan energi nasional tetap terjaga," katanya.
Untuk menjawab tantangan industri hulu migas yang semakin kompleks, PHR menerapkan tiga strategi utama yang saling terintegrasi, yakni Energy Security, Energy Transition, serta New Business & Strengthening Enablers. Ketiga strategi tersebut menjadi landasan perusahaan dalam menjaga ketahanan energi nasional, mendukung transisi menuju energi yang lebih berkelanjutan, sekaligus membangun kapabilitas baru untuk memastikan pertumbuhan bisnis jangka panjang.
Implementasi strategi tersebut dijalankan melalui lima pilar strategis yang saling melengkapi. Pilar Maintain Baseline menjadi fondasi utama dalam menjaga keberlanjutan produksi dari lapangan-lapangan migas yang telah matang (mature assets).
Upaya ini dilakukan melalui optimalisasi teknologi primary recovery, secondary recovery, hingga tertiary recovery, termasuk penerapan Chemical Enhanced Oil Recovery (CEOR) secara komersial di Minas Area A sejak Desember 2025 untuk meningkatkan perolehan minyak dari lapangan yang telah lama berproduksi.
Di saat yang sama, PHR terus mempercepat pertumbuhan produksi melalui pilar Production Growth. Strategi ini diwujudkan melalui pengembangan struktur baru dan kegiatan eksplorasi di sejumlah wilayah prospektif, seperti Astrea, Pinang East, dan Mustang Hitam, yang telah memberikan tambahan produksi sekitar 1.000–2.000 barel minyak per hari.
PHR juga memperkuat kegiatan eksplorasi di cekungan matang maupun wilayah kerja baru yang memiliki potensi sumber daya migas, didukung pembangunan infrastruktur yang memadai. Selain itu, perusahaan mulai mengembangkan ekosistem Carbon Capture, Utilization, and Storage (CCUS) secara menyeluruh sebagai salah satu pendorong pertumbuhan bisnis di masa depan.
Seiring dengan upaya menjaga dan meningkatkan produksi, PHR juga mempercepat transformasi menuju perusahaan energi yang lebih berkelanjutan melalui pilar Energy Transition. Fokus utama pilar ini adalah mengoptimalkan potensi cadangan gas sebagai energi transisi, memperkuat penerapan prinsip Environmental, Social, and Governance (ESG), serta menjalankan berbagai inisiatif dekarbonisasi. Langkah tersebut sekaligus membuka peluang pengembangan bisnis berbasis gas yang semakin berperan dalam mendukung bauran energi nasional.
Untuk memastikan perusahaan tetap tangguh menghadapi dinamika industri energi global, PHR mengedepankan pilar Competitiveness melalui penerapan strategi cost leadership, percepatan transformasi digital, serta optimalisasi proses bisnis guna meningkatkan efisiensi, produktivitas, dan keunggulan operasional.
Upaya tersebut kemudian diperkuat melalui pilar Value Added & New Business yang berfokus pada penciptaan nilai tambah dan pengembangan peluang usaha baru, antara lain melalui penyediaan layanan Carbon Capture and Storage (CCS), optimalisasi logistik, peningkatan efisiensi energi, serta pemanfaatan kalkulator karbon untuk mengukur dan memantau emisi.
Keseluruhan strategi tersebut ditopang oleh fondasi organisasi yang kuat, meliputi transformasi digital, penerapan HSSE dan prinsip keberlanjutan, pengembangan sumber daya manusia dan keunggulan eksekusi, tata kelola perusahaan yang baik (Good Corporate Governance/GCG), manajemen risiko, serta penguatan hubungan dengan para pemangku kepentingan dan pemberdayaan masyarakat.
Selain menjaga produksi, PHR juga terus memperkuat keberlanjutan cadangan migas. Hingga Juni 2026, Regional 1 telah menyelesaikan tiga sumur eksplorasi atau melampaui target, merealisasikan 163 sumur eksploitasi, menambah cadangan P1 sebesar 6,26 juta barel setara minyak (MMBOE), serta membukukan temuan sumber daya 2C sebesar 16,49 MMBOE.
Di sisi operasional, perusahaan mencatat kinerja proyek yang positif dengan Schedule Performance Index (SPI) sebesar 0,960 dan Cost Performance Index (CPI) sebesar 1,133. Akuisisi seismik 3D mencapai 140 kilometer persegi atau 140 persen dari target, sementara program workover dan well service terus dipercepat untuk mendukung peningkatan produksi pada semester kedua tahun ini.
Kemudian dari sisi HSSE, hingga Juni 2026, Regional 1 mencatatkan zero fatality, Total Recordable Injury Rate (TRIR) 0,00, serta 74,97 juta jam kerja aman. Kinerja keselamatan ini menjadi fondasi untuk menjaga operasi yang andal, berkelanjutan, dan mampu mendukung pasokan energi nasional.
Arifin menambahkan, penting bagi PHR untuk terus mengembangkan inovasi teknologi, mulai dari digitalisasi, pemanfaatan kecerdasan buatan (AI), Internet of Things (IoT), otomasi, hingga pengembangan CEOR dan MNK.
"Kami meyakini kombinasi inovasi teknologi, investasi yang berkelanjutan, serta eksplorasi agresif akan menjadi kunci menjaga produksi migas nasional di tengah tantangan lapangan mature sekaligus memperkuat ketahanan energi Indonesia," ujar Arifin.
Media Gathering yang berlangsung pada 29–30 Juli 2026 di The Alana Hotel & Conference Center Sentul mengusung tema "Collaboration, Energy & Impact". Sebanyak 32 jurnalis dari berbagai media nasional mengikuti rangkaian kegiatan yang mencakup pemaparan perusahaan, diskusi, networking, team building, hingga ramah tamah. Kegiatan ini menjadi wadah untuk mempererat hubungan, membangun komunikasi yang terbuka, serta meningkatkan pemahaman media mengenai industri hulu migas, tantangan yang dihadapi, dan kontribusi PHR dalam mendukung ketahanan energi nasional.
Media Gathering PHR Regional 1 2026 diharapkan menjadi momentum untuk memperkuat kedekatan, membangun kepercayaan (trust), serta menciptakan mutual understanding antara PHR dan insan media. Melalui kolaborasi yang semakin erat, PHR berharap informasi mengenai industri hulu migas dan perannya dalam menjaga ketahanan energi nasional dapat tersampaikan secara akurat dan konstruktif kepada masyarakat. RH
Reviewed by Ridwan Harahap
on
Senin, Agustus 03, 2026
Rating:


