Sabah - Malaysia, OG Indonesia-- Isu Human Capital semakin menempati posisi strategis dalam menghadapi perubahan dunia kerja yang dipengaruhi perkembangan teknologi, kecerdasan artifisial (AI), tuntutan agility, serta perubahan karakter tenaga kerja. Perspektif tersebut menjadi salah satu perhatian utama dalam penyelenggaraan 53rd ARTDO International World Conference 2026 di Hilton Kota Kinabalu, Sabah, Malaysia, 6–8 September 2026 yang lalu.
Mengusung tema “Reimagining Human Capital: From Gaps to Growth in the Age of AI, Agility & Authenticity”, konferensi internasional ini mempertemukan praktisi, pemimpin perusahaan, akademisi, serta profesional pengembangan sumber daya manusia dari berbagai negara.
Indonesia turut mengambil bagian dalam forum tersebut. Abimanyu Suryadi, VP Human Capital PT Pertamina Drilling Services Indonesia (PDSI). Kehadiran Abimanyu menjadi bagian dari representasi perspektif industri energi Indonesia dalam pembahasan mengenai bagaimana pengelolaan manusia dapat berkontribusi langsung terhadap pencapaian kinerja organisasi.
Dalam agenda konferensi, Abimanyu memaparkan “Fostering Diversity, Equity & Inclusion for Excellent Performance at Pertamina Drilling”, dirinya menyampaikan konsep Diversity, Equity & Inclusion (DE&I) dalam konteks yang lebih luas, yakni hubungannya dengan penciptaan kinerja unggul di lingkungan perusahaan khususnya di dalam PDSI.
Bagi industri energi, isu tersebut memiliki relevansi tersendiri. Operasi perusahaan migas dan jasa penunjangnya berlangsung dalam lingkungan kerja yang kompleks, membutuhkan kompetensi beragam, kolaborasi lintas fungsi, serta kemampuan beradaptasi terhadap perubahan teknologi dan tuntutan bisnis.
Karena itu, pembahasan mengenai keberagaman tidak semata-mata berkaitan dengan komposisi tenaga kerja. Lebih jauh, DE&I berkaitan dengan bagaimana organisasi menciptakan lingkungan yang memungkinkan individu dengan latar belakang, pengalaman, kompetensi, dan perspektif yang berbeda dapat memberikan kontribusi secara optimal.
Dari Human Capital Menuju Business Performance
Dalam kesempatan ini, Abimanyu memperlihatkan keterkaitan antara strategi human capital dan pencapaian kinerja perusahaan. Dalam konteks perusahaan jasa pengeboran, keberhasilan operasional sangat bergantung pada kualitas sumber daya manusia. Kompetensi teknis perlu berjalan beriringan dengan kemampuan kepemimpinan, komunikasi, kolaborasi, pengambilan keputusan, serta kemampuan beradaptasi terhadap perubahan.
Dengan demikian, strategi Human Capital tidak berhenti pada fungsi administratif maupun pengelolaan tenaga kerja. Human Capital dituntut menjadi bagian dari strategi bisnis yang mampu memastikan organisasi memiliki manusia dengan kompetensi dan karakter yang sesuai dengan kebutuhan operasional maupun tantangan masa depan.
Kehadiran PDSI dalam forum internasional tersebut memberikan ruang bagi Pertamina Drilling untuk berbagi perspektif mengenai bagaimana pendekatan DE&I diterjemahkan dalam konteks organisasi dan dikaitkan dengan pencapaian excellent performance.
ARTDO International World Conference 2026 sendiri membawa narasi besar mengenai kebutuhan untuk “reimagining human capital”, memikirkan kembali bagaimana organisasi mengembangkan manusia di tengah perubahan yang semakin cepat.
Konferensi tersebut menghubungkan isu human capital dengan tiga dinamika utama yakni AI, agility, dan authenticity. Ketiganya menjadi tantangan sekaligus ruang baru bagi organisasi dalam membangun tenaga kerja yang mampu menghadapi perubahan.
Pada akhirnya, transformasi organisasi tetap membutuhkan manusia sebagai penggerak utama. Teknologi dapat mengubah cara bekerja, tetapi kemampuan organisasi untuk mengintegrasikan manusia dengan teknologi, membangun budaya kolaboratif, serta menciptakan ruang bagi beragam talenta akan turut menentukan bagaimana perubahan tersebut diterjemahkan menjadi kinerja. MB
Reviewed by OG Indonesia
on
Jumat, September 25, 2026
Rating:





