Catatan dari Teluk Balikpapan: Menakar Kesiapan Sebuah Shorebase

Pengalaman membangun rekam jejak dan kompetensi menjalankannya, tetapi keduanya hanya bertahan sejauh fondasinya kuat. Catatan dari Eastkal, Shorebase di Teluk Balikpapan.

Jakarta, OG Indonesia-- Dalam kegiatan offshore migas, pekerjaan sangat bergantung pada apa yang sudah disiapkan di darat. Material harus tersedia sesuai kebutuhan, equipment perlu diperiksa sebelum digunakan, dan mobilisasi harus berlangsung sesuai rencana. 

Di titik ini, shorebase bukan sekadar tempat menyimpan barang, melainkan bagian dari rangkaian pekerjaan yang menentukan kesiapan kegiatan offshore. Tantangannya, kebutuhan setiap pekerjaan tidak selalu sama. Jenis cargo, equipment, hingga kebutuhan mobilisasi dapat berubah mengikuti tahapan sebuah proyek. 

Karena itu, fasilitas yang memadai saja belum cukup. Ada standar, prosedur, perizinan, dan tentu saja orang yang memastikan semuanya berjalan sebagaimana mestinya.

Pengalaman menangani kebutuhan yang beragam itu telah menjadi bagian dari perjalanan PT Pelabuhan Penajam Banua Taka (Eastkal), yang menjadi bagian dari Astra Infra sejak 2013 dan beroperasi sebagai shorebase di Teluk Balikpapan. Dari kegiatan kepelabuhanan, cargo handling, dan storage, hingga dukungan logistik untuk berbagai pekerjaan migas, material dan equipment yang ditangani terus berkembang mengikuti karakter masing-masing pekerjaan, mulai dari Christmas Tree (X-Tree), riser, drilling equipment, hingga berbagai jenis cargo lain untuk kegiatan offshore.

Pengalaman dan kecakapan dalam menangani berbagai kebutuhan tersebut pada akhirnya membawa kita pada satu pertanyaan: apa yang membuat sebuah shorebase benar-benar dapat dikatakan siap ketika dibutuhkan?


Compliance sebagai Fondasi, Bukan Formalitas

Salah satu jawabannya ada pada compliance. Sebuah shorebase tidak bergerak dalam satu jenis kegiatan saja : pada waktu bersamaan berlangsung kegiatan kepelabuhanan, penanganan dan penyimpanan cargo, pengoperasian fasilitas pendukung seperti Liquid Mud Plant (LMP), hingga pengelolaan limbah B3, yang masing-masing tunduk pada regulasi, otoritas, dan persyaratan teknis berbeda. Semakin luas spektrum kegiatannya, semakin banyak ketentuan yang harus dipenuhi bersamaan dan semakin kecil ruang untuk kelalaian.

Di titik inilah compliance berfungsi sebagai fondasi. Pengalaman dan keahlian teknis dapat membangun banyak hal di atasnya, tetapi keduanya hanya bertahan sejauh fondasinya kuat. Rekam  jejak  yang  panjang  tidak  akan  banyak  berarti  apabila  dasar  legal  dan  standar operasinya tidak dipenuhi secara utuh.

Dasar legal dan standar operasi itulah yang menopang kegiatan Eastkal. Di sisi legal, Eastkal mengantongi izin Badan Usaha Pelabuhan (BUP), Pusat Logistik Berikat (PLB), operasional LMP,   kelayakan   lingkungan,   serta   pengelolaan   Limbah   B3.   Di   sisi   standar   operasi, pengelolaannya  mengacu  pada  ISO  9001,  ISO  14001,  dan  ISO  45001,  dengan  aspek keamanan fasilitas mengikuti ISPS Code.

Namun dokumen saja belum berarti compliance terpenuhi. Sebuah izin menyatakan bahwa persyaratan pernah dipenuhi pada satu waktu, yang menentukan adalah apakah persyaratan itu benar-benar dijalankan dalam operasional sehari-hari. Karena itu pemenuhannya perlu dipastikan sampai ke setiap proses kerja, dari bagaimana material diterima dan disimpan, fasilitas  dioperasikan,  hingga  limbah  dikelola.  Termasuk  memastikan  ruang  lingkup  izin benar-benar mencakup kegiatan yang dijalankan di lapangan.

Dari  dasar itulah standar operasional dijabarkan, dan salah satu yang paling menentukan adalah aspek keselamatan. Aktivitas lifting, penggunaan equipment, dan pergerakan cargo memunculkan   risiko   pada   berbagai   tahapan   pekerjaan,   sehingga   keselamatan   perlu diperhatikan sejak pekerjaan dipersiapkan hingga selesai. Pengendaliannya diterapkan antara lain melalui Pre-Job Safety Meeting (PJSM), Golden Rules, dan Stop Work Authority (SWA), serta praktik lain sesuai kebutuhan pekerjaan.

Dijelaskan Marina Abriani, HSE & Technical Support Division Head Eastkal, keselamatan merupakan prioritas utama dan bukan hanya menjadi tanggung jawab satu pihak, melainkan seluruh orang yang terlibat dalam pekerjaan.

Stop Work Authority itu hak semua orang. Kalau ada yang ragu terhadap kondisi di lapangan, saya lebih memilih pekerjaan berhenti dulu. Kami tahu setiap penundaan ada biayanya, tapi itu masih bisa dihitung, kecelakaan tidak,” jelasnya.

Yang pada akhirnya menentukan adalah sejauh mana standar itu dipahami di semua lapisan. Compliance dan keselamatan tidak dapat berhenti di tingkat manajemen atau di dokumen sistem, karena keputusan yang paling menentukan justru sering diambil di lapangan. Pemahaman yang sama perlu dibangun dari pekerja di area kerja hingga jajaran manajemen, agar standar yang tertulis dan yang dijalankan tidak berjarak.

Penerapannya juga diperkuat melalui Management Walkthrough, ketika manajemen melihat langsung kondisi aktual di lapangan. Catatan Zero LTI yang dijaga Eastkal selama lebih dari satu  dekade  tidak  lepas  dari  kebiasaan  yang  terbangun  dari  praktik  sehari-hari tersebut, sehingga keselamatan tidak hanya dijalankan sebagai prosedur, tetapi menjadi cara kerja.


Standar Tidak Berjalan dengan Sendirinya

Kesiapan  sebuah  pekerjaan pada akhirnya juga bergantung pada kompetensi orang yang berada di baliknya. Pada pekerjaan lifting, misalnya, sejumlah penilaian teknis harus diambil sebelum satu proses dimulai dan penilaian-penilaian itu saling menentukan satu sama lain.

Di Eastkal, kompetensi tersebut salah satunya tercermin pada Angga Gustama, Operations Department Head, yang memiliki kualifikasi dari Lifting Equipment Engineers Association (LEEA), organisasi internasional yang berfokus pada pengembangan kompetensi, standar, dan praktik terbaik di industri lifting

Kualifikasi tersebut mencakup prinsip keselamatan, inspeksi dan pemeriksaan peralatan, penilaian kondisi serta kesesuaian peralatan untuk digunakan, hingga penerapan praktik kerja yang aman. Pemahaman semacam itu semakin relevan dalam operasional shorebase, ketika setiap pekerjaan membawa karakteristik dan risiko yang berbeda.

Angga Gustama selaku Operations Department Head Eastkal memaparkan bahwa prosedur tidak lepas kaitannya dengan penilaian risiko yang matang, oleh karenanya setiap penerapannya pun harus disesuaikan dengan kondisi di lapangan.

Cargo di shorebase tidak pernah benar-benar seragam. Lifting X-Tree ke atas kapal berbeda dengan tubular, mulai dari titik angkat, pemilihan lifting gear, hingga metodenya. Belum  lagi  kondisi  pasang  surut  dan  angin  dapat  mengubah  rencana  yang  sudah disusun. Yang saya dapat dari LEEA bukan sekadar paham prosedur, tetapi menilai risiko secara teknis dan memahami batasan setiap equipment dan gear. Karena tidak semua kondisi bisa diselesaikan dengan prosedur yang sama,”papar Angga.


Shorebase Lebih dari Sekadar Tempat Singgah

Posisi shorebase dalam rantai kegiatan offshore membuat kebutuhannya terus bergerak. Material yang disimpan di area yard pada satu waktu dapat menjadi bagian dari pekerjaan offshore  di  waktu  berikutnya.  Begitu pula equipment yang telah digunakan dapat kembali membutuhkan pemeriksaan, penyimpanan, atau maintenance sebelum dipakai pada pekerjaan selanjutnya. 

Rekam jejak Eastkal selama lebih dari satu dekade mencakup rangkaian tersebut, mulai dari supply base services, penanganan dan penyimpanan equipment pendukung offshore campaign, hingga dukungan maintenance.

Kebutuhan  terhadap  shorebase  pada  dasarnya  berjalan seiring dengan aktivitas migas di wilayah sekitarnya. Di Kalimantan Timur, perkembangan Kutei Basin menjadi salah satu gambarannya. 

Dilansir dari laman eni.com, pada Maret 2026, Eni mengambil keputusan investasi final untuk dua pengembangan deepwater sekaligus, Gendalo–Gandang dan Geng North–Gehem. Kedua proyek ditargetkan mulai berproduksi pada 2028 dan mencapai plateau gabungan 2 Bscfd gas. Pada April 2026, Eni mengumumkan penemuan gas Geliga di cekungan yang sama, indikasi bahwa aktivitas eksplorasi di kawasan ini masih berlanjut. 

Sumber : Eni (2026),  Eni’s major Geliga Gas Discovery Confirms the Strategic Potential of Indonesia’s Kutei Basin and Unlocks Significant New Volumes for Domestic and International Markets  , 20 April 2026 (https://www.eni.com/en-IT/media/press-release/2026/04/eni-major-geliga-gas-discovery-confirms-the-strategic-potential-of-indonesia.html)

Eni (2026), Eni moves forward with major deep water gas hubs in Indonesia with dual FIDs, 18 Maret 2026. (https://www.eni.com/en-IT/media/press-release/2026/03/eni-moves-forward-with-major-deep-water-gas-hubs-in-indonesia-with-dual-fids.html)

Perkembangan tersebut menunjukkan bahwa kebutuhan di kawasan ini tidak berhenti pada pembangunan fasilitas produksi offshore. Mobilisasi material dan equipment, kebutuhan penyimpanan, cargo handling, hingga pekerjaan maintenance memiliki karakter dukungan yang berbeda pada setiap tahap. Dan ketika beberapa pekerjaan berjalan dalam waktu berdekatan, yang diuji dari sebuah shorebase bukan hanya kapasitasnya, melainkan apakah standar yang sama masih dapat dijaga pada setiap pekerjaan.

Ditambahkan Fatoni Tahar, Chief of Operations Eastkal bahwa seiring berkembangnya aktivitas hulu migas, perizinan dan catatan keselamatan menjadi bagian penting dalam memastikan kesiapan operasional. Di sinilah compliance menjadi fondasi yang menjaga standar operasional tetap berjalan dalam setiap pekerjaan.

“Dulu pertanyaan pertama klien biasanya soal kapasitas yard dan dermaga. Sekarang yang lebih dulu ditanyakan justru perizinan dan catatan keselamatan, dan menurut saya itu  perubahan  yang sehat bagi industri ini. Aktivitas di kawasan ini akan meningkat beberapa tahun ke depan dan kami sudah siap untuk itu. Ketika pekerjaan bertambah, standar tidak boleh tergerus,”pungkas Fatoni. 

Bagi shorebase, kesiapan justru terlihat pada hal-hal yang sering luput dari perhatian : izin yang ruang lingkupnya sesuai, prosedur yang benar-benar dijalankan, risiko yang dikaji sebelum pekerjaan dimulai, serta orang yang memahami apa yang harus dilakukan ketika kondisi berubah. 

Di situlah ketiganya bertemu  :  pengalaman membangun rekam jejak, kompetensi menjalankannya, dan compliance menjaga agar keduanya berdiri di atas dasar yang kokoh. Dasar seperti itu tidak dibangun ketika pekerjaan datang, melainkan jauh sebelumnya.



Catatan dari Teluk Balikpapan: Menakar Kesiapan Sebuah Shorebase Catatan dari Teluk Balikpapan: Menakar Kesiapan Sebuah Shorebase Reviewed by OG Indonesia on Kamis, September 10, 2026 Rating: 5
Diberdayakan oleh Blogger.