Tak Hanya Alirkan Energi, JTB Tumbuhkan Ekonomi Masyarakat Bojonegoro

UMKM Herbasina Nutrindo di Desa Ngradin, Kecamatan Padangan, Bojonegoro, berhasil mengolah daun kelor yang sebelumnya lebih banyak dimanfaatkan secara terbatas menjadi berbagai produk makanan dan minuman.

Bojonegoro, OG Indonesia --
 Kehadiran industri hulu migas diharapkan memberikan manfaat yang melampaui kegiatan operasi dan produksi. Di sekitar wilayah Jambaran–Tiung Biru (JTB), Kontraktor Kontrak Kerja Sama (KKKS) Pertamina EP Cepu (PEPC) menjalankan sejumlah Program Pelibatan dan Pengembangan Masyarakat (PPM) yang mendorong masyarakat mengubah persoalan lingkungan dan potensi lokal menjadi kegiatan produktif. 

Program tersebut diperkenalkan kepada media dalam rangkaian kunjungan ke sejumlah lokasi PPM PEPC di Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur, Selasa (22/9/2026). Salah satunya di Desa Sendangharjo, Kecamatan Ngasem. Melalui Bank Sampah Mandiri Keluarga Harapan (BSM-KH), masyarakat melakukan pemilahan dan pengolahan sampah, budidaya magot, hingga mengolah plastik yang tidak memiliki nilai ekonomis melalui sistem pirolisis menjadi bahan bakar untuk kebutuhan operasional internal kelompok. 

Program ini berangkat dari persoalan pembuangan dan pembakaran sampah yang sebelumnya berpotensi menimbulkan pencemaran serta risiko kebakaran hutan dan lahan. 

Dampaknya mulai terlihat. BSM-KH kini memiliki 340 kepala keluarga sebagai nasabah bank sampah, dengan kapasitas pengelolaan rata-rata mencapai 50 ton sampah per tahun dan rata-rata pendapatan kelompok sekitar Rp45 juta per tahun. Sebanyak 25 orang terlibat dalam berbagai kegiatan, mulai dari pemilahan dan penjemputan sampah hingga budidaya magot dan pengoperasian pirolisis. Program ini juga merambah dunia pendidikan melalui KURASAKI (Kurangi Sampah Kita), dengan BSM-KH membina 15 lembaga pendidikan di Bojonegoro.

Pemberdayaan juga dilakukan kepada Petani Hutan JTB di Desa Bandungrejo melalui Koperasi Produsen Rimba Tani. Limbah pertanian yang sebelumnya berpotensi dibakar kini diolah menjadi kompos dan media tanam, sementara demplot hortikultura organik dikembangkan untuk memberikan alternatif dari pertanian monokultur yang bergantung pada pupuk kimia. 

Program ini mencatat 134 penerima manfaat langsung dan 837 penerima manfaat tidak langsung, serta berkontribusi pada penurunan praktik pembakaran hutan dan lahan sebesar 75% pada periode 2021–2025.

Kemudian potensi ekonomi lokal juga dikembangkan melalui UMKM Herbasina Nutrindo di Desa Ngradin, Kecamatan Padangan. Daun kelor yang sebelumnya lebih banyak dimanfaatkan secara terbatas kini diolah menjadi berbagai produk makanan dan minuman. Dengan tujuh anggota kelompok, kapasitas produksinya telah mencapai 1.100 produk per bulan dengan omzet sekitar Rp15 juta per bulan. 

Produk kelompok juga telah mengantongi NIB, P-IRT, sertifikat halal dan HAKI merek, serta dipasarkan melalui kanal digital dan kafe untuk menjangkau konsumen yang lebih luas.

Rangkaian program tersebut menunjukkan bahwa pemberdayaan masyarakat di sekitar operasi hulu migas dapat diarahkan untuk menciptakan manfaat yang berkelanjutan dan menjadi investasi sosial yang bermanfaat mendukung kelancaran operasional hulu migas. 

Seperti di JTB yang mampu mengubah masalah sampah menjadi sumber ekonomi, limbah pertanian menjadi produk bernilai, dan potensi lokal seperti kelor berkembang menjadi usaha masyarakat. Melalui penguatan kelembagaan, peningkatan kapasitas dan pembukaan akses pasar, PPM di sekitar JTB diharapkan semakin memperkuat kemandirian ekonomi masyarakat sekaligus mendukung pengelolaan lingkungan yang lebih baik. RH

Tak Hanya Alirkan Energi, JTB Tumbuhkan Ekonomi Masyarakat Bojonegoro Tak Hanya Alirkan Energi, JTB Tumbuhkan Ekonomi Masyarakat Bojonegoro Reviewed by Ridwan Harahap on Senin, September 28, 2026 Rating: 5
Diberdayakan oleh Blogger.