Yogyakarta, OG Indonesia -- Pemanfaatan teknologi nuklir tidak hanya berkaitan dengan pembangkit listrik atau fasilitas nuklir berskala besar. Teknologi radiasi juga digunakan dalam berbagai bidang, mulai dari kesehatan, pertanian, pangan hingga pendidikan. Meskipun demikian, keterbatasan akses masyarakat terhadap fasilitas nuklir dan masih adanya kekhawatiran terhadap radiasi menjadi tantangan dalam meningkatkan pemahaman publik mengenai teknologi tersebut.
Menjawab tantangan itu, Politeknik Teknologi Nuklir Indonesia (Poltek Nuklir) Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengembangkan COGI VR, sebuah simulator berbasis virtual reality (VR) yang dikembangkan sebagai media pembelajaran untuk membantu masyarakat mengenal teknologi nuklir secara aman dan interaktif.
COGI VR merupakan replika virtual dari fasilitas Category I Gamma Irradiator di Laboratorium Dr. Mirzan T. Razzak, Poltek Nuklir, Yogyakarta. COGI VR adalah simulator virtual reality yang dibuat untuk mengenalkan proses kerja gamma irradiator kepada masyarakat tanpa harus berhadapan langsung dengan peralatan radiasi.
Dosen Poltek Nuklir BRIN, Halim Hamadi, menyampaikan melalui perangkat VR tersebut, pengguna tidak perlu masuk langsung ke fasilitas irradiator untuk mengenalkan cara kerja dan aspek keselamatannya.
“Simulator membawa pengguna mengikuti tujuh tahapan pembelajaran, mulai dari memasuki laboratorium, mengikuti pengenalan keselamatan, mengambil sampel, masuk ke ruang iradiator, menempatkan sampel, mengamati proses iradiasi, hingga mengambil kembali sampel yang telah diiradiasi,” ungkapnya, Kamis (1/10/2026).
Cara tersebut menjadikan masyarakat dapat mengenal proses kerja dan prinsip keselamatan irradiator tanpa melakukan prosedur pengoperasian secara langsung. Simulator juga memasukkan video edukasi yang menjelaskan proses iradiasi sehingga pengguna tidak hanya melihat bentuk alat, tetapi juga memahami proses yang berlangsung di dalamnya.
Lebih lanjut Halim menjelaskan, pendekatan tersebut memberikan pengalaman belajar yang berbeda. Dalam survei awal terhadap sepuluh responden, sebanyak tujuh orang atau 70 persen menyatakan tertarik mempelajari teknologi nuklir melalui aplikasi VR.
“Masyarakat dapat melihat secara langsung gambaran fasilitas dan alur proses iradiasi dalam lingkungan virtual tanpa harus berhadapan dengan risiko radiasi maupun keterbatasan akses ke fasilitas sebenarnya,” jelasnya.
Hasil uji coba menunjukkan adanya peningkatan pemahaman peserta setelah menggunakan COGI VR. Penelitian melibatkan sepuluh peserta yang terdiri atas siswa sekolah menengah dan mahasiswa. Nilai rata-rata pengetahuan peserta meningkat dari 30 sebelum menggunakan simulator menjadi 88 setelah mengikuti sesi pembelajaran. Penelitian juga mencatat seluruh 15 skenario pengujian fungsi berhasil dilakukan tanpa kesalahan.
Peningkatan pemahaman juga terlihat pada materi yang secara langsung berkaitan dengan teknologi nuklir. Pengetahuan mengenai dasar-dasar nuklir dan iradiasi meningkat dari 17,5 menjadi 82,5 persen. Sementara, pemahaman mengenai alur kerja fasilitas dan keselamatan meningkat dari 40 menjadi 92 persen.
Bagi Halim, temuan tersebut menunjukkan potensi COGI VR sebagai media untuk memperkenalkan teknologi nuklir kepada masyarakat dengan cara yang lebih interaktif. Informasi yang sebelumnya sulit dibayangkan karena masyarakat tidak dapat mengakses fasilitas irradiator secara langsung, dapat divisualisasikan melalui lingkungan tiga dimensi.
“Pengembangan ini membuka peluang pembelajaran teknologi nuklir yang lebih terbuka dan mudah diakses. Masyarakat tidak hanya memperoleh penjelasan secara teori, tetapi dapat melihat lingkungan laboratorium, mengenali perangkat pendukung, memahami tahapan iradiasi, sekaligus mendapatkan informasi mengenai keselamatan radiasi melalui pengalaman virtual,” jelasnya.
Manfaat tersebut menjadi penting karena iradiator gamma menggunakan sumber radiasi beraktivitas tinggi sehingga akses dan pengoperasiannya harus mengikuti persyaratan keselamatan yang ketat. COGI VR memungkinkan aspek-aspek tersebut diperkenalkan tanpa menempatkan pengguna pada lingkungan radiasi yang sebenarnya.
Pengembangan COGI VR juga memperlihatkan teknologi virtual dapat menjadi jembatan antara teknologi nuklir yang bersifat kompleks dengan kebutuhan masyarakat akan informasi yang sederhana dan mudah dipahami. Dengan pengalaman visual dan interaktif, masyarakat dapat mengenal pemanfaatan radiasi tidak berhenti pada aspek keselamatan, tetapi juga memiliki aplikasi dalam berbagai bidang kehidupan.
Halim berharap, COGI VR dapat dikembangkan dengan fitur yang lebih dinamis, termasuk simulasi dosis secara waktu nyata, sistem penilaian kinerja pengguna, serta fitur yang dapat mendukung pelatihan operator.
“Fokus utamanya tetap pada pengenalan teknologi dan peningkatan literasi nuklir masyarakat secara aman, interaktif, dan mudah diakses. Kedepannya, penilaian terkait aplikasi COGI VR perlu dikembangkan dan diperdalam untuk melihat kebutuhan yang lebih dari masyarakat,” tegasnya. RH
Reviewed by Ridwan Harahap
on
Jumat, Oktober 02, 2026
Rating:




