Jakarta, OG Indonesia -- Limbah geothermal dari pembangkit listrik memiliki potensi untuk diolah menjadi silikon bernilai tambah. Potensi ini mengubah cara pandang terhadap limbah tersebut, yang selama ini hanya menjadi beban lingkungan dari industri panas bumi. Namun, ternyata menyimpan potensi tak terduga.
Hal tersebut dijelaskan oleh Peneliti Ahli Madya BRIN, David Candra Birawidha, dalam paparannya berjudul “Bukan Sampah, Tapi Tambang: Mendulang Silikon dari Limbah Panas Bumi,” dalam webinar Diskusi Seputar Mineral Strategis Indonesia seri ke-5, Rabu (25/2/2026).
“Sampah industri bernilai rendah tersebut dapat bertransformasi menjadi silikon berpori nanopartikel sebuah material strategis untuk baterai lithium generasi terbaru. Dengan perlakuan sederhana seperti pencucian menggunakan air, kemurnian silika dapat ditingkatkan hingga 95%, membuka potensi besar untuk dimanfaatkan sebagai silika sekunder,” jelas David.
Ia melanjutkan, melalui pendekatan dua tahap, silika diekstraksi dari slag dengan metode sol-gel. Kemudian, dikonversi menjadi silikon melalui reduksi magnesiotermik sederhana. Proses ini tidak hanya efektif menghasilkan struktur berpori berskala nano, tetapi juga menunjukkan lompatan nilai tambah yang signifikan dari limbah tak berguna menjadi material fungsional berteknologi tinggi.
“Limbah slag geothermal memiliki kandungan silika (SiO2) yang sangat tinggi, mencapai 70%, dan telah berada dalam bentuk amorf, sayangnya nilai tambahnya saat ini sangat rendah” ujarnya.
Pendekatan ini sejalan dengan pengembangan material berpori canggih untuk aplikasi energi dan katalisis. Salah satunya adalah Covalent Organic Frameworks (COFs), yaitu material polimer kristalin berpori yang tersusun dari unsur organik ringan seperti C, H, B, N, dan O yang terhubung melalui ikatan kovalen.
Menurut Yusran, Foreign High-Talent (Assoc. Prof.) dari School of Chemistry and Materials Science, Guizhou Normal University, Guiyang, China, COFs memiliki struktur berulang yang sangat teratur dengan ukuran pori yang dapat diatur, sehingga menawarkan luas permukaan tinggi, densitas rendah, stabilitas struktur, serta fleksibilitas dalam modifikasi gugus fungsi dan situs aktif.
Yusran menambahkan, COFs memiliki struktur berulang yang sangat teratur dan ukuran pori yang dapat diatur sehingga memberikan luas permukaan tinggi dan densitas rendah, stabilitas struktur, serta fleksibilitas modifikasi gugus fungsi dan situs aktif.
COFs dapat direkayasa dan disintesis dalam bentuk dua atau tiga dimensi, menawarkan struktur pori yang berbeda dan meningkatkan aksessibilitas situs aktif. Karakteristik ini menjadikan COFs kandidat yang menjanjikan untuk aplikasi penyimpanan energi (penyimpan gas, capasitor, baterai), dan katalisis (sintesis senyawa organik, elektrokatalisis).
“Salah satu aplikasi nyata yang dapat dimanfaatkan untuk industri di Indonesia melalui COFs adalah aplikasi ekstraksi material alam penting, termasuk dalam hal ini logam utama dan logam tanah jarang dengan cara memodifikasi pori serta chemistry of function (kimia fungsi)-nya. Selain itu, aplikasi COFs juga dapat dimanfaatkan untuk penyimpanan energi, yaitu sebagai anoda dan katoda pada baterai, sehingga berpotensi menjadi baterai organik,” ujar Yusran.
Pembahasan dalam webinar ini merupakan inovasi mutakhir yang menjawab tantangan energi dan lingkungan melalui pengembangan material canggih Covalent Organic Frameworks (COFs) untuk penyimpanan energi dan katalisis. Selain itu, webinar ini juga mengulas transformasi limbah geothermal menjadi silikon nanopartikel berpori sebagai material baterai litium.
Kepala Pusat Riset Teknologi Mineral, Fajar Nurjaman berharap webinar ini mampu memantik ide-ide baru tentang pemanfaatan material berpori tersebut, khususnya dalam menjawab tantangan di bidang teknologi mineral serta dapat memicu kolaborasi lebih lanjut antara peneliti, industri, dan pemerintah.
Dengan sinergi yang kuat, potensi mineral strategis Indonesia dapat terkelola secara optimal, mewujudkan kemandirian energi dan mendukung target netralitas karbon di masa depan. RH
Reviewed by Ridwan Harahap
on
Senin, Maret 02, 2026
Rating:



