Di Tengah Transisi Portofolio Berkelanjutan, Indika Energy Cetak Laba Bersih US$6 Juta di Tahun 2025
Jakarta, OG Indonesia -- Perusahaan investasi dengan portofolio bisnis yang terdiversifikasi, PT Indika Energy Tbk. (Perseroan), merilis Laporan Keuangan konsolidasi untuk tahun yang berakhir pada 31 Desember 2025. Di tengah fluktuasi harga komoditas global, Perseroan berhasil menjaga profitabilitas dengan mencatatkan Laba Bersih sebesar US$ 6,0 juta dan memperkuat struktur permodalan melalui efisiensi biaya yang disiplin.
Sepanjang tahun 2025, Indika Energy merealisasikan belanja modal (capex) sebesar US$139,0 juta. Sejalan dengan strategi diversifikasi, sebesar 95,4% atau US$132,6 juta dari total capex dialokasikan untuk sektor non-batu bara, terutama pengembangan proyek pertambangan emas Awak Mas dan ekspansi bisnis hijau.
“Di tengah dinamika pasar batu bara tahun 2025, Indika Energy tetap fokus pada efisiensi operasional dan mempercepat transformasi portofolio ke bisnis yang lebih berkelanjutan. Capaian laba bersih ini didukung oleh langkah strategis menurunkan beban biaya dan memperkuat fundamental keuangan,” tutur Azis Armand, Direktur Utama dan Group CEO Indika Energy, Rabu (1/4/2026).
Di tahun 2025, Indika Energy membukukan Pendapatan sebesar US$ 2.030,9 juta, atau turun 17,0% dibandingkan US$ 2.446,7 juta pada tahun 2024. Penurunan Pendapatan Perseroan terutama disebabkan oleh menurunnya harga jual FOB batu bara rata-rata Kideco di tahun 2025 menjadi sebesar US$ 49,9 per ton dibandingkan US$ 53,9 per ton pada tahun sebelumnya.
Volume penjualan Kideco di tahun 2025 mengalami sedikit penurunan 0,9% menjadi 30,8 juta ton – di mana 12,8 juta ton di antaranya atau sebanyak 41,5% dialokasikan untuk kebutuhan dalam negeri atau melebihi ketentuan 25% Domestic Market Obligation (DMO). Oleh karenanya, Pendapatan Kideco turun 12,8% menjadi US$ 1.611,7 juta dibandingkan US$ 1.848,1 juta pada tahun 2024.
Anak-anak perusahaan Indika Energy lainnya seperti Indika Indonesia Resources (IIR) dan Tripatra juga mencatat penurunan pendapatan. Pendapatan IIR menurun sebesar 60,7% menjadi US$ 75,2 juta, dibandingkan US$ 191,2 juta di tahun 2024, yang terutama disebabkan karena menurunnya kontribusi dari perdagangan batubara, dan masih tercatatnya pendapatan dari Multi Tambangjaya Utama (MUTU) hingga Februari 2024.
Di tahun 2025, volume penjualan menurun 76,3% menjadi 0,9 juta ton. Sementara itu, volume penjualan dari perdagangan non-batu bara meningkat secara signifikan sebesar 4.241% menjadi 0,5 juta ton. Di tahun 2025, IIR mulai mengembangkan perdagangan non-batu bara, termasuk bauksit, silika, dan nikel.
Tripatra juga mencatat penurunan pendapatan 3,1% menjadi US$ 242,8 juta, disebabkan oleh lebih rendahnya pendapatan yang dicatat pada tahun 2025, seiring dengan mendekatinya penyelesaian beberapa proyek seperti CSTS BP Tangguh, AGPA Refinery Complex (Posco), ABG Tahap 1 di Akasia Bagus field. Hal ini sebagian diimbangi oleh kontribusi pendapatan dari beberapa proyek baru pada tahun 2025, seperti APA Geng North Project.
Akan tetapi, Pendapatan Interport meningkat 15,8% menjadi US$ 134,6 juta di tahun 2025. Pendapatan Interport terdiri dari Cotrans (logistik pengangkut batubara) sebesar US$ 74,7 juta, KGTE (penyimpanan bahan bakar) dan PGE (bisnis perdagangan bahan bakar) sebesar US$ 52,9 juta, sedangkan sisanya sebagian besar berasal dari Interport Business Park (IBP) dan ILSS.
Biaya Kontrak dan Barang yang Terjual (COGS) menurun 16,7% menjadi US$ 1.760,6 juta pada tahun 2025 dari US$ 2.114,0 juta pada tahun 2024, terutama disebabkan karena penurunan COGS di Kideco sebesar 13,5% menjadi US$ 1.370,1 juta karena cash cost termasuk royalti menurun sebesar 14,0% menjadi US$ 43,1 per ton pada 2025 yang dikarenakan biaya royalti yang lebih rendah (US$ 4,7 per ton lebih rendah sebagai akibat dari ASP yang lebih rendah dan skema royalti baru) dan stripping ratio yang lebih rendah (5,1 kali pada tahun 2025 dibandingkan dengan 5,7 kali pada tahun 2024).
Penurunan COGS juga terjadi di Indika Indonesia Resources sebesar 60,6% menjadi US$ 72,8 juta karena penjualan yang lebih rendah dalam perdagangan batubara pada tahun 2025. Sementara itu, COGS di Tripatra, sebagai kontributor pendapatan terbesar kedua sebesar 10% untuk Perseroan, meningkat 11,1% menjadi US$ 254,4 juta, karena meningkatnya estimasi biaya penyelesaian pada proyek-proyek EPC besar (Shell, Akasia Bagus, Posco) dan dampak penyelesaian akhir proyek BP Tangguh.
Pada tahun 2025, Laba Kotor Perseroan menurun 18,8% menjadi US$ 270,3 juta, dari sebelumnya US$ 332,7 juta di tahun 2024. Beban Penjualan, Umum dan Administrasi tercatat turun 10,7% menjadi US$ 155,9 juta di tahun 2025 dari sebelumnya US$ 174,6 juta di tahun 2024 – terutama dikarenakan penurunan Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) terkait Kideco, penurunan biaya pemasaran sejalan dengan penurunan pendapatan Kideco, dan penurunan G&A terutama biaya profesional karena penurunan jumlah proyek yang melibatkan konsultan.
Sementara itu, Biaya Keuangan Perseroan menurun signifikan 24,1% menjadi US$ 69,2 juta pada tahun 2025. yang terutama disebabkan karena fasilitas sindikasi Awak Mas yang baru menggantikan fasilitas Awak Mas yang sebelumnya, dengan suku bunga yang lebih rendah, dan faktor-faktor lain yang terjadi pada tahun 2024 yaitu premi dan percepatan amortisasi atas biaya penerbitan obligasi terkait dengan pelunasan penuh pada Obligasi 2024 dan penawaran tender pada Obligasi 2025, dan biaya komitmen untuk pinjaman Awak Mas.
Sebagai hasilnya, Perseroan membukukan Laba yang Diatribusikan kepada Pemilik Entitas Induk sebesar US$ 6,0 juta. Realisasi belanja modal (Capex) selama tahun 2025 adalah US$ 139,0 juta dimana US$ 132,6 juta atau 95,4% diantaranya digunakan untuk bisnis non-batubara. Capex terutama digunakan untuk sektor mineral (khususnya untuk proyek Awak Mas) yaitu sebesar US$ 100,1 juta, sektor tenaga surya melalui EMITS sebesar US$ 7,1 juta, dan Interport sebesar US$ 4,7 juta. Sedangkan untuk bisnis batubara, capex terutama digunakan untuk pemeliharaan di Kideco sebesar US$ 6,5 juta.
“Tahun 2025 menjadi momentum penting bagi Indika Energy dalam mempercepat transisi. Dengan memprioritaskan investasi pada sektor emas dan energi bersih, kami melangkah mantap menuju struktur portofolio yang lebih tangguh dan berimbang di masa depan,” tambah Azis.
Pada 12 Februari 2026, Moody’s Rating menegaskan peringkat utang Perseroan di B1 dari Ba3 dan merevisi prospek dari negatif menjadi stabil. Sedangkan pada 27 Maret 2026, Fitch Rating juga menegaskan peringkat utang Perseroan di B+ dengan prospek yang serupa yaitu stabil. Peringkat B+ ini mencerminkan diversifikasi bisnis yang terus berkembang serta prospek positif dari proyek emas Awak Mas yang ditargetkan mulai beroperasi pada awal 2027. RH
Reviewed by Ridwan Harahap
on
Rabu, April 01, 2026
Rating:




