Pentingnya Kolaborasi Stakeholder Wujudkan Energi Terbarukan sebagai Pilar Ketahanan Energi Nasional


Jakarta, OG Indonesia --
Adanya krisis geopolitik global saat ini, membuat ketahanan energi di berbagai negara mengalami bencana porak-poranda. Namun di balik kondisi ini, termakna sebuah keniscayaan jalan baru bagi pecepatan energi transisi.

‎Seperti kejadian bencana COVID-19 lalu yang melahirkan percepatan digitalisasi, maka krisis geopolitik dunia bisa memicu harga minyak mentah dan gas naik tinggi kini, sehingga menjadi momentum bagi bangsa yang tangguh untuk jadi pendorong hadirnya era energi terbarukan yang masif.

Tito Loho, Chairman Forum Sinergi Inovasi Industri (FSII) dan CEO TENDER INDONESIA, mengatakan bahwa ‎Indonesia sudah menggagas dan mengimplementasikan berbagai teknologi energi terbarukan, termasuk di dalamnya pengembangan dan pemanfaatan PLTS secara cukup progresif. Bahkan sudah juga digulirkan target pengembangan kapasitas nasional atas industri PLTS. 

"Maka adanya krisis energi akibat konflik geopolitik tersebut, kemudian melahirkan gagasan PLTS 100 GW oleh Presiden Prabowo Subianto. Ini hendaknya kita sambut secara semangat kolaborasi semua komponen stakeholder," ucap Tito Loho dalam seminar "Langkah Nyata Mewujudkan Energi Terbarukan Sebagai Pilar Ketahanan Energi Nasional" yang dihelat TENDER INDONESIA melalui FSII dalam ajang pameran akbar SOLARTEC 2026 di JiExpo Kemayoran, Jakarta, Jumat (24/4/2026).

‎Tito membeberkan kategori stakeholder yang dimaksud mmencakup: perusahaan yang mengimplementasikan PLTS sebagai sumber tenaga listriknya, perusahaan EPC konstruksi PLTS, industri perlengkapan dan jasa penunjang PLTS, hingga perguruan tinggi, lembaga pelatihan SDM, lembaga penelitian R&D industri PLTS, dan NGO.

‎"Semuanya harus kolaborasi dan sinergi menyukseskan momen transisi energi saat ini," tegas Tito.

‎Ditambahkan olehnya, kerja semua pihak tersebut akan mampu mendorong energi terbarukan khususnya PLTS memainkan peranan strategis khususnya dalam mencapai target besaran bauran energi nasional.

‎"Bahkan lebih dari itu, mampu melahirkan kemampuan kapasitas industri peralatan dan jasa nasional di sektor PLTS, serta industri penunjang turunannya," tutupnya.

‎Dalam kesempatan yang sama juga dianugerahkan penghargaan ke sejumlah pihak atas kontribusi nyata inovasinya dalam upaya pengembangan energi terbarukan di Indonesia. Berikut daftar penghargaannya:

Kategori Research & Development Renewable Energy

- Prof Dr. Eng. Eka Rakhman Priandana, S.T., M.T. 

Kategori Education, Socialization & Promotion

- Wiluyo Kusdwiharto – Advisor of METI

- IBEKA (Institut Bisnis dan Ekonomi Kerakyatan)

- Institute for Essential Services Reform (IESR)

- Perhimpunan Ahli Pertambangan Indonesia (PERHAPI)

- Institut Teknologi PLN

- Pusat Pelatihan Kerja Daerah (PPKD) Jakarta Selatan

- Universitas Bina Nusantara

Kategori Implementation of Renewable Energy

- PT Surya Energi Indotama

- PT Bukit Asam

- PT Adaro Indonesia

- PT Aneka Tambang Tbk

- Amman Mineral

- Pertamina NRE

- MRT Jakarta

- PT Pupuk Indonesia (Persero)

- Huawei Investment Tech

- Garuda Yamato Steel

Kategori Engineering, Procurement & Construction Renewable Energy

- PLN Nusantara Power Construction

- PLN Suku Cadang

- PLN Enjiniring

Kategori Renewable Energy Industrial Service

- PT. Sucofindo

Kategori Renewable Energy Industrial Equipment

- ABB Sakti Industri

- Aptella 

- PT Sukses Mandiri Jaya Gemilang

- Ultra Delta Maju

- Casan Indonesia RH

Pentingnya Kolaborasi Stakeholder Wujudkan Energi Terbarukan sebagai Pilar Ketahanan Energi Nasional Pentingnya Kolaborasi Stakeholder Wujudkan Energi Terbarukan sebagai Pilar Ketahanan Energi Nasional Reviewed by Ridwan Harahap on Jumat, April 24, 2026 Rating: 5
Diberdayakan oleh Blogger.