Oleh: Salis Aprilian, Dewan Pakar Komunitas Migas Indonesia (KMI)
Perusahaan energi Italia, Eni, telah menandatangani Final Investment Decision (FID) untuk dua klaster besar lapangan gas di Indonesia, yakni Gendalo-Gandang (South Hub) serta Geng North-Gehem (North Hub) di Cekungan Kutai, Kalimantan Timur. Keputusan ini menjadi salah satu tonggak terpenting bagi industri gas nasional dalam satu dekade terakhir karena menunjukkan keseriusan Eni mempercepat pengembangan aset gas laut dalam Indonesia yang selama ini dikenal memiliki potensi sangat besar namun membutuhkan investasi dan teknologi tinggi.
Kedua proyek tersebut dijadwalkan mulai berproduksi pada 2028 dan mencapai puncak produksi pada 2029 dengan kapasitas hingga 2 miliar kaki kubik gas per hari (BSCFD) serta 90.000 barel kondensat per hari. Total sumber daya gas yang dikembangkan mencapai hampir 10 triliun kaki kubik (TCF) dengan sekitar 550 juta barel kondensat.
Yang paling menarik adalah bahwa gas dari proyek ini akan dialirkan ke jaringan pipa domestik sekaligus menjadi feed gas bagi Kilang LNG Bontang. Dengan tambahan pasokan tersebut, terminal LNG ini diperkirakan dapat memproduksi sekitar 11,5 juta ton LNG per tahun (MTPA), yang mengharuskan reaktivasi sejumlah train yang selama beberapa tahun terakhir berada dalam kondisi idle.
Bagi Badak LNG, ditandatanganinya FID Eni ini bukan sekadar menjanjikan tambahan pasokan gas, melainkan sebuah peluang untuk kembali memainkan peran strategis dalam sistem energi nasional.
Sebagaimana diketahui, Kilang LNG Bontang pernah menjadi salah satu fasilitas LNG terbesar di dunia dengan produksi mencapai sekitar 16 MTPA pada 2010. Namun produksi terus menurun seiring penurunan alamiah lapangan-lapangan gas utama seperti di Blok Sanga-Sanga, East Kalimantan, dan Mahakam. Saat ini produksi LNG Bontang hanya sekitar 3,2 MTPA dengan tingkat utilisasi fasilitas yang berada di kisaran 30 persen sejak 2025.
Namun makna FID Eni sebenarnya jauh lebih besar daripada sekadar menyelamatkan utilisasi kilang LNG Bontang. FID ini hadir pada saat Indonesia sedang menghadapi tantangan serius dalam menjaga keseimbangan antara pasokan dan kebutuhan gas nasional.
Di satu sisi, pemerintah melalui SKK Migas menargetkan produksi gas nasional mencapai 12 BSCFD pada tahun 2030. Di sisi lain, sebagian besar lapangan gas eksisting mengalami penurunan produksi alamiah (natural decline) sehingga tanpa penemuan dan pengembangan lapangan baru, pasokan nasional berpotensi terus tergerus.
Sementara itu, kebutuhan gas domestik makin meningkat. Sektor industri pupuk, petrokimia, smelter mineral, pembangkit listrik, jaringan gas kota, hingga program hilirisasi industri membutuhkan pasokan gas yang semakin besar. Berbagai kajian memperkirakan kebutuhan gas Indonesia akan tetap berada di kisaran 6 BSCFD hingga 2035, bahkan berpotensi meningkat apabila program industrialisasi dan hilirisasi mineral berjalan sesuai target pemerintah.
Kondisi ini menyebabkan Indonesia memasuki fase yang cukup unik, yakni negara masih menjadi eksportir LNG, tetapi pada saat yang sama mulai menghadapi berkurangnya pasokan gas domestik di beberapa wilayah. Bahkan dalam beberapa tahun terakhir pemerintah harus melakukan berbagai skema realokasi dan 'gas swap' untuk memastikan pasokan gas bagi industri dan pembangkit listrik tetap terjaga, khususnya di Sumatra dan Jawa.
Dalam konteks tersebut, berakhirnya sebagian kontrak ekspor LNG Bontang di tahun 2027 menjadi momentum penting untuk mengevaluasi kembali arah pemanfaatan gas nasional. Pertanyaannya bukan lagi apakah LNG Indonesia harus diekspor atau digunakan di dalam negeri, melainkan bagaimana menciptakan keseimbangan yang optimal antara penerimaan devisa ekspor dan kebutuhan energi domestik.
Apabila sebagian besar tambahan pasokan gas Eni nantinya diarahkan untuk memperkuat ketahanan energi nasional, maka Badak LNG perlu melakukan transformasi besar. Selain mengaktifkan kembali train yang selama ini idle, fasilitas LNG Bontang juga perlu diperkuat sebagai pusat distribusi LNG domestik melalui pembangunan dan penyempurnaan fasilitas 'small-scale LNG loading' untuk kapal-kapal LNG berukuran kecil.
Model ini akan memungkinkan LNG dari Bontang didistribusikan ke pulau-pulau yang belum terhubung jaringan pipa gas, terutama di kawasan Indonesia Timur. LNG dapat menjadi solusi transisi yang lebih realistis dibanding pembangunan jaringan pipa antarpulau yang membutuhkan investasi sangat besar. Untuk itu, pembangunan terminal mini LNG dan fasilitas regasifikasi skala kecil di berbagai wilayah perlu mulai dipersiapkan sejak sekarang sehingga terbentuk jaringan mini LNG hub nasional yang mampu menjangkau pusat-pusat pertumbuhan ekonomi baru.
Lebih jauh lagi, strategi tersebut harus disinkronkan dengan pengembangan Blok Masela yang direncanakan menggabungkan produksi LNG untuk pasar ekspor dan pemanfaatan gas untuk kebutuhan domestik. Salah satunya dengan CNG.
Dengan demikian Indonesia tidak hanya memiliki satu pusat pasokan LNG di kawasan timur, tetapi membangun sistem distribusi gas nasional yang terintegrasi antara Bontang, Masela, jaringan pipa domestik, fasilitas LNG skala kecil, serta fasilitas CNG. Membangun mother-daughter station untuk optimalisi penggunaan CNG.
Karena itu, FID Eni sesungguhnya bukan hanya kabar baik bagi Badak LNG. FID ini merupakan peluang strategis untuk menata ulang arsitektur gas nasional di tengah ancaman penurunan produksi lapangan tua dan meningkatnya kebutuhan energi domestik. Jika dikelola dengan tepat, proyek-proyek Eni dapat menjadi jembatan penting menuju terciptanya keseimbangan baru antara ekspor LNG, ketahanan energi nasional, hilirisasi industri, serta pemerataan akses energi bagi seluruh wilayah Indonesia.
Dengan kata lain, arti FID Eni bagi Badak LNG bukan sekadar menghidupkan kembali train yang sempat berhenti beroperasi, tetapi membuka peluang menjadikan Bontang sebagai tulang punggung distribusi gas Indonesia pada era transisi energi yang akan datang.
Garut, selepas dhuha
Jum'at, 29 Mei 2026
Reviewed by Ridwan Harahap
on
Jumat, Mei 29, 2026
Rating:




