Denyut Migas di Bumi Sriwijaya: MedcoEnergi Bantu Petani Muba Nikmati Manisnya Cuan Semangka

Penampang layar pada sesi “CSR Talkshow: Bringing Energy to Community’s Economic Growth” di booth MedcoEnergi pada ajang IPA Convex 2026, Rabu (20/5/2026), menampilkan Suyanto, petani semangka dari Musi Banyuasin dengan senyum sumringahnya.
Foto: Ridwan Harahap

Kabupaten Tangerang, OG Indonesia –
Pada abad 7 hingga 11 masehi, wilayah pesisir Banyuasin dan Sungai Musi menjadi urat nadi utama perdagangan Kerajaan Sriwijaya. Pedagang dari India dan Tiongkok yang hilir mudik melintasi Selat Malaka pasti akan singgah ke jalur sutra maritim di Pulau Sumatra tersebut. Hasil bumi seperti kapur barus, cengkih, pala, kapulaga, gambir, kayu gaharu, hingga kayu cendana menjadi komoditas andalan Sriwijaya untuk dijual dan diangkut oleh para pedagang ke penjuru kawasan.

Bagai ular naga yang tidak pernah tidur, Sungai Musi selalu ramai oleh hiruk-pikuk perdagangan kala itu. Buruh kekar dengan dengan kulit sawo matang yang terbakar sinar matahari tak kenal lelah menaikkan muatan aneka rempah dan dagangan ke atas kapal para saudagar.

Ada pula para biksu dengan jubah warna safron dan kuning kunyit ikut menyusuri Sungai Musi dan anak-anak sungainya. Dengan perahu kecilnya, mereka bergerak menuju pedalaman untuk belajar dan menjalani kehidupan monastik. Asal tahu saja, pada masa itu Sriwijaya juga menjadi pusat pendidikan ajaran Buddha terbesar di Asia Tenggara dengan para murid yang datang dari berbagai daerah di Nusantara bahkan Asia.

Lebih dari 10 abad berselang, kehidupan di daerah tersebut masih terus berdenyut. Perekonomian setempat bahkan nasional, kini digerakkan dengan sumber daya minyak dan gas bumi (migas) yang terkandung di dalam buminya. Seperti Wilayah Kerja (WK) Corridor yang dikelola PT Medco E&P Grissik Ltd., anak usaha dari PT Medco Energi Internasional Tbk (MedcoEnergi).

Blok Corridor terbentang seluas 2.100 kilometer persegi di Kabupaten Musi Banyuasin (Muba) dan Kabupaten Banyuasin, Sumatera Selatan (Sumsel). Pada kuartal pertama 2026, tercatat Blok Corridor mencatat produksi minyak serta gas bumi sebesar 169.000 barel setara minyak per hari (boepd) yang turut berkontribus dalam mendukung ketahanan energi Indonesia.

Syahdan, industri hulu migas bukan hanya ikut andil pada produksi migas dan penerimaan negara secara langsung, tetapi juga turut menguatkan sektor lainnya. Seperti para petani semangka di Muba yang kini diberdayakan oleh Medco E&P Grissik Ltd. lewat program Local Business Development (LBD).

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Sumatera Selatan tahun 2025, Kabupaten Muba dan juga Kabupaten Banyuasin merupakan sentra andalan produsen buah semangka Sumsel yang secara total menguasai 45% produksi semangka dari seluruh Sumsel. 

Jika dirinci, produksi semangka Kabupaten Muba pada tahun 2025 sekitar 20.552 kuintal atau sekitar 2.265 ton. Sedangkan Kabupaten Banyuasin dapat menghasilkan semangka hingga 24.264 kuintal (2.674 ton) pada tahun yang sama. Sementara produksi total semangka dari seluruh wilayah Sumsel pada tahun 2025 mencapai 98.296 kuintal (10.835 ton).

Kendati demikian, bukan berarti tak ada kendala. Suyanto, Perwakilan Petani dari Kelompok Sumpal Palawija Makmur dari Desa Tampang Baru, Kecamatan Bayung Lencir, Muba, menceritakan bahwa kelompok taninya juga pernah membentur tembok penghalang dalam budidaya semangka. Untungnya MedcoEnergi lewat Medco E&P Grissik hadir dengan program LBD.

Program Local Business Development (LBD) jadi salah satu program pengembangan masyarakat yang dijalankan MedcoEnergi di Wilayah Kerja Corridor.
Dokumen: MedcoEnergi

“Sebelumnya kami pernah terpuruk karena hasil panen belum optimal. Setelah  pendampingan dari MedcoEnergi, kami lebih memahami budidaya yang baik, hasil panen meningkat, dan pasar semakin luas. Program ini membantu kami bangkit dan percaya diri untuk mengembangkan usaha,” cerita Suyanto dalam sesi “CSR Talkshow: Bringing Energy to Community’s Economic Growth” yang digelar di booth MedcoEnergi pada perhelatan The 50th IPA Convention & Exhibition (IPA Convex) 2026 di ICE BSD, Kabupaten Tangerang, Banten, Rabu (20/5/2026).

Ubah Kebiasaan Tak Produktif

Memakai baju lengan panjang bernuansa biru denim, celana hitam, dan tanjak ikat kepala khas Sumsel bertengger gagah di kepalanya, Suyanto mengungkapkan ternyata ada yang salah dalam pengelolaan tanah di lahan kebun semangka para petani Sumpal Palawija Makmur sebelum kehadiran MedcoEnergi. “Dulu itu ada masalah di penyemaian. Aku pernah mengalami dalam semusim, sekali, dua kali, bahkan tiga kali gagal semai karena persoalan tanah,” ucap Suyanto.

Karena intensitas pemanfaatan lahan yang terus-menerus serta pengolahan tanah dengan campuran tanah bakaran yang kurang tepat disinyalir membuat tanah kehilangan kesuburannya dari waktu ke waktu. MedcoEnergi hadir dengan solusi pemakaian pupuk organik kohe (kotoran hewan). “Alhamdulillah sekarang untuk menyemai, daya tumbuh kecambahnya 80 persen berhasil,” tutur Suyanto yang merantau dari Lampung ke Muba pada tahun 2012.

Program LBD dari MedcoEnergi hadir sejak tahun 2023 dan mengubah kebiasaan tani Suyanto dan kawan-kawan yang kurang produktif. Secara bertahap, program ini memberikan berbagai ilmu dan pengetahuan untuk mengatasi kendala produktivitas, teknis budidaya, penguatan modal, hingga cara membuka jejaring pemasaran. “Dari tahun ke tahun, alhamdulillah sudah terlihat dampaknya,” ujarnya.

Asal tahu saja, peningkatan produksi semangka dari kelompok Sumpal Palawija Makmur lumayan signifikan, dari sebelumnya cenderung merugi menjadi panen cuan. Sebelum intervensi program LBD pada tahun 2022 tercatat produksi semangka kelompok yang bisa dipasarkan hanya 16 ton, namun pada tahun 2025 bertambah menjadi 23 ton. Dari sisi pendapatan juga terus meningkat, dari hanya Rp 4 juta pada 2023, beranjak mencapai Rp 15 juta pada 2024, hingga tembus Rp 90 juta pada tahun 2025. “Insyaallah tanggal 25 Mei ini kita panen semangka lagi,” ucap Suyanto sambil tersenyum.

Bangun Kapasitas Masyarakat agar Mandiri

Dalam kesempatan yang sama, Sudewo, Manager Field Relations & Community Enhancement Corridor Asset Medco E&P Grissik Ltd. menerangkan bahwa pihaknya memberikan dukungan lewat pendampingan teknis, penyediaan sarana produksi, serta memfasilitasi akses pemasaran, karena melihat potensi besar dari kelompok petani semangka Muba.

“Melalui Program LBD, MedcoEnergi terus menghadirkan pemberdayaan yang tidak hanya bersifat bantuan, tetapi juga membangun kapasitas masyarakat agar mampu mengelola usaha mandiri dan berkelanjutan. Kami melihat Kelompok ini  memiliki potensi besar untuk terus berkembang dan menjadi contoh penguatan ekonomi lokal di sekitar area operasi,” kata Sudewo.

Sesi “CSR Talkshow: Bringing Energy to Community’s Economic Growth” di booth MedcoEnergi pada IPA Convex 2026 menghadirkan narasumber Suyanto, Perwakilan Petani dari Kelompok Sumpal Palawija Makmur (tengah) dan Sudewo, Manager Field Relations & Community Enhancement Corridor Asset Medco E&P Grissik Ltd. (paling kanan).
Foto: Ridwan Harahap

Tak bergerak sendiri, MedcoEnergi menggandeng Plantari, organisasi yang berfokus pada kegiatan pemberdayaan masyarakat, penguatan UMKM, lingkungan hidup, serta pembangunan kawasan perdesaan berwawasan lingkungan. Secara bersama-sama mereka memberikan pendampingan kepada Kelompok Sumpal Palawija Makmur yang beranggotakan delapan petani. Pendampingan dilakukan melalui distribusi benih dan pupuk, pengelolaan lahan, pemilihan varietas, pemupukan, pengendalian hama ramah lingkungan, hingga penguatan kemitraan pemasaran.

Menurut Sudewo, sebagai perusahaan yang beroperasi secara bertanggung jawab, MedcoEnergi berkomitmen untuk memberikan program pengembangan masyarakat yang tepat sasaran. Diuraikan olehnya, ada lima pilar utama yang dipancangkan MedcoEnergi dalam upaya pengembangan masyarakat. Selain pemberdayaan ekonomi seperti yang dilakukan untuk petani semangka di Muba, juga ada pilar pendidikan, kesehatan, lingkungan, serta infrastruktur dan fasilitas sosial.

Semua pilar tersebut harus diperkokoh sehingga berdampak ekonomi nyata bagi masyarakat penerima manfaat. “Melalui penguatan usaha lokal seperti ini, kami berharap masyarakat dapat semakin mandiri, berdaya saing, dan mampu menciptakan manfaat ekonomi yang berkelanjutan,” ujar Sudewo.

Kini, nadi Bumi Sriwijaya masih terus berdenyut. Tak hanya lewat aliran minyak dan gas bumi, namun juga terasa lewat manisnya buah semangka. Penuh semangat, Suyanto dan kawan-kawan memuat buah-buah semangka ke atas truk setiap panen tiba. Bagai komoditas hasil bumi di masa kejayaan Sriwijaya silam, semangka-semangka tersebut sekarang juga siap dikirim ke berbagai penjuru kawasan. RH

Denyut Migas di Bumi Sriwijaya: MedcoEnergi Bantu Petani Muba Nikmati Manisnya Cuan Semangka Denyut Migas di Bumi Sriwijaya: MedcoEnergi Bantu Petani Muba Nikmati Manisnya Cuan Semangka Reviewed by Ridwan Harahap on Kamis, Mei 21, 2026 Rating: 5
Diberdayakan oleh Blogger.