Kabupaten Tangerang, OG Indonesia – Pada abad 7 hingga 11 masehi, wilayah pesisir Banyuasin dan Sungai Musi menjadi urat nadi utama perdagangan Kerajaan Sriwijaya. Pedagang dari India dan Tiongkok yang hilir mudik melintasi Selat Malaka pasti akan singgah ke jalur sutra maritim di Pulau Sumatra tersebut. Hasil bumi seperti kapur barus, cengkih, pala, kapulaga, gambir, kayu gaharu, hingga kayu cendana menjadi komoditas andalan Sriwijaya untuk dijual dan diangkut oleh para pedagang ke penjuru kawasan.
Bagai ular naga yang tidak pernah tidur, Sungai Musi selalu
ramai oleh hiruk-pikuk perdagangan kala itu. Buruh kekar dengan dengan kulit
sawo matang yang terbakar sinar matahari tak kenal lelah menaikkan muatan aneka
rempah dan dagangan ke atas kapal para saudagar.
Ada pula para biksu dengan jubah warna safron dan kuning
kunyit ikut menyusuri Sungai Musi dan anak-anak sungainya. Dengan perahu
kecilnya, mereka bergerak menuju pedalaman untuk belajar dan menjalani
kehidupan monastik. Asal tahu saja, pada masa itu Sriwijaya juga menjadi pusat
pendidikan ajaran Buddha terbesar di Asia Tenggara dengan para murid yang
datang dari berbagai daerah di Nusantara bahkan Asia.
Lebih dari 10 abad berselang, kehidupan di daerah tersebut
masih terus berdenyut. Perekonomian setempat bahkan nasional, kini digerakkan
dengan sumber daya minyak dan gas bumi (migas) yang terkandung di dalam
buminya. Seperti Wilayah Kerja (WK) Corridor yang dikelola PT Medco E&P
Grissik Ltd., anak usaha dari PT Medco Energi Internasional Tbk (MedcoEnergi).
Blok Corridor terbentang seluas 2.100 kilometer persegi di Kabupaten
Musi Banyuasin (Muba) dan Kabupaten Banyuasin, Sumatera Selatan (Sumsel). Pada
kuartal pertama 2026, tercatat Blok Corridor mencatat produksi minyak serta gas
bumi sebesar 169.000 barel setara minyak per hari (boepd) yang turut berkontribus
dalam mendukung ketahanan energi Indonesia.
Syahdan, industri hulu migas bukan hanya ikut andil pada produksi migas dan penerimaan negara secara langsung, tetapi juga turut menguatkan sektor lainnya. Seperti para petani semangka di Muba yang kini diberdayakan oleh Medco E&P Grissik Ltd. lewat program Local Business Development (LBD).
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Sumatera Selatan tahun 2025, Kabupaten Muba dan juga Kabupaten Banyuasin merupakan sentra andalan produsen buah semangka Sumsel yang secara total menguasai 45% produksi semangka dari seluruh Sumsel.
Jika dirinci, produksi semangka Kabupaten Muba pada tahun 2025 sekitar 20.552 kuintal atau sekitar 2.265 ton. Sedangkan Kabupaten Banyuasin dapat menghasilkan semangka hingga 24.264 kuintal (2.674 ton) pada tahun yang sama. Sementara produksi total semangka dari seluruh wilayah Sumsel pada tahun 2025 mencapai 98.296 kuintal (10.835 ton).
Kendati demikian, bukan berarti tak ada kendala. Suyanto, Perwakilan
Petani dari Kelompok Sumpal Palawija Makmur dari Desa Tampang Baru, Kecamatan
Bayung Lencir, Muba, menceritakan bahwa kelompok taninya juga pernah membentur
tembok penghalang dalam budidaya semangka. Untungnya MedcoEnergi lewat Medco
E&P Grissik hadir dengan program LBD.
![]() |
| Program Local Business Development (LBD) jadi salah satu program pengembangan masyarakat yang dijalankan MedcoEnergi di Wilayah Kerja Corridor. Dokumen: MedcoEnergi |
“Sebelumnya kami pernah terpuruk karena hasil panen belum
optimal. Setelah pendampingan dari
MedcoEnergi, kami lebih memahami budidaya yang baik, hasil panen meningkat, dan
pasar semakin luas. Program ini membantu kami bangkit dan percaya diri untuk
mengembangkan usaha,” cerita Suyanto dalam sesi “CSR Talkshow: Bringing Energy
to Community’s Economic Growth” yang digelar di booth MedcoEnergi pada perhelatan
The 50th IPA Convention & Exhibition (IPA Convex) 2026 di ICE BSD,
Kabupaten Tangerang, Banten, Rabu (20/5/2026).
Ubah Kebiasaan Tak Produktif
Memakai baju lengan panjang bernuansa biru denim, celana
hitam, dan tanjak ikat kepala khas Sumsel bertengger gagah di kepalanya, Suyanto
mengungkapkan ternyata ada yang salah dalam pengelolaan tanah di lahan kebun
semangka para petani Sumpal Palawija Makmur sebelum kehadiran MedcoEnergi. “Dulu
itu ada masalah di penyemaian. Aku pernah mengalami dalam semusim, sekali, dua
kali, bahkan tiga kali gagal semai karena persoalan tanah,” ucap Suyanto.
Karena intensitas pemanfaatan lahan yang terus-menerus serta
pengolahan tanah dengan campuran tanah bakaran yang kurang tepat disinyalir
membuat tanah kehilangan kesuburannya dari waktu ke waktu. MedcoEnergi hadir
dengan solusi pemakaian pupuk organik kohe (kotoran hewan). “Alhamdulillah sekarang
untuk menyemai, daya tumbuh kecambahnya 80 persen berhasil,” tutur Suyanto yang
merantau dari Lampung ke Muba pada tahun 2012.
Program LBD dari MedcoEnergi hadir sejak tahun 2023 dan mengubah
kebiasaan tani Suyanto dan kawan-kawan yang kurang produktif. Secara bertahap, program
ini memberikan berbagai ilmu dan pengetahuan untuk mengatasi kendala
produktivitas, teknis budidaya, penguatan modal, hingga cara membuka jejaring
pemasaran. “Dari tahun ke tahun, alhamdulillah sudah terlihat dampaknya,”
ujarnya.
Asal tahu saja, peningkatan produksi semangka dari kelompok Sumpal
Palawija Makmur lumayan signifikan, dari sebelumnya cenderung merugi menjadi panen
cuan. Sebelum intervensi program LBD pada tahun 2022 tercatat produksi
semangka kelompok yang bisa dipasarkan hanya 16 ton, namun pada tahun 2025 bertambah
menjadi 23 ton. Dari sisi pendapatan juga terus meningkat, dari hanya Rp 4 juta
pada 2023, beranjak mencapai Rp 15 juta pada 2024, hingga tembus Rp 90 juta
pada tahun 2025. “Insyaallah tanggal 25 Mei ini kita panen
semangka lagi,” ucap Suyanto sambil tersenyum.
Bangun Kapasitas Masyarakat agar Mandiri
Dalam kesempatan yang sama, Sudewo, Manager Field Relations
& Community Enhancement Corridor Asset Medco E&P Grissik Ltd. menerangkan
bahwa pihaknya memberikan dukungan lewat pendampingan teknis, penyediaan sarana
produksi, serta memfasilitasi akses pemasaran, karena melihat potensi besar
dari kelompok petani semangka Muba.
“Melalui Program LBD, MedcoEnergi terus menghadirkan
pemberdayaan yang tidak hanya bersifat bantuan, tetapi juga membangun kapasitas
masyarakat agar mampu mengelola usaha mandiri dan berkelanjutan. Kami melihat
Kelompok ini memiliki potensi besar untuk
terus berkembang dan menjadi contoh penguatan ekonomi lokal di sekitar area
operasi,” kata Sudewo.
Tak bergerak sendiri, MedcoEnergi menggandeng Plantari, organisasi yang berfokus pada kegiatan pemberdayaan masyarakat, penguatan UMKM, lingkungan hidup, serta pembangunan kawasan perdesaan berwawasan lingkungan. Secara bersama-sama mereka memberikan pendampingan kepada Kelompok Sumpal Palawija Makmur yang beranggotakan delapan petani. Pendampingan dilakukan melalui distribusi benih dan pupuk, pengelolaan lahan, pemilihan varietas, pemupukan, pengendalian hama ramah lingkungan, hingga penguatan kemitraan pemasaran.
Menurut Sudewo, sebagai perusahaan yang beroperasi secara
bertanggung jawab, MedcoEnergi berkomitmen untuk memberikan program pengembangan
masyarakat yang tepat sasaran. Diuraikan olehnya, ada lima pilar utama yang dipancangkan
MedcoEnergi dalam upaya pengembangan masyarakat. Selain pemberdayaan ekonomi
seperti yang dilakukan untuk petani semangka di Muba, juga ada pilar pendidikan,
kesehatan, lingkungan, serta infrastruktur dan fasilitas sosial.
Semua pilar tersebut harus diperkokoh sehingga berdampak
ekonomi nyata bagi masyarakat penerima manfaat. “Melalui penguatan usaha lokal
seperti ini, kami berharap masyarakat dapat semakin mandiri, berdaya saing, dan
mampu menciptakan manfaat ekonomi yang berkelanjutan,” ujar Sudewo.
Kini, nadi Bumi Sriwijaya masih terus berdenyut. Tak hanya lewat aliran minyak dan gas bumi, namun juga terasa lewat manisnya buah semangka. Penuh semangat, Suyanto dan kawan-kawan memuat buah-buah semangka ke atas truk setiap panen tiba. Bagai komoditas hasil bumi di masa kejayaan Sriwijaya silam, semangka-semangka tersebut sekarang juga siap dikirim ke berbagai penjuru kawasan. RH




