Indonesia Punya Modal Jadi Magnet Investasi Migas Dunia, Ini Syaratnya

Hashim Djojohadikusumo, Anggota Dewan Pengawas Indonesia Petroleum Association (IPA) (kedua dari kiri) saat pembukaan IPA Convex 2026.

Kabupaten Tangerang, OG Indonesia -- Industri hulu minyak dan gas bumi (migas) dinilai tetap akan menjadi sektor strategis di tengah tren transisi energi global. Bahkan, gas bumi diproyeksikan menjadi energi alternatif utama untuk menopang kebutuhan listrik dan perkembangan teknologi berbasis kecerdasan buatan (AI) di masa depan.

Hashim Djojohadikusumo Anggota Dewan Pengawas Indonesia Petroleum Association (IPA) mengungkapkan kebutuhan energi Indonesia akan terus meningkat dan Indonesia dinilai memiliki keunggulan karena memiliki sumber energi domestik.

Dia menilai gas bumi akan memainkan peran penting dalam era transisi energi seiring dengan target pertumbuhan ekonomi yang juga dipicu oleh peningkatan kebutuhan listrik. “Maka saya optimis sektor energi sangat-sangat akan diandalkan terutama gas, terutama gas,” kata Hashim dalam sesi Plenary Session: Path to Energy Resilience & The Role of Partnership di IPA Convex 2026, di ICE SBD, Rabu (20/5/2026).

Ia menjelaskan, pergeseran menuju kendaraan listrik akan mengubah pola konsumsi energi nasional. Konsumsi BBM diperkirakan perlahan menurun, namun kebutuhan listrik justru meningkat signifikan sehingga gas akan menjadi sumber energi penting untuk pembangkit listrik.

Meski demikian, Hashim menegaskan transisi energi tidak berarti mengurangi pentingnya sektor hulu migas. Sebaliknya, kebutuhan energi nasional justru diprediksi melonjak akibat pertumbuhan ekonomi dan revolusi digital.Dia memperkirakan konsumsi energi Indonesia akan meningkat drastis dalam lima tahun ke depan.

“Perusahaan seperti Amazon, Microsoft, Apple, dan lainnya melihat Indonesia sebagai lokasi utama investasi pusat data (data center), dan hal itulah yang akan menjadi alasan mengapa penggunaan energi akan melonjak drastis,” ujar Hashim.

Dia mengingatkan investasi hulu migas hanya akan masuk apabila pemerintah mampu menjaga kepastian hukum, stabilitas politik, serta skema fiskal yang kompetitif. “Investor perlu kepastian hukum, perlu stabilitas,” tegasnya.

Sementara itu, Kathy Wu, President IPA, mengungkapkan syarat dalam berinvestasi seperti yang disampaikan Hashim memang jadi salah satu pertimbangan perusahaan besar seperti bp dalam berinvestasi. Apalagi di era sekarang ini manajemen lebih selektif dalam berinvestasi karena harus yang benar-benar bisa terjamin pengembalian investasi tersebut.

Dia menuturkan persaingan mendapatkan alokasi modal di internal perusahaan kami maupun perusahaan anggota IPA sangat ketat dan semakin sulit. "Untuk itu proyek di Indonesia harus benar-benar kompetitif, baik dari sisi tingkat pengembalian investasi, risiko, kepastian pelaksanaan, hingga kepastian hasil yang dihitung di atas kertas benar-benar dapat terealisasi," ungkap Kathy.

Wade Floyd, Vice President IPA menilai Indonesia punya sejarah panjang dengan para pemain industri hulu migas. Sejarang itu terbangun melalui hubungan baik yang terus terjaga hingga sekarang ini. Menurutnya sejarah panjang itu dibangun atas dasar kemitraan dan kolaborasi. 

"Menurut saya, itulah salah satu alasan keberhasilan Indonesia saat ini. Peran investor internasional adalah membawa kemampuan unik seperti teknologi, integrasi proyek berskala besar, kemampuan eksekusi, dan sumber daya manusia kelas dunia untuk mendukung pertumbuhan Indonesia," ungkap Wade.

Ronald Gunawan, Vice President IPA menuturkan Indonesia sebenarnya memiliki keunggulan untuk jadi pemain utama dalam bisnis migas dunia mulai dari tingkat pengembalian investasinya bagus, adanya stabilitas, dan skema fiskalnya juga sangat baik. Hanya pekerjaan rumah yang tersisa adalah memangkas waktu pengerjaan proyek.

"Sebenarnya Indonesia sudah memiliki seluruh elemen penting. Kalau eksekusinya bisa lebih cepat, saya yakin Indonesia akan menjadi negara tujuan investasi kelas atas," tegas Ronald.

Sementara itu Awang Lazuardi, Direktur Utama PHE, menyatakan masih terdapat banyak ruang untuk untuk meningkatkan kemudahan berusaha, terutama di sektor hulu migas. Dari sisi perizinan seluruh stakeholder harus membangun kesamaan pemahaman bahwa ketahanan energi bukan hanya masalah industri migas. "Tetapi masalah seluruh bangsa," ungkap Awang.

Djoko Siswanto, Kepala Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Migas (SKK Migas), menegaskan pemerintah berkomitmen penuh untuk menciptakan iklim investasi yang aman, nyaman, dan fleksibel. Salah satu strategi yang diinisiasi adalah dengan menyatukan frekuensi lintas kementerian yang harus diakui kerap menjadi tantangan utama proyek hulu migas.

Kenyamanan dan fleksibelitas ini berkaitan dengan durasi penyelesaian proyek karena ketika proyek berlarut keekonomian proyek tersebut semakin menurun dan ujungnya proyek tidak bisa dieksekusi karena tidak sesuai dengan keekonomian. “Setelah keputusan investasi dibuat, maka harus segera dijalankan. Kalau ada masalah, mari kita duduk bersama dan selesaikan satu per satu. Kuncinya adalah percepatan proyek. Saya percaya tidak ada masalah yang tidak bisa diselesaikan,” jelas Djoko.

Kementerian ESDM menyadari untuk meningkatkan gairah investasi maka kemudahan bisnis harus terus ditingkatkan dan tantangan terbesar yang sering dihadapi pelaku industri di lapangan adalah koordinasi birokrasi, terutama terkait perizinan dan penggunaan lahan.

Laode Sulaeman, Dirjen Migas Kementerian ESDM, menegaskan pemerintah secara konsisten melakukan koordinasi lintas Kementerian untuk bisa mengurai benang kusut birokrasi yang kerap dikeluhkan pelaku usaha. “Regulasi di sektor migas sudah cukup jelas sehingga kepastian hukum tetap terjaga,” kata Laode. RH


Indonesia Punya Modal Jadi Magnet Investasi Migas Dunia, Ini Syaratnya  Indonesia Punya Modal Jadi Magnet Investasi Migas Dunia, Ini Syaratnya Reviewed by Ridwan Harahap on Kamis, Mei 21, 2026 Rating: 5
Diberdayakan oleh Blogger.