Jakarta, OG Indonesia -- Perusahaan investasi dengan portofolio bisnis terdiversifikasi, PT Indika Energy Tbk., menyelenggarakan Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) di Jakarta. Penguatan diversikasi di sektor non-batubara termasuk pengembangan tambang emas Awak Mas, peningkatan kinerja Environmental, Social, and Governance (ESG) menjadi langkah utama untuk mewujudkan pengembangan bisnis yang lebih berkelanjutan.
RUPST memutuskan menerima laporan tahunan 2025, mengesahkan laporan keuangan tahun 2025, memberikan pembebasan sepenuhnya (acquit et de charge) kepada Direksi dan Komisaris atas segala tindakan pengurusan dan pengawasan yang dilaksanakan dalam tahun 2025, serta menyetujui susunan Dewan Komisaris dan Direksi Perseroan menjadi sebagai berikut:
Dewan Komisaris:
• Agus Lasmono sebagai Komisaris Utama;
• Wishnu Wardhana sebagai Wakil Komisaris Utama;
• Nurcahya Basuki sebagai Komisaris;
• M. Arsjad Rasjid P.M. sebagai Komisaris;
• Farid Harianto sebagai Komisaris Independen;
• Feri Wibisono sebagai Komisaris Independen.
Direksi:
• Azis Armand sebagai Direktur Utama;
• Deddy Hariyanto sebagai Direktur;
• Retina Rosabai sebagai Direktur;
• Johanes Ispurnawan sebagai Direktur;
• Kamen Kamenov Palatov sebagai Direktur.
RUPST juga memutuskan persetujuan pembagian dividen tunai dengan total sebesar US$ 3.013.598 atau 50% dari Laba Bersih Perseroan yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk tahun 2025.
Besaran dividen final per saham tersebut akan menyesuaikan jumlah saham yang tercatat dan beredar pada tanggal pencatatan (recording date) yaitu 4 Juni 2026, dengan memperhatikan saham treasury hasil pembelian kembali (buyback) yang telah dialihkan sebelum recording date.
Perhitungan dividen per saham dalam mata uang Rupiah akan menggunakan kurs tengah Bank Indonesia pada tanggal 20 Mei 2026, dan tanggal pendistribusian dividen final tunai dijadwalkan pada tanggal 19 Juni 2026.
Kinerja Perseroan di 3M 2026: Momentum Pertumbuhan Non-Batubara
Indika Energy juga mengumumkan Laporan Keuangan Konsolidasi untuk periode tiga bulan yang berakhir pada 31 Maret 2026 (3M 2026). Perseroan mencetak Laba Bersih yang dapat diatribusikan kepada Pemilik Entitas Induk sebesar US$ 7,0 juta di 3M 2026, naik signifikan dibandingkan US$ 2,9 juta pada 3M 2025.
Pertumbuhan positif ini didorong oleh meningkatnya kinerja Kideco dan efisiensi biaya operasional. Sepanjang 3M 2026, Indika Energy membukukan Pendapatan US$ 493,2 juta, atau meningkat 0,7% dari US$ 489,6 juta pada periode yang sama tahun sebelumnya.
Kenaikan Pendapatan terutama disebabkan karena meningkatnya kontribusi Interport dan Indika Indonesia Resources, walaupun ada sedikit penurunan kontribusi pendapatan dari Kideco. Pada 3M 2026, Pendapatan Kideco menurun 5,7% menjadi US$ 377,4 juta, seiring dengan penurunan volume penjualan sebesar 4,1% menjadi 7,0 juta ton dan penurunan harga jual rata-rata (ASP) sebesar 1,7% menjadi US$ 51,1 per ton.
Kideco tetap berkomitmen pada ketahanan energi nasional dengan menyalurkan 3,1 juta ton (45% dari total volume) untuk pasar domestik, melampaui ketentuan Domestic Market Obligation (DMO) sebesar 25%. Sementara 55% sisanya atau sebesar 3,9 juta ton diekspor ke China, India, Jepang, dan negara lainnya.
Indika Indonesia Resources (IIR) mencatatkan peningkatan Pendapatan sebesar 38,3% menjadi US$ 13,0 juta pada 3M 2026. Peningkatan ini terutama disebabkan oleh meningkatnya pendapatan dari perdagangan batubara sebesar 5,0% menjadi 126.000 ton dibandingkan 120.000 ton pada 3M 2025, serta meningkatnya harga jual rata-rata (ASP) perdagangan batu bara sebesar 88,3% menjadi US$ 88,3 per ton dibandingkan US$ 46,9 per ton pada periode yang sama tahun sebelumnya, seiring penjualan batubara dengan nilai kalori yang lebih tinggi. IIR juga mencatat Pendapatan sebesar US$ 1,9 juta dari perdagangan non-batubara, terutama bauksit dari Mekko.
Anak-anak perusahaan Indika Energy lainnya seperti Tripatra dan Interport juga mencatat kenaikan Pendapatan. Tripatra mencatat kenaikan Pendapatan sebesar 11,2% menjadi US$ 68,7 juta di 3M 2026, terutama didorong oleh proyek APA Geng North (US$ 33,9 juta), proyek Kaltim Parna LCO2 (US$ 3,4 juta), PMC untuk proyek UCC (US$ 4,3 juta), proyek PHR Utara (US$ 3,3 juta), dan FEED FPCI untuk proyek LNG Abadi (US$ 2,9 juta).
Perusahaan logistik terintegrasi, Interport Mandiri Utama (Interport), mencatat kenaikan Pendapatan sebesar 53,4% menjadi US$ 43,1 juta, terutama disebabkan oleh peningkatan Pendapatan dari bisnis perdagangan bahan bakar. Pada 3M 2026, Pendapatan Interport terdiri dari Cotrans sebesar US$ 16,4 juta, KGTE (penyimpanan bahan bakar) sebesar US$ 5,8 juta, perdagangan bahan bakar sebesar US$ 16,8 juta, sementara sisanya berasal dari Interport Business Park (IBP) dan ILSS.
Sementara itu, Perseroan berhasil menekan Beban Pokok Kontrak dan Penjualan sebesar 1,6% menjadi US$ 419,2 juta pada 3M 2026 dari sebelumnya US$ 425,9 juta pada 3M 2025. Penurunan ini terutama disebabkan penurunan biaya tunai (cash cost) Kideco termasuk royalti menjadi US$ 44,6 per ton.
Hasilnya, Laba Kotor Perseroan meningkat 16,2% menjadi US$ 74,0 juta dengan margin laba kotor terkonsolidasi meningkat menjadi 15,0% dari 13,0% pada 3M 2025. Hal ini terutama didorong oleh peningkatan margin laba kotor Kideco yaitu menjadi 18,9% pada 3M 2026, dibandingkan 12,5% pada 3M 2025.
Beban Penjualan, Umum, dan Administrasi (SG&A) turun 0,5% menjadi US$ 36,6 juta pada 3M 2026 dari US$ 36,8 juta pada 3M 2025 terutama disebabkan karena penurunan beban umum dan administrasi (G&A), sedikit penurunan biaya pemasaran sejalan dengan pendapatan Kideco yang lebih rendah, dan peningkatan PNBP terkait Kideco.
Di sisi lain, bagian laba bersih entitas asosiasi menurun menjadi US$ 4,5 juta pada 3M 2026 dibandingkan US$ 9,6 juta pada 3M 2025 akibat kontribusi yang lebih rendah dari PLTU Cirebon (CEPR). Beban keuangan Perseroan juga berhasil dipangkas sebesar 8,6% menjadi US$ 16,0 juta pada 3M 2026 berkat penurunan biaya utang rata-rata.
Sebagai hasilnya, Perseroan membukukan Laba yang Dapat Diatribusikan kepada Pemilik Entitas Induk sebesar US$ 7,0 juta pada 3M 2026, dibandingkan US$ 2,9 juta pada 3M 2025. Komitmen Perseroan untuk mengembangkan bisnis non-batubara tercermin dari realisasi belanja modal (capex) sepanjang 3M 2026 yang mencapai US$ 26,2 juta, di mana 100% dialokasikan seluruhnya untuk sektor non-batubara.
Sektor mineral (proyek tambang emas Awak Mas) menyerap US$ 20,4 juta, dan sisanya sebesar US$ 5,8 juta didistribusikan untuk inisiatif bisnis hijau. Hingga 31 Maret 2026, konstruksi Proyek Awak Mas telah mencapai 56,8% penyelesaian, dengan total biaya yang telah direalisasikan sebesar US$ 288,1 juta.
“Indika Energy tetap menunjukkan ketahanan kinerja yang solid dengan membukukan laba bersih sebesar US$ 7,0 juta pada kuartal pertama 2026 di tengah dinamika industri energi global. Kami terus memperkuat transformasi bisnis di mana seluruh belanja modal pada periode ini dialokasikan untuk proyek tambang emas Awak Mas dan berbagai inisiatif bisnis hijau. Langkah ini merupakan bagian penting dari strategi jangka panjang Perseroan yang relevan dengan arah transisi energi global menuju net-zero,” tutup Azis Armand, Direktur Utama dan Group CEO Indika Energy dalam keterangannya, Rabu (20/5/2026). RH



