![]() |
| Di tengah tantangan geopolitik global, perlu sinergi dan kolaborasi dari para stakeholder hulu migas di Tanah Air. Foto: Ridwan Harahap |
Jakarta, OG Indonesia -- Krisis di Selat Hormuz yang pecah akibat konflik yang terus memanas antara Amerika Serikat dan Israel vs Iran, menjadi bukti nyata betapa rawannya pasokan energi di dunia. Untuk itu, Indonesia harus terus memperkuat ketahanan energi nasionalnya di tengah gejolak dan ketidakpastian geopolitik global tersebut.
"Situasi gangguan di Selat Hormuz jadi pengingat nyata bahwa ketahanan energi memiliki dampak nyata langsung bagi kita semua dalam kehidupan sehari-hari," kata Kathy Wu, Presiden Indonesian Petroleum Association (IPA) dalam sesi wawancara pada program Sapa Indonesia di Kompas TV, Senin (11/5/2026) pagi.
Menurutnya, negara-negara yang tergantung pada impor energi akan sangat terdampak. Mulai dari terjadinya pemadaman listrik, pengangkutan dan distribusi barang terganggu, hingga banyak pabrik terpaksa berhenti operasi, semuanya akibat terganggunya pasokan bahan bakar. "Indonesia sejauh ini, efek dan dampaknya masih dapat dikelola. Namun kita harus tetap sangat waspada dan bersiap menhadapi situasi dan momen krisis ini," ucapnya.
Karena itu, lanjut Kathy, sangat penting bagi semua stakeholder hulu migas nasional untuk dapat saling bersinergi. "Dari sudut pandang industri, usaha untuk mencari cara bekerja sama dan meningkatkan pasokan domestik sangatlah penting. Dan ini sedang diupayakan Presiden Prabowo dan timnya. IPA tentu tetap sangat mendukung," tuturnya.
Guna menumbuhkan pertumbuhan pasokan energi demi kemandirian dan ketahanan energi, tentunya membutuhkan perluasan jangkauan dan percepatan investasi dalam kegiatan usaha hulu migas yang ada di Indonesia.
Apalagi dari sekitar 130 basins (cekungan migas) yang ada di Indonesia, sekitar 65-68 cekungan atau lebih dari 50 persen masih belum tersentuh eksplorasi sama sekali. "Sebenarnya Indonesia di antara seluruh negara Asia Tenggara, Indonesia memiliki potensi (migas) yang terbesar, bahkan mungkin di seluruh Asia," ungkap Kathy.
Hanya saja kebanyakan potensi migas Indonesia berada di kawasan Indonesia timur di mana infrastrukturnya masih terbatas, lokasinya jauh dari pusat permintaan energi, serta membutuhkan modal yang sangat besar untuk membuka potensi sumber daya raksasa tersebut.
Kathy pun menegaskan pentingnya kegiatan eksplorasi migas. Hanya saja, dipaparkan olehnya, ada dua karakteristik tantangan utama dalam upaya eksplorasi ini. Pertama, risiko yang sangat tinggi yaitu tingkat kesuksesannya hanya berkisar di angka 10 persen hingga 30 persen. "Itu berarti kalau kita mengebor sepuluh sumur eksplorasi, hanya maksimal tiga yang berhasil," ujarnya.
Tantangan kedua terkait siklus waktu yang sangat panjang dalam upaya pemanfaatan sumber daya migas. "Jadi, dari saat kita menemukan sampai melalui tahap penilaian, pengembangan, hingga berproduksi, sering kali memakan waktu lebih dari sepuluh tahun," beber Kathy.
Untuk itu menurutnya diperlukan tiga hal mendasar bagi industri hulu migas nasional, yaitu kepastian hukum, kepastian stabilitas jangka panjang, dan daya saing secara global dari sisi regulasi komersial dan fiskal.
"Dengan kebijakan yang lebih baik dan kepemimpinan pemerintahan yang berkelanjutan, kita sudah melihat perusahaan-perusahaan global kembali masuk ke Indonesia. Kami juga sangat terdorong oleh keberhasilan yang signifikan dalam penemuan-penemuan besar dari eksplorasi yang kita lihat dalam beberapa tahun terakhir," paparnya.
Kendati demikian, sambung Kathy, selalu ada ruang untuk perbaikan. Dirinya memetakan tiga hal penting yang perlu dibenahi dari ketiga hal mendasar tersebut.
Pertama, terkait kepastian hukum dan kesucian kontrak. "Pada sektor hulu migas kita beroperasi di bawah kontrak yang disebut Kontrak Bagi Hasil (PSC) antara pemerintah dan industri. Kontrak ini sangat panjang, antara 20 sampai 30 tahun. Jadi, selama implementasi kontrak, mulai dari melakukan eksplorasi hingga tahap produksi dapat memiliki kepastian tentang bagaimana menjalankan kontrak ini sesuai ketentuan yang disepakati saat kontrak ditandatangani. Itu kuncinya," tegasnya.
Hal yang kedua adalah yang berhubungan dengan kemudahan untuk berbisnis. Dalam industri yang padat modal dan padat risiko seperti hulu migas, membutuhkan banyak perizinan serta persetujuan yang harus dipenuhi. "Jika kita bisa bekerja sama untuk mempercepat dan merampingkan persetujuan, sehingga membutuhkan waktu lebih singkat untuk pengembangan itu akan membantu mengurangi waktu siklus kita," terang Kathy.
Sementara hal ketiga yang juga perlu ditingkatkan lagi adalah yang berhubungan dengan ketentuan komersial dan fiskal. Sebab, pada dasarnya Indonesia juga bersaing dengan banyak negara untuk menarik investor dalam pengembangan sumber daya migas yang ada.
"Ketentuan komersial seperti mekanisme harga, dan fakta bahwa banyak potensi eksplorasi di Indonesia berada di bagian timur negara ini, di mana merupakan wilayah terluar dan berada di laut dalam yang secara teknis sangat kompleks dan seringkali proyeknya bersifat marginal. Artinya, proyek-proyek tersebut belum tentu menarik untuk dilakukan investasi. Jadi, di area target ini, jika industri bisa mendapat dukungan pemerintah dalam bentuk insentif, hal itu akan sangat membantu kami mengembangkan proyek-proyek marginal yang ingin kita wujudkan untuk negara," urainya panjang.
Kathy menegaskan, sinergi antara pihak pemerintah dan sektor swasta menjadi kunci utama dalam mewujudkan kemajuan industri hulu migas di Tanah Air. "Kolaborasi adalah kuncinya dan kami tetap menjadi mitra energi yang berkomitmen bagi pemerintah untuk mencapai tujuan yang sangat penting bagi ekonomi dan negara ini," imbuhnya.
Sebagai asosiasi yang menaungi perusahaan-perusahaan migas yang ada di Indonesia mulai dari Pertamina, Medco, ExxonMobil, PETRONAS, ENI, INPEX, bp, dan lain-lain, dijelaskan Kathy, IPA menjadi suara kolektif dari industri migas di negeri ini. "Kami adalah mitra pendukung bagi Pemerintah Indonesia," tegasnya. "Kami didirikan sejak tahun 1971, jadi sudah lebih dari lima dekade berada di sini dan kami ingin terus menjadi mitra energi yang berkomitmen mendukung pemerintah dalam mencapai target jangka panjang bersama," pungkas Kathy.
Refleksi Tiga Elemen dalam Hajat 50 Tahun IPA Convex
Termasuk dengan menjalin sinergi dengan berbagai pihak melalui ajang IPA Convention & Exhibition (IPA COnvex) 2026. Diterangkan Teresita Listyani, Chairperson IPA Convex 2026, perayaan tahun ke-50 dari IPA Convex pada tahun 2026 ini mengusung tema "50 Years of Energy Partnership: Shaping The Next Era for Advancing Growth".
Menurutnya ada beberapa elemen penting dalam IPA Convex kali ini, yaitu pentingnya partnership atau kemitraan, perlunya merefleksi apa yang telah dilakukan atau learning from the past, serta apa saja tantangan dan relevansi industri hulu migas saat ini serta di masa depan. "Sehingga program-program kami (IPA Convex) berusaha untuk merefleksikan hal-hal tersebut," kata Teresita.
Ada beberapa program menarik dalam IPA Convex 2026. Teresita membeberkan, ada program Plennary Session yang mengangkat topik-topik industri hulu migas terhangat, terutama yang terkait dengan posisi Indonesia dalam kaitan dengan kondisi geopolitik dunia dewasa ini. Lalu ada showcase program pelibatan masyarakat dari kegiatan operasi hulu migas yang ada di suatu daerah.
Masih ada pula aneka kegiatan yang melibatkan pelajar dan mahasiswa dalam rangkaian acara IPA Convex 2026 yang digelar pada 20-22 Mei 2026 di ICE BSD, Kabupaten Tangerang, Banten. Termasuk kegiatan Technical Paper yang menjadi embrio penting dari pemikiran dan inovasi dalam menjawab tantangan yang ada pada industri hulu migas Tanah Air.
"Pameran ini menunjukkan animo atau tren yang selalu meningkat, setiap tahun seperti itu. Jadi tahun ini kita punya 200 lebih eksibitor, ada pula eksibitor-eksibitor baru dari dalam dan luar negeri yang sebelumnya belum pernah berpartisipasi di IPA Convex," jelas Teresita.
Lewat penyelenggaraan setengah abad IPA Convex pada 2026 ini, Teresita menyampaikan acara ini dapat mengumpulkan para stakholder hulu migas, mulai dari pihak pemerintah, praktisi dan ahli hulu migas, akademisi, hingga perwakilan dari negara-negara sahabat, hingga mahasiswa dan masyarakat umum.
"Jadi IPA Convex ini menjadi semacam puncaknya dari hal-hal apa saja yang sudah dirintis oleh IPA sebagai organisasi. IPA Convex ini jadi platform diskusi untuk advokasi dari isu-isu (hulu migas) yang dibahas. Diharapkan terjadi dialog dengan wahananya di IPA Convex ini," tutup Teresita. RH
Reviewed by Ridwan Harahap
on
Senin, Mei 11, 2026
Rating:




