
Pertamina Hulu Mahakam mencatat realisasi produksi minyak 25.575 bopd dan produksi gas mencapai 408 MMSCFD sampai akhir Mei 2026.
Jakarta, OG Indonesia -- PT Pertamina Hulu Mahakam (PHM) terus berjibaku mempertahankan produksi minyak dan gas bumi (migas) dari Wilayah Kerja (WK) Mahakam. Anak usaha dari PT Pertamina Hulu Indonesia (PHI) ini berhasil menduduki enam besar perusahaan Kontraktor Kontrak Kerja Sama (KKKS) dari sisi produksi minyak dan menembus lima besar untuk urusan produksi gas bumi selama lima bulan pertama 2026.
Berdasarkan paparan Kepala Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) Djoko Siswanto dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) dengan Komisi XII DPR RI, Rabu (3/6/2026), per akhir Mei 2026, realisasi produksi minyak PHM dari Blok Mahakam mencapai 25.575 barel minyak per hari (bopd).
Sementara target lifting pada Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2026 serta angka persetujuan Work Program & Budget (WP&B) 2026 dipatok 22.428 bopd. Sehingga pencapaian produksi year to date dibandingkan APBN dan WP&B 2026 sudah tembus 114%.
Sedangkan untuk realisasi produksi gas sampai penghujung Mei 2026 mencapai 408 juta standar kaki kubik per hari (MMSCFD). Lalu untuk realisasi salur atau lifting gasnya sebesar 364 MMSCFD. Dalam APBN dan WP&B 2026, target salur gas dipasang 370 MMSCFD. Menjadikan pencapaian salur gas year to date disandingkan dengan target APBN dan WP&B 2026 sekitar 98,5%.
"Untuk gas tadi disampaikan 98,5 persen untuk lifting, namun demikian untuk well head-nya sebetulnya 103 (persen), karena ada kargo yang diundur dari awal tahun ke Q4. Nanti untuk Q4-nya akan 100 persen lebih juga," jelas Setyo Sapto Edi, General Manager PHM, yang turut mendampingi Kepala SKK Migas bersama petinggi sembilan KKKS besar lainnya dalam RDP dengan para anggota Komisi XII DPR RI.
Wilayah Kerja Mahakam yang telah beroperasi sejak tahun 1974 diketahui kini merupakan bagian dari Regional 3 Subholding Upstream Pertamina yang mengurus aset-aset hulu migas Pertamina di pulau Kalimantan. Pertamina sendiri menerima estafet pengelolaan Blok Mahakam dari Total E&P Indonesie sejak tahun 2018 lalu. "Sudah 52 tahun kami (Blok Mahakam) beroperasi, dan untuk mempertahankan produksi kami saat ini masih berkomitmen untuk pengeboran," tegas Setyo.
Dia membeberkan untuk tahun 2026 PHM menargetkan melakukan kegiatan pengeboran sebanyak 67 sumur di mana hingga awal Juni 2026 yang telah terealisasi sebanyak 32 sumur. "Jadi sudah hampir 50 persen realisasi pengeboran di tahun 2026," ungkap Setyo.
Dalam siasat untuk mempertahankan produksi Blok Mahakam, Setyo memaparkan kalau PHM saat ini sudah membangun enam platform migas baru. "Dua platform sudah berproduksi, platform ketiga sudah akan berproduksi, platform keempat akan berproduksi pada tanggal 5 (Juni) besok, dan dua platform terakhir akan berproduksi di bulan Juli dan Agustus sesuai dengan komitmen kami di tahun 2026," terangnya.
Tak hanya menguras sumber daya migas yang sudah ditemukan, PHM juga menggencarkan kegiatan eksplorasi dalam rangka menemukan sumber daya migas baru di Blok Mahakam. Salah satu kisah suksesnya adalah sumur eksplorasi Manpatu yang berhasil mencatat discovery atau temuan baru gas pada Q1 2022 lalu.
Lewat jalur fast track dengan jadwal yang sangat ketat sejak discovery, Setyo menjelaskan saat ini untuk sumur Manpatu tengah dibuatkan platform juga. "Platform sudah terpasang di lapangan dan akan onstream di Q1 2027," ucapnya.
Setyo menegaskan PHM bertanggung jawab untuk dapat memenuhi target produksi migas yang telah diamanatkan pemerintah. "Kami berkomitmen terus untuk bisa merealisasikan target produksi 2026 sesuai dengan yang sudah ditetapkan di dalam APBN," pungkasnya. RH
Reviewed by Ridwan Harahap
on
Rabu, Juni 03, 2026
Rating:


