Belajar Tata Kelola Gas dan LNG dari Jepang


Oleh: Salis Aprilian, Dewan Pakar Komunitas Migas Indonesia (KMI)

Dalam IGS Indo-Pacific LNG Summit 2026 yang lalu, salah satu presentasi yang menarik justru datang dari Tokyo Gas Group. Alih-alih hanya mempromosikan teknologi, perusahaan utilitas gas terbesar di Jepang tersebut memaparkan sebuah case study mengenai bagaimana Jepang membangun sistem gas nasional yang sangat tangguh meskipun hampir tidak memiliki cadangan gas alam domestik.

Ironisnya, negara yang miskin sumber daya gas justru berhasil membangun salah satu jaringan LNG paling lengkap di dunia. Sebaliknya, Indonesia yang memiliki cadangan gas terbesar di Asia Tenggara masih menghadapi kesenjangan infrastruktur sehingga banyak daerah industri dan pembangkit listrik tetap kekurangan pasokan gas.

Presentasi Tokyo Gas memberikan pelajaran yang sangat penting bagi Indonesia.

Jepang Tidak Mengandalkan Satu Terminal

Jepang saat ini memiliki lebih dari 45 LNG Receiving Terminal, terdiri dari: 37 Primary LNG Import Terminal; 8 Secondary LNG Receiving Terminal; serta ratusan Satellite LNG Terminal yang tersebar di berbagai wilayah.

Seluruh terminal tersebut saling terhubung melalui jaringan pipa transmisi, pipa distribusi, terminal penyimpanan, hingga armada LNG Truck dan kapal LNG skala kecil.

Artinya, Jepang tidak membangun satu terminal raksasa yang harus melayani seluruh wilayah. Mereka membangun sistem bertingkat (multi-tier) sebagai berikut: Primary Terminal → Secondary Terminal → Satellite Terminal → Konsumen.

Model ini membuat distribusi gas jauh lebih fleksibel.

Tokyo Gas menunjukkan skema LNG Supply Chain yang sangat menarik. Gas alam cair pertama kali diterima di Primary LNG Import Terminal. Lalu sebagian diregasifikasi dan langsung masuk jaringan pipa kota. Sebagian lagi tetap dalam bentuk LNG dan dikirim ke Secondary Receiving Terminal. Kemudian ke Satellite Terminal, lalu ke kawasan industri, pembangkit listrik, dan pelanggan komersial.

Pengiriman ini menggunakan beberapa opsi, yakni: LNG Carrier, Small Scale LNG Carrier, ISO Container, dan/atau LNG Truck.

Dengan demikian, jaringan gas tidak hanya bergantung pada pipa.

Ketika pembangunan pipa belum ekonomis, distribusi LNG tetap dapat berjalan menggunakan moda transportasi darat maupun laut.

Filosofi "Hub and Spoke"

Yang menarik, Jepang sebenarnya menerapkan konsep yang selama ini banyak dibahas dalam pengembangan gas Indonesia. Konsep ini menggunakan Primary Terminal berfungsi sebagai hub utama. Secondary Terminal menjadi regional hub. Sedangkan Satellite Terminal berfungsi sebagai "spoke" yang mendistribusikan LNG ke konsumen akhir.

Model inilah yang memungkinkan hampir seluruh wilayah Jepang memperoleh akses gas meskipun jaringan pipanya tidak sepenuhnya terintegrasi secara nasional.

Looped Pipeline Network

Pelajaran berikutnya adalah pembangunan "Looped Pipeline Network."

Tokyo Gas memiliki jaringan pipa bertekanan tinggi sepanjang sekitar 66.870 km.

Yang lebih penting bukan sekadar panjang pipanya, melainkan bentuk jaringannya yang dibuat membentuk "loop."

Dengan demikian, apabila salah satu ruas mengalami gangguan, aliran gas masih dapat dialihkan dari sisi lain. Keamanan pasokan meningkat drastis.

Empat Terminal Besar Sebagai Backup

Di kawasan metropolitan Tokyo, empat terminal LNG besar saling mendukung, yaitu: Negishi; Ohgishima; Sodegaura; dan Hitachi.

Keempat terminal tersebut memiliki kapasitas penyimpanan hingga sekitar 1,6 juta m³ LNG pada masing-masing kelompok terminal, dengan kapasitas regasifikasi mencapai sekitar 2,0–2,1 juta m³ gas per jam.

Konsep backup system ini memastikan apabila salah satu terminal mengalami gangguan operasional, pasokan gas tetap dapat dialihkan dari terminal lainnya tanpa mengganggu pelanggan.

Gas Disimpan Bukan Hanya di Tangki

Konsep menarik lainnya adalah bahwa Jepang secara praktis "menyimpan energi" bukan hanya di tangki LNG. Tetapi juga di dalam jaringan pipa, terminal penerima, terminal satelit, bahkan pada armada LNG Truck yang terus bergerak.

Dengan banyaknya titik penyimpanan, operator dapat mengatur kapan LNG diregasifikasi dan kapan gas dialirkan ke pelanggan sesuai fluktuasi permintaan harian maupun musiman.

Fleksibilitas inilah yang menjadi salah satu kunci ketahanan energi Jepang.

Terminal Satelit Berukuran Sangat Beragam

Tokyo Gas juga menunjukkan contoh terminal dengan ukuran berbeda. Misalnya: Sodegaura LNG Terminal sebagai Primary Terminal memiliki kapasitas penyimpanan sekitar 1 juta m³ dengan 15 tangki.

Akita LNG Terminal sebagai Secondary Terminal hanya memiliki 1 tangki berkapasitas sekitar 12.000 m³.

Sedangkan Onahama Satellite Terminal cukup memiliki 1 tangki berkapasitas sekitar 1.000 m³.

Artinya, pembangunan terminal LNG tidak selalu harus besar. Yang penting adalah sesuai kebutuhan pasar.

LNG Truck Menjadi Tulang Punggung

Tokyo Gas telah mengoperasikan distribusi LNG menggunakan truk sejak 1970.

Saat ini volume distribusi mencapai sekitar 550.000 ton LNG per tahun, menggunakan tanker truck berkapasitas 7,1–15,7 ton.

Pendekatan ini jauh lebih ekonomis untuk melayani daerah yang belum layak dibangun jaringan pipa.

Indonesia Justru Memiliki Modal Lebih Besar

Yang menarik, Indonesia sebenarnya memiliki aset atau modal jauh lebih besar dibanding Jepang. Indonesia memiliki Blok Masela, Andaman, IDD (Delta Mahakam), Kilang LNG Tangguh, Bontang, dan Donggi Senoro, serta beberapa temuan lapangan gas baru lainnya.

Cadangan gas telah tersedia. Tinggal.membangun jaringan distribusi nasionalnya.

Selama ini pembangunan LNG lebih berorientasi ekspor. Sementara pembangunan receiving terminal domestik masih sangat terbatas.

Sulawesi–Maluku Sebagai Contoh

Tokyo Gas bahkan telah ikut mengembangkan proyek Sulawesi- Maluku LNG, yang menghubungkan satu Floating Hub, enam Onshore Receiving Facilities, dan satu Small-Scale LNG Carrier untuk memasok pembangkit listrik di enam lokasi.

Konsep ini menunjukkan bahwa model distribusi LNG bertingkat bukan sekadar teori, tetapi telah diterapkan di kawasan timur Indonesia.

Pendekatan seperti ini sangat relevan untuk wilayah kepulauan Indonesia yang secara geografis sulit dijangkau jaringan pipa panjang.

Saatnya Indonesia Berbenah

Pelajaran terbesar dari Jepang bukanlah besarnya investasi. Melainkan cara berpikir.

Jepang membangun jaringan gas secara bertahap, terintegrasi, dan berbasis kebutuhan pasar. Mereka tidak menunggu hingga seluruh jaringan pipa selesai untuk mulai mendistribusikan gas. Sebaliknya, mereka mengombinasikan terminal utama, terminal sekunder, terminal satelit, jaringan pipa, kapal LNG skala kecil, dan truk LNG menjadi satu sistem logistik energi yang saling menopang.

Indonesia seharusnya dapat menerapkan pendekatan serupa. Lapangan gas besar seperti Masela, Andaman, IDD, maupun Tangguh dapat menjadi supply hub, kemudian dihubungkan ke regional receiving terminal di kawasan industri dan pembangkit listrik, sebelum diteruskan ke satellite terminal melalui jaringan small-scale LNG maupun LNG trucking, dan/atau CNG.

Dengan model "Hub and Spoke," pemanfaatan gas bumi tidak lagi hanya berorientasi ekspor, tetapi mampu memperluas akses energi bersih bagi kawasan industri, smelter, pembangkit listrik, dan masyarakat di seluruh Nusantara.

Jika Jepang yang miskin sumber daya mampu membangun lebih dari 45 terminal LNG beserta ratusan terminal satelitnya, maka Indonesia yang dianugerahi cadangan gas melimpah seharusnya mampu melakukan lebih dari itu. Tantangan terbesar kita bukanlah kekurangan gas, melainkan keberanian membangun infrastruktur distribusi yang terintegrasi dan berpandangan jauh ke depan.

Sudah saatnya Indonesia berhenti sekadar menjadi pengekspor LNG. Kita harus mulai membangun ekosistem gas nasional yang mampu menghadirkan energi bersih, andal, dan terjangkau bagi seluruh pelosok negeri. Di situlah makna sejati swasembada energi dapat diwujudkan.

------

Yogyakarta, selepas Isya'

25 Juli 2026

Belajar Tata Kelola Gas dan LNG dari Jepang Belajar Tata Kelola Gas dan LNG dari Jepang Reviewed by Ridwan Harahap on Sabtu, Juli 25, 2026 Rating: 5
Diberdayakan oleh Blogger.