Jakarta, OG Indonesia -- Pengembangan fasilitas produksi terapung (floating production) diproyeksikan akan menjadi salah satu pilar utama peningkatan produksi minyak dan gas bumi (migas) Indonesia dalam satu dekade mendatang. Sejumlah proyek strategis yang tersebar di berbagai wilayah perairan Indonesia dipersiapkan untuk mulai beroperasi secara bertahap pada periode 2027 hingga 2035, seiring upaya pemerintah mencapai target produksi 1 juta barel minyak per hari (BOPD) dan 12 miliar standar kaki kubik gas per hari (BSCFD).
Berdasarkan paparan Rocky Samuel Julianto Makapuan, Kepala Departemen Perkapalan dan Kemaritiman SKK Migas, persebaran proyek floating production di Indonesia saat ini masih didominasi oleh klaster perairan Laut Natuna dan Jawa Timur. Kedua wilayah tersebut menjadi pusat pengembangan berbagai fasilitas terapung seperti Floating Production Storage and Offloading (FPSO), Floating Storage and Offloading (FSO), hingga Mobile Offshore Production Unit (MOPU) yang akan menopang produksi migas nasional pada tahun-tahun mendatang.
Dalam paparannya, Rocky menjelaskan bahwa sedikitnya terdapat delapan proyek strategis yang akan menggunakan fasilitas terapung, yakni Hidayah, Ande Ande Lumut, Mako, Tanggulo, Tuna, Geng North, Abadi (Masela), serta sejumlah proyek lainnya yang dijadwalkan mulai beroperasi antara tahun 2027 hingga 2031. Penggunaan teknologi floating production dinilai semakin menjadi pilihan utama karena mampu mempercepat waktu pengembangan lapangan, lebih fleksibel dibandingkan pembangunan platform tetap, serta memberikan efisiensi investasi, khususnya untuk pengembangan lapangan lepas pantai.
Salah satu proyek yang akan lebih dahulu beroperasi adalah Lapangan Mako, yang ditargetkan mulai memproduksi gas pada 2027 dengan kapasitas sekitar 111 MMSCFD. Sementara itu, Lapangan Tuna di Laut Natuna dijadwalkan mulai berproduksi pada akhir 2029 dengan kapasitas sekitar 114,7 MMSCFD. Di kawasan yang sama, proyek Ande Ande Lumut juga diproyeksikan menjadi salah satu kontributor penting produksi migas nasional.
Di sektor minyak, Lapangan Hidayah menjadi salah satu proyek prioritas dengan target first oil pada 2027 dan kapasitas puncak produksi sekitar 25 ribu barel minyak per hari. Sementara itu, proyek Abadi di kawasan timur Indonesia diproyeksikan menjadi salah satu proyek migas terbesar dengan target produksi minyak sekitar 138 ribu barel per hari serta produksi gas dalam volume yang sangat signifikan ketika mencapai fase operasi penuh.
Paparan tersebut juga menunjukkan adanya tren baru dalam pengembangan fasilitas produksi terapung di Indonesia. Sebagian besar operator memilih menggunakan FPSO hasil konversi dari kapal tanker dibandingkan membangun unit baru (new build). Strategi ini dinilai mampu mengurangi biaya investasi sekaligus mempercepat proses konstruksi sehingga proyek dapat segera memasuki tahap produksi.
Selain itu, sejumlah perusahaan migas internasional seperti Petronas, Inpex, Mubadala Energy, ENI, dan beberapa operator lainnya tercatat terlibat dalam pengembangan proyek-proyek tersebut. Hal ini menunjukkan bahwa sektor hulu migas Indonesia masih memiliki daya tarik tinggi bagi investor global, khususnya dalam pengembangan lapangan lepas pantai dan laut dalam yang membutuhkan teknologi serta pengalaman operasional tingkat tinggi.
Dari sisi pengelolaan wilayah kerja, data yang dipaparkan juga menunjukkan bahwa grup Pertamina masih menjadi operator dengan jumlah wilayah kerja terbanyak melalui sejumlah anak usahanya, seperti PT Pertamina Hulu Mahakam, PT Pertamina Hulu Kalimantan Timur, PT Pertamina Hulu Energi ONWJ, dan beberapa entitas lainnya. Kondisi ini mencerminkan semakin besarnya peran perusahaan nasional dalam menjaga keberlanjutan produksi migas Indonesia.
Secara keseluruhan, pengembangan proyek floating production menandai transformasi strategi pengembangan hulu migas Indonesia. Jika selama ini produksi nasional banyak bergantung pada lapangan-lapangan yang telah beroperasi puluhan tahun, maka dalam beberapa tahun ke depan pertumbuhan produksi diharapkan berasal dari pengembangan lapangan lepas pantai yang didukung teknologi fasilitas terapung. Apabila seluruh proyek dapat direalisasikan sesuai jadwal, Indonesia berpeluang memperkuat ketahanan energi nasional sekaligus meningkatkan daya saing sektor hulu migas di tingkat regional.
Reviewed by OG Indonesia
on
Kamis, Juli 23, 2026
Rating:



