![]() |
| Kepala SKK Migas Djoko Siswanto (kiri) menyalami salah seorang pekerja dari proyek EPCI pembangunan FPSO BHL untuk North Hub Development Project. |
Karimun, OG Indonesia -- Ada yang menarik dari acara seremoni first steel cut pembangunan bagian topside dari Floating Production, Storage & Offloading (FPSO) di kawasan pelabuhan Tanjung Balai Karimun, Kabupaten Karimun, Kepulauan Riau, pada Kamis (23/7/2026). Kepala Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) Djoko Siswanto terlihat menyapa para pekerja yang terlibat dalam pengerjaan EPCI dari FPSO yang akan jadi yang terbesar di Asia Tenggara ini.
"Berapa lama kerjanya, shift-shift-an?" tanya Kepala SKK Migas seraya menyalami para pekerja yang dijawab salah seorang pekerja kalau tugas mereka terbagi dalam dua shift pagi dan malam. "Selamat bekerja ya," pesan Djoksis disambut hangat para pekerja.
Kepala SKK Migas bersama Dirjen Migas Kementerian ESDM Laode Sulaiman dan Wakil Gubernur Kepulauan Riau Nyanyang Haris Pratamura, berinisiatif menemui para pekerja pemotong baja, berbincang-bincang dan berdiskusi, serta memberikan semangat kepada para pekerja yang menjadi pahlawan sesungguhnya dalam memproduksi baja untuk project ultra-deepwater ini.
Seperti diketahui, proyek EPCI pembangunan FPSO Bahtera Haluan Lestari (BHL) menjadi tahapan penting dalam pembangunan fasilitas kunci dari proyek laut dalam North Hub Development Project. Proyek gas yang termasuk proyek strategis nasional (PSN) ini bernilai US$11,8 miliar. Proyek ini ditargetkan mampu memproduksi 1.000 MMSCFD gas dan 80.000 BCPD kondensat pada kuartal IV 2028, serta membuka lebih dari 8.000 lapangan kerja bagi masyarakat Indonesia.
Kepala SKK Migas mengatakan produksi North Hub diharapkan menjadi salah satu penopang pencapaian target produksi minyak dan gas bumi nasional pada 2030. Pemerintah menargetkan produksi nasional mencapai 1 juta barel minyak per hari dan 12 miliar kaki kubik gas per hari.
"Kita berharap proyek ini tidak hanya membantu, tetapi menjadi mesin penggerak utama dalam mencapai target produksi nasional di tahun 2030 yang telah ditetapkan Pemerintah, yaitu 1 juta barel minyak per hari dan 12 miliar kaki kubik gas per hari," tegas Djoksis.
North Hub Development Project akan mengintegrasikan pengembangan Lapangan Geng North dan Lapangan Gehem di Cekungan Kutai, lepas pantai di Selat Makassar, Kalimantan Timur. Dari investasinya yang sekitar US$11,8 miliar, sekitar US$2,9 miliar dialokasikan untuk pembangunan FPSO BHL. Pembangunan fasilitas tersebut kini telah memasuki fase konstruksi yang ditandai dengan pemotongan baja pertama bagian topside di Tanjung Balai Karimun.
Djoksis menambahkan, nilai investasi tersebut menunjukkan sektor hulu migas Indonesia masih memiliki daya tarik bagi investor. Keterlibatan industri fabrikasi dalam negeri juga dinilai mencerminkan kemampuan nasional dalam mengerjakan proyek berskala besar dan berteknologi tinggi.
"Pengembangan (North Hub Development Project Selat Makassar) tidak hanya berperan dalam memperkuat ketahanan energi nasional, tetapi juga mendorong pertumbuhan ekonomi, menciptakan lapangan kerja, serta meningkatkan kapasitas industri fabrikasi lepas pantai di dalam negeri. Pengembangan proyek ini juga membuka lebih dari 8.000 lapangan kerja baru bagi masyarakat Indonesia," jelasnya.
Direktur Eni North Ganal Ltd Mirko Araldi mengatakan pihaknya berkomitmen memenuhi target produksi perdana pada 2028. Menurut dia, pencapaian proyek hingga memasuki tahap konstruksi merupakan hasil kerja sama berbagai pihak untuk menghadirkan pasokan energi yang andal bagi Indonesia.
Untuk pekerjaan EPCI topside FPSO BHL ini, Eni North Ganal, perusahaan yang dikendalikan Searah Ltd sebagai entitas hasil penggabungan bisnis antara Eni dan Petronas, memberikan kontrak kepada Saipem lewat anak usahanya, PT Saipem Indonesia yang bermitra dengan PT Tripatra Engineers and Constructors. RH
Reviewed by Ridwan Harahap
on
Jumat, Juli 24, 2026
Rating:



