
Direktur Eksplorasi PHE Asep Samsul Arifin.
Yogyakarta, OG Indonesia -- PT Pertamina Hulu Energi (PHE) sebagai Subholding Upstream Pertamina mendorong percepatan pengembangan natural hydrogen di Indonesia sebagai salah satu sumber energi masa depan untuk mendukung ketahanan dan kemandirian energi nasional. Upaya tersebut diwujudkan melalui Focus Group Discussion (FGD) dan Kick-Off Natural Hydrogen Taskforce yang mempertemukan pemangku kepentingan dari Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Pertamina, perguruan tinggi, BRIN, Lemigas, peneliti, serta berbagai pihak terkait.
Mengusung tema “Accelerating Natural Hydrogen Ecosystem from Scientific Evidence to Energy Security”, kegiatan yang berlangsung selama dua hari, Rabu-Kamis (12-13 Agustus 2026) di Yogyakarta ini menjadi langkah awal untuk membangun ekosistem natural hydrogen nasional yang mencakup penguatan scientific evidence, teknologi, regulasi, kelembagaan, eksplorasi, hingga kesiapan menuju pengembangan komersial.
Direktur Eksplorasi PHE Asep Samsul Arifin mengatakan bahwa PHE bersama Kementerian ESDM, perguruan tinggi, Lemigas, dan sejumlah peneliti telah melakukan studi regional dalam dua tahun terakhir untuk mengidentifikasi indikasi dan potensi natural hydrogen di Indonesia. Sejumlah wilayah, antara lain Ampana di Sulawesi Tengah, menjadi bagian dari kajian tersebut.
Menurut Asep, indikasi keluarnya gas atau api secara alami di sejumlah wilayah Indonesia menjadi fenomena geologi yang menarik untuk dikaji lebih lanjut. Tahap berikutnya adalah memperkuat scientific evidence melalui kegiatan eksplorasi yang terstruktur sehingga potensi sumber daya dapat dihitung secara akurat dan dikembangkan secara bertahap.
“Sebetulnya hidrogen itu bukan sesuatu yang asing bagi kita. Selama ini hidrogen banyak kita kenal dalam bentuk yang terikat dengan karbon menjadi hidrokarbon. Ke depan, kita melihat peluang untuk menemukan akumulasi dan memanfaatkan hidrogen yang terbentuk secara alami di bawah permukaan bumi,” ujar Asep.
Asep menambahkan bahwa percepatan pengembangan natural hydrogen membutuhkan kepastian regulasi dan kerangka kelembagaan yang memungkinkan kegiatan eksplorasi, produksi, pengembangan infrastruktur, hingga pemanfaatan dan pemasaran dapat dilakukan secara terintegrasi.
“Dari scientific evidence, langkah berikutnya adalah bagaimana kita dapat melakukan eksplorasi dan produksi, kemudian masuk ke market. Untuk itu dibutuhkan kerangka regulasi dan perizinan yang jelas karena sumber daya ini merupakan kekayaan negara dan pengelolaannya harus berada dalam kerangka yang ditetapkan oleh negara,” jelas Asep.
Pandangan tersebut sejalan dengan Prof. Stella Christie, Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi, yang dalam Keynote Speech menyampaikan bahwa natural hydrogen memiliki karakteristik yang menjadikannya menarik sebagai sumber energi masa depan. Natural hydrogen tersedia secara alami di bawah permukaan bumi dan berpotensi menjadi sumber energi yang ramah lingkungan serta memiliki keekonomian yang menarik.
Menurut Stella, Indonesia memiliki potensi natural hydrogen yang sangat besar, sementara perkembangan natural hydrogen secara global saat ini sebagian besar masih berada pada tahap riset dan pengembangan. Kondisi tersebut membuka peluang bagi Indonesia untuk tidak hanya mengikuti perkembangan global, tetapi juga menjadi salah satu pionir dalam pengembangan natural hydrogen di dunia.
“Indonesia memiliki peluang yang sangat besar untuk menjadi bagian dari perkembangan awal natural hydrogen secara global. Dengan potensi sumber daya yang kita miliki dan perkembangan ilmu pengetahuan yang terus berjalan, Indonesia memiliki kesempatan untuk membangun kapasitas nasional sejak sekarang,” ujar Stella.
Sejalan dengan peluang tersebut, Komisaris PHE Nanang Untung dalam Keynote Speech menekankan pentingnya Indonesia segera membangun ekosistem pengembangan natural hydrogen secara terarah, mulai dari aspek ilmiah, teknologi, regulasi, hingga operator pengembangan.
Nanang menjelaskan bahwa secara fundamental, natural hydrogen memiliki karakteristik teknis dan core capabilities yang sangat dekat dengan industri minyak dan gas bumi. Kegiatan seperti subsurface evaluation, geological and geophysical studies, resource assessment, drilling, well testing, hingga produksi dan pengelolaan fasilitas merupakan kompetensi yang telah lama berkembang dalam industri hulu migas.
“Kalau kita lihat dari sisi nature dan DNA-nya, natural hydrogen memiliki banyak kesamaan fundamental dengan migas, terutama dari sisi subsurface, eksplorasi, pengeboran, produksi, dan pengelolaan sumber daya. Karena itu, pengalaman dan kapabilitas yang telah dibangun dalam industri hulu migas menjadi modal yang sangat relevan untuk mengembangkan natural hydrogen,” ujar Nanang.
Lebih lanjut, Nanang menyampaikan bahwa perkembangan regulasi di sejumlah negara menunjukkan bahwa natural hydrogen mulai diposisikan dalam kerangka regulasi yang berdekatan dengan sumber daya gas alam dan industri migas, khususnya dalam aspek eksplorasi, perizinan, pengelolaan sumber daya, serta pembangunan infrastruktur.
Dalam konteks Indonesia, Nanang menilai PHE memiliki posisi yang kuat untuk mengambil peran sebagai National Lead Operator dalam pengembangan natural hydrogen, dengan mempertimbangkan pengalaman dan kompetensi teknis PHE dalam pengelolaan sumber daya bawah permukaan serta dukungan ekosistem Pertamina yang mencakup teknologi, engineering, drilling, services, infrastructure, hingga commercialization.
“Indonesia membutuhkan lead operator yang memiliki kemampuan teknis sekaligus ekosistem yang kuat untuk membawa natural hydrogen dari tahap scientific evidence menuju eksplorasi dan pengembangan. Dengan pengalaman PHE di industri hulu migas dan dukungan ekosistem Pertamina, kami melihat PHE memiliki kapabilitas yang sangat relevan untuk mengambil peran tersebut,” jelas Nanang.
Melalui Natural Hydrogen Taskforce, PHE bersama para pemangku kepentingan mendorong terbentuknya langkah konkret untuk mempercepat pengembangan natural hydrogen nasional. Taskforce diharapkan menjadi wadah kolaborasi lintas sektor untuk menyelaraskan agenda riset, pemetaan potensi, pengembangan teknologi, penyusunan regulasi dan tata kelola, serta persiapan kegiatan eksplorasi.
PHE siap mengambil peran sebagai National Lead Operator dalam pengembangan natural hydrogen Indonesia dengan terus memperkuat kapabilitas dan melakukan riset untuk memahami potensi sumber daya, teknologi eksplorasi, serta pengembangannya secara komersial. Langkah tersebut merupakan bagian dari komitmen PHE untuk mempercepat transformasi scientific evidence menjadi sumber energi yang dapat dikembangkan dan dimanfaatkan bagi kepentingan nasional.
PHE meyakini bahwa kolaborasi antara pemerintah, Pertamina, industri, perguruan tinggi, dan lembaga penelitian menjadi kunci untuk mengubah potensi natural hydrogen menjadi sumber energi yang memberikan manfaat nyata bagi ketahanan dan kemandirian energi Indonesia. Dengan membangun ekosistemnya sejak dini, Indonesia memiliki peluang untuk menjadi salah satu pionir pengembangan natural hydrogen dunia sekaligus memanfaatkan sumber daya tersebut untuk mendukung aspirasi ketahanan energi nasional. RH
Reviewed by Ridwan Harahap
on
Jumat, Agustus 14, 2026
Rating:


