Industri Hulu Migas di Tengah Volatilitas Abadi, Manajemen Risiko Jadi Kunci


Jakarta, OG Indonesia -- 
Industri hulu minyak dan gas (migas) global saat ini tengah melewati periode instabilitas struktural, di mana siklus pasar tradisional telah digantikan oleh kondisi "volatilitas abadi", mulai dari adanya ketegangan geopolitik, fluktuasi permintaan global, hingga tekanan kompleks dari transisi energi. Dalam kondisi seperti itu, ruang untuk melakukan kesalahan menyempit secara signifikan. 

"Memang dari lahirnya, industri hulu migas itu penuh risiko. Teknologi tinggi, capital tinggi, dan risiko tinggi," tegas Firera, Vice President Dukungan Bisnis Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) dalam Oil & Gas Talk bertajuk "Transisi Energi yang Disruptif: Mengelola Risiko Aset Minyak dan Gas Bumi di Tengah Volatilitas" pada gelaran IEE (Indonesia Energy & Engineering Series) 2026 di JIExpo Kemayoran, Jakarta, Rabu (9/9/2026).

"Jadi memang, ya suka nggak suka, apabila masuk ke bisnis industri hulu migas, ya itulah yang dihadapi, risiko. Karena bahkan kalau kita bicara subsurface, itu uncertainty," sambungnya.

Firera menguraikan, bahkan dari kondisi geopolitik global belakangan ini, telah terjadi peningkatan biaya untuk kegiatan hulu migas. "Kita ada eskalasi di pembiayaan, sekitar 4 sampai 6 persen," tutur Firera.

Oleh karena itu, perusahaan migas, harus mampu menjaga kontinuitas operasional dan kesehatan finansial, tidak lagi hanya bergantung pada kelimpahan sumber daya, melainkan secara fundamental harus bisa mengandalkan kecanggihan arsitektur manajemen risiko perusahaan.

Sistem manajemen risiko yang kuat menjadi garis pertahanan krusial yang memisahkan keberhasilan strategis dari paparan risiko yang besar. Tanpa kerangka kerja terstruktur untuk mengidentifikasi, mengukur, dan memitigasi ancaman, aset−aset yang ada dapat dengan cepat berubah menjadi liabilitas—rentan terhadap segalanya, mulai dari keruntuhan harga yang tiba−tiba hingga pergeseran regulasi yang tidak terduga serta kegagalan infrastruktur fisik. 

Agung Eka Purnawan, SVP Project Risk Management PT Pertamina (Persero) dalam kesempatan yang sama menyampaikan bahwa Pertamina menyadari pentingnya pengelolaan risiko tersebut. Di mana sejak tahun 2024, Pertamina memiliki Direktur Manajemen Risiko untuk mengelola segala risiko yang akan dihadapi perusahaan. 

"Ada risiko operasional, risiko keuangan, risiko pasar, macam-macam. Jadi secara terstruktur kita coba mengelola segala risiko yang ada di dunia migas ini," kata Agung.

Apalagi di tengah situasi VUCA yang merupakan singkatan dari Volatility (volatilitas), Uncertainty (ketidakpastian), Complexity (kompleksitas), dan Ambiguity (ambiguitas) untuk menggambarkan kondisi dunia atau lingkungan bisnis yang cepat berubah dan sulit diprediksi.

Dengan menerapkan sistem yang ketat dan tepat akan memungkinkan pengurangan paparan risiko secara proaktif, serta memastikan bahwa risiko tidak hanya didokumentasikan tetapi dikelola secara aktif melalui lindung nilai (hedging) yang terukur, diversifikasi portofolio, dan penguatan protokol operasional. 

Acara Oil & Gas Talk dengan tema "Transisi Energi yang Disruptif: Mengelola Risiko Aset Minyak dan Gas Bumi di Tengah Volatilitas" merupakan kegiatan dikusi yang diinisiasi Direktorat Pembinaan Program Minyak dan Gas Bumi, Ditjen Migas, Kementerian ESDM dan Asosiasi Perusahaan Migas Nasional (Aspermigas).

Hadir memberikan welcoming speech, Elan Biantoro selaku Ketua Umum Aspermigas, serta Hendra Gunawan, Direktur Pengembangan Program, Direktorat Jenderal Migas, Kementerian ESDM yang memberikan opening speech.

Adapun beberapa pembicara yang hadir memantik diskusi antara lain Dedi Supriyanto (Koordinator Kerja Sama Minyak dan Gas Bumi, Ditjen Migas, Kementerian ESDM), Firera (Vice President Dukungan Bisnis SKK Migas), Agung Eka Purnawan (SVP Project Risk Management, PT Pertamina (Persero)), Didik Sasono Setyadi (Ketua Umum APHMET & Senior Partner PT Putra Pratama Investama Energi), dan Aldi Ardilo– Executive Director Enterprise Risk Management Academy (ERMA Pte Ltd).

Diskusi yang berlangsung hangat dan dihadiri banyak peserta ini dipandu oleh Moshe Rizal sebagai Managing Partner PT Putra Pratama Investama Energi yang juga Ketua Investasi Aspermigas. RH

Industri Hulu Migas di Tengah Volatilitas Abadi, Manajemen Risiko Jadi Kunci Industri Hulu Migas di Tengah Volatilitas Abadi, Manajemen Risiko Jadi Kunci Reviewed by Ridwan Harahap on Kamis, September 10, 2026 Rating: 5
Diberdayakan oleh Blogger.