![]() |
| Panen perdana padi SRI Organik di Desa Benete, Kecamatan Maluk, pada akhir April 2026. Foto-foto: Dok. AMMAN Mineral. |
Jakarta, OG Indonesia – Bulir-bulir padi nan gemuk menguning emas. Jumlahnya berlimpah di batang padi dalam genggaman banyak orang. Kala itu di penghujung April 2026 kiranya menjadi panen perdana dari padi SRI Organik di Desa Benete, Kecamatan Maluk, Kabupaten Sumbawa Barat (KSB), Nusa Tenggara Barat (NTB). Siapa sangka, tanah Maluk yang sekian lama terkontaminasi obat-obatan dan pupuk kimia kini menjadi subur kembali lewat pertanian organik.
Kecamatan Maluk terletak di sudut barat daya dari Sumbawa, pulau
terbesar di Provinsi NTB. Daerahnya di kelilingi perbukitan, sementara di sisi
timur terbentang Selat Alas yang memisahkan Pulau Sumbawa dan Pulau Lombok. Warga
Maluk memang mengandalkan hidupnya dari pertanian, termasuk menggarap sawah
untuk menghasilkan padi.
Tetapi baru pada Agustus 2025 hadir pertanian organik di Desa
Benete dan Desa Maluk yang berada di Kecamatan Maluk. Di mana PT Amman Mineral
Nusa Tenggara (AMMAN) dan Aliksa Organik menghadirkan Program Pengembangan
Pertanian Organik lewat metode System of Rice Intensification (SRI) Organik dan
Pertanian Sehat, Ramah Lingkungan, dan Berkelanjutan (PSRLB).
Mulanya timbul banyak keraguan dari para petani. Demikian dikisahkan
Hamzah Hasan, Ketua Presidium Pertanian Organik Kecamatan Maluk. “Awalnya
banyak yang menganggap kami main-main karena cara bertani yang kami lakukan
berbeda dari kebiasaan. Namun kami memilih untuk tetap fokus bekerja,” cerita Hamzah,
kepada OG Indonesia, Kamis (3/9/2026).
Seiring waktu, dengan dukungan penuh dari Amman dan para
pendamping pertanian, lahan sawah yang mulai tandus akibat lama dieksploitasi
dan dicemari aneka zat kimia dari penggunaan pupuk kimia dan pestisida, berangsur-angsur
pulih kembali kesuburannya. “Kami bisa menunjukkan bahwa lahan yang tadinya
keras dan kurang subur dapat diubah menjadi gembur. Hasil panen kami pun
melesat secara signifikan,” bangga Hamzah.
Produksi Padi Tembus 10,02 Ton per Hektare
Diketahui, produktivitas sawah dan hasil panen padi fase pertama setelah
program bergulir meningkat mencapai rata-rata 10,02 ton per hektare. Asal tahu
saja, besaran tersebut telah melampaui target awal program yang diperkirakan
hanya 6-8 ton per hektare. Capaian tersebut tentu lebih tinggi ketimbang hasil
dari metode pertanian konvensional sebelumnya yang biasanya hanya menghasilkan sekitar
4-5 ton per hektare.
Hamzah menceritakan kisah Pak Umar. Salah seorang petani di Maluk
yang terbentur produktivitas sawahnya akibat penggunaan pupuk konvensional. “Sampai
tinggal 2,2 ton per hektare, sudah hampir putus asa Pak Umar. Sampai akhirnya
dia tertarik juga ikut pertanian organik, ternyata hasilnya bisa kembali sampai
5,5 ton per hektare,” beber Hamzah.
![]() |
| Hamzah Hasan, Ketua Presidium Pertanian Organik Kecamatan Maluk, menggenggam padi organik yang baru dipanen. |
Dalam musim tanam baru berikutnya, Hamzah menargetkan produktivitas
panen padi organik di Maluk bisa menembus 12 ton per hektare. Dia pun mengungkapkan
bahwa pertanian organik sejatinya baru bisa memberikan hasil panen yang optimal
manakala program telah berjalan selama tiga tahun.
Untuk urusan keunggulan produk pertanian yang dihasilkan, Hamzah
menjelaskan bahwa beras dari pertanian organik Maluk kini kian dicari banyak
orang. “Rasa nasinya enak, ada harum-harumnya dan lama basinya. Makanya banyak
orang suka, ingin beli itu, padahal harganya Rp25 ribu per kilogram beras,”
terangnya. Sebagai perbandingan, beras dari pertanian konvensional harga
jualnya berkisar Rp17 ribu hingga Rp20 ribu per kilogram.
Program PPM Sesuai Kebutuhan dan Potensi Masyarakat
Diterangkan Aji Suryanto, Senior Manager Social Impact AMMAN, dalam
menjalankan Program Pengembangan dan Pemberdayaan Masyarakat (PPM), perusahaan
selalu mengedepankan pendekatan yang berbasis pada kebutuhan dan potensi
masyarakat setempat. Seperti di Maluk, pertanian merupakan salah satu sumber
penghidupan penting bagi masyarakat di Desa Benete dan Desa Maluk, yang menjadi
desa lingkar tambang dari daerah operasi tambang tembaga dan emas AMMAN yang berpusat
di Batu Hijau.
Namun, terdapat kondisi terkini yang menyulitkan para petani. Akibat
praktik budidaya bertahun-tahun yang ketergantungan pada pupuk kimia dan
pestisida sintetis, pertanian di Maluk harus menghadapi sejumlah tantangan.
Mulai dari meningkatnya biaya produksi, kesulitan memperoleh pupuk, menurunnya
kualitas tanah, sementara produktivitas juga belum optimal. “Kondisi tersebut
menjadi salah satu dasar bagi AMMAN untuk menginisiasi program pertanian yang
lebih sehat, ramah lingkungan, dan berkelanjutan,” ucap Aji kepada OG
Indonesia, Rabu (2/9/2026).
Setelah melalui asesmen kondisi petani dan lahan di Desa Benete
dan Desa Maluk, AMMAN bersama Aliksa
Organik mendorong petani untuk memanfaatkan bahan-bahan yang tersedia di
sekitar mereka, seperti jerami, nasi basi, kotoran ternak, hingga tanaman hijau, untuk
menghasilkan kompos dan Mikroorganisme Lokal (MOL) sebagai pengganti pupuk kimia.
![]() |
| Ramuan Mikroorganisme Lokal (MOL) dari nasi basi bisa dimanfaatkan untuk menyuburkan tanah dalam pertanian organik. |
Seperti diceritakan Hamzah, pada mulanya para petani ragu dengan
cara bertani organik ini. Namun keraguan tersebut dijawab AMMAN dengan gencar
melakukan sosialisasi, mengadakan sekolah lapangan, praktik langsung,
pendampingan harian, serta implementasi lahan percontohan agar petani dapat
melihat dan membandingkan hasilnya secara langsung.
Hingga kini,sebanyak 35 petani dari Desa benete dan Desa Maluk telah
terlibat dalam program pertanian organik. Lalu terdapat pengembangan demonstration
plot (demplot) sebagai lahan penyuluhan pertanian organik dengan luas 1,5
hektare di lahan milik 11 petani peserta yang dijadikan arena untuk menempa
keterampilan bertani secara organik. Di samping itu, sudah terdapat tujuh rumah
kompos yang dibangun kelompok tani secara swadaya sebagai sarana pendukung
praktik pertanian organik.
Aji memaparkan, AMMAN berupaya memfasilitasi upaya peningkatan kapasitas
teknis petani, mulai dari asesmen awal, pelatihan ekologi tanah dan pengelolaan
PSRLB, pelatihan serta praktik pembuatan MOL dan pupuk kompos, praktik uji
benih dan teknik budidaya SRI Organik, hingga pemantauan pertumbuhan tanaman
serta evaluasi penerapan metode organik.
AMMAN juga turut menyelenggarakan sekolah lapangan dan
pendampingan teknis pada setiap fase budidaya, melakukan penguatan kelompok dan
kelembagaan petani, serta melakukan persiapan sertifikasi produk organik dan
pengembangan akses pasar.
Tak hanya berhenti pada pelatihan di ruang kelas. Pendamping
lapangan pun turun membantu petani menjalankan setiap tahapan teknis, memantau
perkembangan budidaya, serta mendorong kelompok untuk terus berinovasi. “Dukungan
terhadap penguatan kelembagaan juga diwujudkan melalui pembentukan Presidium
Pertanian Organik Kecamatan Maluk sebagai wadah berbagi pengetahuan dan
memperkuat posisi petani,” ucap Aji.
Potensi Replikasi
AMMAN menargetkan dalam rancangan program selama dua tahun,
pendampingan akan diarahkan untuk menjangkau sebanyak 70 petani dari Desa Benete
dan Desa Maluk serta memperluas pengembangan sampai sekitar enam hektare lahan
pertanian organik. Bahkan tidak menutup kemungkinan terjadi replikasi program
serupa di daerah lain. “Namun, setiap pengembangan atau replikasi tetap perlu
mempertimbangkan kesiapan masyarakat, kondisi lahan, potensi ekonomi, dukungan
pemerintah, dan kesesuaian metode dengan karakteristik wilayah,” tutur Aji.
Pada kegiatan panen perdana April lalu, lanjut Aji, praktik baik
di Benete dan Maluk memang diarahkan menjadi sarana edukasi dan pembelajaran
bagi petani maupun para pemangku kepentingan. Bupati Sumbawa Barat, Amar Nurmansyah,
saat panen perdana lalu telah meminta agar konsep pertanian organik dapat
diperluas ke kawasan lain di Kabupaten Sumbawa Barat sehingga dapat
membangkitkan ekonomi lokal.
Bupati bahkan menyebut Kecamatan Maluk bisa menjadi laboratorium
atau wadah pembelajaran bagi petani dari daerah lain di KSB yang ingin belajar
pertanian organik. “Program ini menjadi contoh keberhasilan dan menjadi tempat
pembelajaran, karena keberhasilan ini butuh proses. Para petani bisa menjadi
duta petani organik Sumbawa Barat. Harapannya bisa diperluas di kawasan lain di
KSB,” ucap Bupati Amar seperti dikutip dari laman resmi AMMAN Mineral, Rabu
(13/5/2026).
![]() |
| Area persawahan di Kecamatan Maluk, Kabupaten Sumbawa Barat, NTB, dengan kontur yang dikelilingi perbukitan. |
Agar kian berkembang di masa mendatang, Hamzah mengatakan pihaknya
tetap membutuhkan dukungan agar pertanian organik yang telah bergulir di Maluk dapat
semakin menghasilkan. Iklim di Maluk yang kering dan sistem persawahan yang
tadah hujan, disampaikan Hamzah kiranya membutuhkan sumur bor untuk pengairan. “Sumur
bor dilengkapi dengan pompa air dengan solar panel supaya tidak perlu pakai BBM,
itu bisa jadi alternatif,” harapnya.
Di samping itu, guna mengoptimalkan produksi kompos sebagai pupuk
organik, para petani memerlukan mesin pencacah untuk mengolah bahan dan sampah
organik. “Kalau pakai parang kan lama, sementara kebutuhan kompos per
hektare bisa sampai 9 ton. Jika ada mesin pencacah itu 1 banding 20 orang tenaganya,”
kata Hamzah seraya menambahkan bahwa pertanian organik di Maluk juga telah
berkontribusi positif dalam menyerap sampah organik seperti sisa sayuran dan
buah-buahan dari pasar setempat.
Isu Global Food Security dan Kesehatan
Menurut Pakar CSR yang juga Dosen Departemen Kesejahateraan Sosial
serta Wakil Dekan Sekolah Vokasi dari Universitas Padjadjaran, Risna Resnawaty,
program Corporate Social Responsibility (CSR) terkait pertanian organik sampai
saat ini masih menjadi pilihan bagi banyak perusahaan karena terkait dengan isu
global seperti food Security dan kesehatan, di samping tentunya dapat membantu
meningkatkan perekonomian para penerima manfaat.
Selain harga jual produk organik menjadi lebih tinggi, terutama
jika perusahaan dapat membina petani bukan hanya saat shifting dari
pupuk kimia ke organik, namun hingga penjualan, maka program ini akan sangat
meningkatkan pendapatan bagi masyarakat. “Satu program Pertanian organik
menjawab empat isu sekaligus yaitu ketersediaan pangan yang mandiri, kemudian
proteksi terhadap lingkungan, dan peningkatan pendapatan, dan promosi tingkat
kesehatan,” papar Risna kepada OG Indonesia, Rabu (2/9/2026).
Risna menguraikan, ukuran keberhasilan suatu program CSR, dalam
hal ini yang terkait dengan pertanian, terdiri dari beberapa kriteria, di antaranya
terjadinya peningkatan produksi yang menandakan keberhasilan peningkatan
ketersediaan pangan dan tentu meningkatkan income. “Yang perlu dipastikan
adalah keberlanjutan program, bagaimana program ini akan terus ‘ada’ meskipun
telah sampai pada tahap exit. Karena tidak sedikit petani yang akhirnya
kembali ke pertanian konvensional,” pesan Risna.
Karena itu, terkait pertanian organik yang didorong AMMAN di Maluk,
Risna menyarankan agar perusahaan menyiapkan ketangguhan dari para petani dalam
keseluruhan proses, mulai dari kegiatan penanaman, pemeliharaan, pengelolaan
panen, kemasan, legalitas produk, pemahaman mengenai pemasaran, pengelolaan
keuangan, dan sebagainya. “Sehingga saat program sudah exit, pertanian
tetap berjalan karena sistemnya sudah mapan,” tegasnya.
Sementara dari sisi petani sendiri juga harus mampu mengembangkan kapasitasnya
dalam bertani, baik secara individu maupun kelembagaan. Sebab biasanya, setelah pengembangan
kapasitas dan pendampingan masuk tahap terminasi atau exit, kerap
terjadi kolaps. “Hal ini dapat diantisipasi dengan follow up sebagai upaya menstabilkan
sistem supaya kapasitas yang sudah dibangun menjadi permanen dan kelembagaan yang
didirikan dapat terus berjalan,” imbuh Risna.
Penguatan Ekosistem Pertanian Organik secara Menyeluruh
Hal tersebut juga diyakini pihak AMMAN. Aji Suryanto mengatakan pengembangan program ke depannya diarahkan tidak hanya pada aspek teknis budidaya, tetapi juga pada penguatan ekosistem pertanian organik secara menyeluruh. “Fokusnya meliputi peningkatan kapasitas teknis petani, perluasan penerapan praktik organik, penguatan kelembagaan, peningkatan kualitas produk, sertifikasi, pengolahan pascapanen, dan pembukaan akses pasar,” lanjut Aji.
Program juga diarahkan untuk menghasilkan beragam komoditas lainnya, seperti beras organik putih, merah dan hitam, serta sayuran organik. Tahapan berikutnya mencakup persiapan sertifikasi organik, sertifikasi PIRT (Pangan Industri Rumah Tangga) dan sertifikasi halal sesuai kebutuhan produk. Tak ketinggalan, pengembangan akses pasar juga dilakukan agar manfaat ekonomi tidak hanya berasal dari peningkatan produktivitas, tetapi juga dari peningkatan nilai jual produk.
![]() |
| Hasil panen padi dari pertanian organik yang lebih banyak dibandingkan cara konvensional sebelumnya diharapkan dapat meningkatkan perekonomian masyarakat Maluk. |
Terkait exit strategy yang mengedepankan keberlanjutan program, Aji menuturkan hal tersebut telah dilakukan sejak awal melalui beberapa pendekatan. Pertama, petani dibekali kemampuan menghasilkan MOL, kompos, dan berbagai kebutuhan budidaya dari sumber daya lokal secara mandiri sehingga ketergantungan pada bantuan maupun input eksternal dapat berkurang.
Kedua, sekolah lapangan dan pendampingan diarahkan agar pengetahuan dapat diterapkan, dibagikan, dan diteruskan oleh para petani. Ketiga, Presidium Pertanian Organik Kecamatan Maluk diperkuat sebagai wadah petani untuk belajar bersama, berorganisasi, serta memperkuat posisi tawar. Keempat, keterlibatan BUMDes dan pengembangan akses pasar diharapkan dapat membentuk rantai ekonomi lokal yang lebih berkelanjutan.
“Dengan pendekatan tersebut, keberhasilan program tidak hanya diukur dari hasil panen dalam satu musim, tetapi dari kemampuan petani untuk melanjutkan praktik organik, mengelola kelembagaannya, memproduksi sarana budidaya secara mandiri, menjaga kualitas produk, serta mengakses pasar setelah intensitas pendampingan perusahaan berkurang,” pungkas Aji.
Seperti kontur geografis Maluk yang dipeluk perbukitan di sekitarnya, begitulah rangkulan AMMAN kepada para petaninya. Namun itu tak bisa terjadi selamanya. Masih ada perairan Selat Alas terbentang luas, bagaikan tantangan pasar yang siap menguji kemandirian petani Maluk. RH
Reviewed by Ridwan Harahap
on
Kamis, September 03, 2026
Rating:

.jpeg)
.jpeg)

.jpeg)
.jpeg)

