Pangkas CO₂ dari 65% Jadi 5%, PEP Jatibarang Field Targetkan Produksi Gas 8 MMSCFD dari Akasia Bagus
Indramayu, OG Indonesia -- Jatibarang Field yang dikelola Pertamina EP (PEP) Zona 7 Regional Jawa Bagian Barat sebagai bagian Subholding Upstream Pertamina terus mendorong optimalisasi produksi minyak dan gas bumi sekaligus meningkatkan pemanfaatan potensi gas yang sebelumnya menghadapi tantangan kandungan karbon dioksida (CO₂) yang tinggi.
Saat ini, produksi minyak dari Jatibarang Field sekitar 11.000 barel per hari (BOPD). Dari jumlah tersebut, sebesar 2.500 BOPD atau sekitar 25%-30% berasal dari Struktur Akasia Bagus dengan Stasiun Pengumpul Akasia Bagus (SP Akasia Bagus/SP ABG) di Jatimunggul, Kecamatan Terisi, Kabupaten Indramayu, Jawa Barat.
Tantangan utama yang dihadapi dari Struktur Akasia Bagus adalah pemanfaatan gas dengan kandungan CO₂ yang sangat tinggi. Di mana kandungan CO₂ mencapai 65%, sehingga membutuhkan proses pengolahan khusus sebelum dapat dimanfaatkan dan dimonetisasi.
Untuk menjawab tantangan tersebut, PEP Jatibarang Field melakukan pengembangan fasilitas pengolahan gas di SP Akasia Bagus. Di mana untuk Stage 1, fasilitas penampung gas di SP Akasia Bagus dipasang teknologi CO₂ Removal Package dengan sistem amine (MDEA), Gas Dehydration Unit (DHU) atau Unit Dehidrasi, dan Thermal Oxidation (TOX). Teknologi ini berguna untuk menurunkan kadar karbon dioksida (CO₂), hidrogen sulfida (H₂S), serta air pada gas sehingga kualitas gas yang ada dapat memenuhi spesifikasi Perjanjian Jual Beli Gas (PJBG) yang berlaku.
Teknologi yang digunakan pada prinsipnya memanfaatkan proses sirkulasi amine untuk memisahkan kandungan CO₂ dari gas. Yang menjadi perhatian utama, fasilitas tersebut dirancang untuk menurunkan kandungan CO₂ dari sekitar 65% menjadi hanya 5%. Dengan proses tersebut, gas yang sebelumnya sulit dimanfaatkan dapat diolah menjadi gas yang memenuhi spesifikasi untuk kemudian dijual kepada konsumen.
"65% CO₂ content di SP ABG ini merupakan plant pertama di dunia mungkin yang bisa memproses kandungan CO₂ menjadi 5%," ujar Dendy Gradienda, Supervisor Onshore SP ABG Jatibarang Field kepada awak media termasuk OG Indonesia kala berkunjung ke SP ABG, Selasa (22/9/2026).
Di Indonesia, fasilitas dari SP ABG tersebut disebut menjadi salah satu proyek percontohan dalam pengolahan gas dengan kandungan CO₂ sangat tinggi. Keberhasilan teknologi ini juga membuka peluang replikasi di wilayah lain yang memiliki karakteristik gas serupa, seperti di Natuna.
"Ini merupakan pilot project percontohan supaya di Indonesia juga, ketahanan energi tetap berlanjut," kata Dendy.
Dari sisi komersial, gas hasil pemurnian dari SP ABG juga telah mendapatkan nilai ekonomi yang signifikan. Dalam event IPA Convex 2026 lalu, telah disepakati PJBG antara Pertamina EP dan PT Cikarang Listrindo untuk pasokan gas bagi Pembangkit Listrik Tenaga Gas dan Uap (PLTGU) di kawasan industri Jababeka dan MM2100, Cikarang. Disebut harga gas yang dimurnikan dari SP ABG tersebut memiliki harga jual tertinggi kepada konsumen, yaitu sebesar US$9 per MMBTU.
Terkait target produksi gas, Dendy menerangkan SP ABG akan segera menjalankan dua train hingga kapasitas penuh sebesar 22 MMSCFD gross. Dari kapasitas tersebut, setelah melalui proses pengolahan, produksi gas yang ditargetkan untuk dapat dimanfaatkan secara net sekitar 8 MMSCFD.
Saat ini, produksi net gas dari SP ABG masih berada di kisaran 3,3-3,5 MMSCFD, dengan produksi gross sekitar 10-11 MMSCFD.
Peningkatan kapasitas tersebut akan dilakukan setelah penyelesaian dan pelaksanaan rekomendasi terkait TOX.
"Target itu ketika nanti dari TOX atau thermal oxidizer-nya sudah selesai, rekomendasinya sudah dijalankan, running TOX. Nah kita akan mencoba running full capacity di 22 MMSCFD. Insya Allah info yang saya dapat itu di akhir tahun atau awal tahun kita bisa commissioning dan start up dua train tadi," pungkas Dendy. RH
Reviewed by Ridwan Harahap
on
Selasa, September 22, 2026
Rating:




