![]() |
| Suradi, Ketua Kelompok Tani Gunda Rejeki. Foto: Ridwan Harahap |
Indramayu, OG Indonesia — Upaya memperkuat ketahanan energi berjalan beriringan dengan ketahanan pangan di sekitar wilayah operasi hulu migas Pertamina. Salah satunya melalui program pemberdayaan masyarakat di Desa Jatisura, Kecamatan Cikedung, Kabupaten Indramayu, Jawa Barat.
Di desa tersebut, PT Pertamina EP (PEP) Zona 7 Jatibarang Field Pertamina mendorong peningkatan produktivitas lahan pertanian yang sebelumnya bergantung pada curah hujan dan hanya mampu menghasilkan satu kali panen dalam setahun lewat program Kerja Tani Berdikari dan Tahan Pangan (JARI TANGAN).
Ketua Kelompok Tani Gunda Rejeki dari Desa Jatisura, Suradi, mengatakan dukungan PEP Zona 7 telah membantu petani mengatasi sejumlah kendala, terutama terkait ketersediaan air dan kondisi lahan.
“Yang pertama, seperti yang bisa dilihat, ada sumur bor atau sumur dalam. Kemudian juga infrastruktur. Ada jalan tani yang bisa dilalui roda dua, kemudian juga ada yang bisa dilalui roda empat,” ujar Suradi, Ketua Kelompok Tani Gunda Rejeki kepada OG Indonesia, Rabu (23/9/2026).
Selain itu, PEP Zona 7 turut mendukung perbaikan jaringan irigasi sepanjang sekitar 1.700 meter. Dukungan lainnya berupa pelatihan pertanian dengan memanfaatkan agen hayati.
Menurut Suradi, pemanfaatan agen hayati menjadi salah satu hal yang penting bagi petani karena dinilai dapat membantu menjaga kesuburan tanah sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap pupuk kimia.
“Ketika memakai pupuk organik, biayanya juga bisa ditekan. Dan ketika ketergantungan terhadap pupuk kimia menurun, otomatis biaya kita untuk menggarap sawah itu menurun juga,” katanya.
Dari Sawah Tadah Hujan
Suradi menjelaskan, sebelum mendapat dukungan tersebut, petani di Jatisura menghadapi keterbatasan karena sebagian lahan merupakan sawah tadah hujan. Ketika curah hujan berkurang, petani harus mengeluarkan biaya tambahan agar tanaman tetap mendapatkan pasokan air.
Dengan adanya dukungan infrastruktur pengairan dari PEP Zona 7, tingkat keberhasilan panen pada musim tanam kedua disebut meningkat.
“Kalau sebelumnya paling 60–70 persen, sekarang setelah adanya ini bisa 80–90 persen,” ujar Suradi.
Ia mengatakan peningkatan produktivitas juga mulai terlihat dari hasil panen. Jika sebelumnya produksi satu hektare berada di kisaran tujuh ton, hasilnya kini berpotensi meningkat menjadi sekitar delapan ton.
Namun, Suradi belum dapat menyebutkan secara pasti besaran penghematan biaya dalam rupiah karena perhitungan ekonomi petani biasanya dilakukan setelah panen.
Perubahan tersebut juga mulai menarik minat petani lain untuk mengikuti pola budidaya yang diperkenalkan melalui program tersebut.
“Ketika kita sudah mencoba, justru enak. Kita lebih ringan, biaya lebih ringan, kita juga bekerja lebih ringan lagi, karena tidak terlalu banyak penyakit,” katanya.
Menurut dia, penggunaan agen hayati juga membantu mengurangi biaya pengendalian hama. Sebelumnya, penggunaan insektisida secara berulang dinilai membuat hama kembali muncul sehingga petani harus mengeluarkan biaya tambahan.
Pulihkan Kondisi Tanah
Dari sisi Pertamina, program pertanian di Jatisura tidak hanya diarahkan pada peningkatan produksi, tetapi juga pada perbaikan kondisi tanah dan keberlanjutan pertanian.
Noor Taufiq, Officer Communication Relation & CID PT Pertamina EP Zona 7 mengatakan pemilihan sektor pertanian tidak terlepas dari kondisi wilayah operasi Pertamina yang banyak bersinggungan langsung dengan lahan pertanian masyarakat.
“Sebenarnya kami punya visi untuk tumbuh dan berkembang bersama-sama. Salah satu masyarakat yang berada di wilayah operasi kami, khususnya di Jatibarang Field, 90 persennya bersinggungan dengan lahan pertanian,” kata Taufiq.
Menurut dia, kondisi tersebut menjadi perhatian perusahaan untuk membangun sinergi antara ketahanan energi dan ketahanan pangan.
Wilayah operasi yang meliputi pipa, sumur hingga fasilitas operasi berada berdekatan dengan area pertanian. Karena itu, PEP Zona 7 ingin petani di sekitar wilayah kerja memiliki ketahanan ekonomi melalui peningkatan produktivitas pertanian.
Program tersebut juga berkaitan dengan kewajiban penyediaan lahan pengganti dalam proses alih fungsi Lahan Pertanian Pangan Berkelanjutan (LP2B).
Noor menjelaskan, salah satu lokasi lahan pengganti yang ditetapkan melalui kajian bersama Universitas Padjadjaran dan Pemerintah Kabupaten Indramayu berada di Desa Jatisura.
Persoalannya, lahan tersebut pada awalnya memiliki produktivitas yang relatif rendah dan hanya dapat ditanami satu kali dalam setahun.
“Di sisi lain, ada beberapa kendala seperti pengairan dan saluran irigasi, serta jalan usaha tani yang terbatas. Kami melihat bahwa dengan adanya dukungan dari Pertamina, harapan kami masyarakat bisa meningkat produktivitasnya dari satu kali panen menjadi dua kali panen dalam satu tahun,” jelasnya.
Berbasis Kondisi Tanah
Sebelum memberikan intervensi, Pertamina lewat PEP Zona 7 bersama kelompok tani, Dinas Pertanian dan UPTD Balai Penyuluh Pertanian terlebih dahulu melakukan diskusi untuk mengidentifikasi persoalan yang dihadapi petani.
Salah satu langkah awal adalah mengambil sampel tanah untuk mengetahui kandungan unsur hara.
Hasil pemeriksaan laboratorium Universitas Padjadjaran kemudian digunakan untuk menentukan intervensi, termasuk proporsi pemupukan sesuai dengan kondisi tanah.
“Dari sampel tanah itu bisa ditentukan intervensi apa yang dapat dilakukan petani. Bagaimana kandungan pupuk bisa dibuat secara proporsional, sehingga saling mengisi kekurangan unsur hara di dalam tanah,” kata Taufiq.
Selain pengolahan tanah, Pertamina juga memperkenalkan PGPR (Plant Growth Promoting Rhizobacteria) atau agen hayati. Penggunaan agen hayati dilakukan sejak tanaman masih muda dengan harapan membantu tanaman tumbuh lebih kuat dan tahan terhadap hama serta penyakit.
Hasilnya, rata-rata produksi yang sebelumnya didampingi berada di sekitar 6,5 ton. Dalam perkembangan berikutnya, produksi Gabah Kering Panen (GKP) kelompok tani disebut mencapai 8,5 hingga 11 ton.
Dari sisi pengairan, Pertamina menyediakan sumur bor beserta reservoir dan rumah pompa. Terdapat lima titik sumur bor di lokasi tersebut, dengan setiap sumur diperkirakan dapat mengairi sekitar 10–15 hektare sawah.
Pengendalian Hama hingga Rumah Burung Hantu
Pendekatan pertanian yang dikembangkan juga mencakup pengendalian hama secara lebih alami.
PEP Zona 7 menyediakan rumah burung hantu untuk membantu mengendalikan populasi tikus yang sebelumnya merusak tanaman padi.
Selain itu, penggunaan agen hayati diperkenalkan untuk membantu menghadapi hama dan penyakit tanaman. Penerapannya dilakukan secara bertahap melalui lahan percontohan seluas satu hektare.
Setelah hasil percontohan terlihat, program kemudian diperluas. Pada musim tanam kedua, tercatat sekitar 60 petani telah mengikuti pelatihan.
Saat ini terdapat enam kelompok tani di Desa Jatisura dengan total lahan garapan sekitar 114 hektare.
Program tersebut telah berjalan sejak 2025 dan kini memasuki musim tanam kedua. Pertamina berharap pengetahuan dan praktik pertanian yang diperkenalkan dapat diteruskan oleh masyarakat secara mandiri.
Taufiq menegaskan, program tersebut belum dapat disebut sebagai pertanian organik sepenuhnya karena masih terdapat penggunaan pupuk. Namun, penggunaan pupuk dilakukan secara proporsional berdasarkan kondisi unsur hara tanah.
“Pertanian sehat, beras sehat. Kita belum bisa menyebut full organik karena memang masih ada penggunaan pupuk, tetapi secara proporsional yang jumlahnya disesuaikan dengan unsur hara yang ada di tanah,” ujarnya.
Sementara itu, Suradi berharap dukungan tersebut dapat terus berlanjut sehingga manfaatnya tidak berhenti pada peningkatan produksi padi.
“Mungkin saat ini fokus kita masih di tanaman padi. Kalau masih ada dukungan, setelah tanam padi ini, ketika ada jeda musim kemarau, kita bisa menanam apa lagi. Ini yang kita inginkan, berkelanjutan,” pungkas Suradi. RH
Reviewed by Ridwan Harahap
on
Kamis, September 24, 2026
Rating:




